Balada Buku Bekas

Sore itu hujan membasahi kota Jakarta, suasana kota yang pengap dan berdebu sedikit berubah kala hujan turun, sedikit memberikan kesegaran. Meski dalam cuaca apapun, panas atau hujan, ada satu pemandangan yang tidak asing. Apa itu? Kemacetan…mendengar kata macet di kota ini memang lumrah, seperti tidak ada habisnya. Solusi-solusi yang ada macam 3in1, apa ada yang berubah??i don’t know, tetap saja macet. Jam masuk sekolah yang dimajukan???is there any progress? Saya pikir sama saja. Ada lagi satu alternatif, yakni naik angkutan umum, salah satunya Bus Transjakarta atau familiar disebut Busway. And we hope so much on it.

Sore itu saya dan teman saya baru saja hunting buku-buku pelajaran bekas di sekitar Terminal Senen, Jakarta Pusat. Maklum sudah kelas XII, harus banyak persiapan menjelang UN. Lagipula sayang kalau harus beli buku baru di Gr*med*a atau K*risma, harganya bisa 2x lipat lebih mahal dari harga yang ada di sentra buku bekas ini. Mungkin orang indonesia punya pepatah yang berbeda tentang buku, “Don’t judge a book from its cover, but from its price”.hahaha, sangat realistis sekali.

Lelah berputar-putar mencari buku, akhirnya kami selesai hunting dari sentra buku bekas ini. Ada fakta yang unik disini, rata-rata pedagang buku disini adalah orang Batak (Pantas waktu tawar-menawar, suasana Sumatera Utara kental sekali disini, musik khas danau Toba banyak diputar). Ketika pulang kami memilih naik Busway,(katanya) lebih ekonomis. Rumah kami ada berada di Bogor, jadi ini akan jadi perjalanan yang lama dan membosankan. Kami naik dari Halte Central Senen menuju arah Kp. Melayu, walaupun saat itu weekend tetap saja terasa penuh sesak. Ada yang menarik ketika “masa-masa penantian” datangnya bus, di sebelah saya ada seorang bapak yang ikut antri “menanti” kedatangan bus. Setelah kurang lebih menunggu 10 menit, datanglah bus yang dinanti.
Puluhan orang berlomba menaiki bus, tak peduli orang di sekitarnya (mudah-mudahan tidak kecopetan. Amin!). Saya, teman saya dan juga bapak tadi berusaha merangsek masuk, tapi apa daya, bus sudah penuh. Petugas yang berjag pun mengatakan kalau BUS sudah penuh, lalu tiba-tiba, ”Goblok amat sih!!”, suara apa itu?? Ternyata itu suara bapak yang di sebelah saya, dia kesal hingga menumpahkannya kekesalannya dalam kalimat seperti yang disebutkan tadi. Saya pun hanya bisa heran dan sedikit memaklumi. Setelah menanti lagi kurang lebih 2 menit, datanglah bus kedua, yang ternyata oh ternyata, tak dinyana, tak terduga, bus yang kosong melompong, apalagi bus ini merupakan tipe bus gandeng, jadi semakin banyak kursi yang kosong. Bapak yang di sebelah saya lalu bilang “Wah…ternyata kosong”.
Setelah dapat tempat duduk, saya hanya dapat tersenyum simpul dan sedikit mengambil hikmah dari bapak tadi. Kesabaran memang pahit di awal tapi akan menjadi manis sesudahnya. Andai bapak tadi lebih bersabar, dia tak perlu mengeluarkan ucapan sia-sia seperti tadi. Ternyata anywhere, anytime, anyone dapat menjadi suatu hikmah bagi kita seperti bapak tadi. Perjalanan pun berlanjut, hingga kami pulang ke rumah masing-masing.
Iklan

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s