Bingung Yang Membingungkan (part.1)

 
Akhirnya sekian lama off blogging karena sibuk dengan dunia nyata yang makin tak karuan. Ujian Nasional, Ujian Sekolah dan Ujian Praktek semua sudah lapan anam (86) alias beres, senang memang bisa bebas, bisa liburan dan tentunya bisa kembali nulis blog lagi. Tapi di balik selesainya urusan-urusan tadi, ada hal yang membuat saya bingung, dari dalam diri saya timbul pertanyaan, dalam bahasa inggris mungkin bunyinya seperti ”bade naon saparantos sakola?” kurang lebih berarti, ”mau melakukan apa setelah lulus sekolah?”. Hingga detik ini, saya masih diliputi rasa bingung itu, apa saya hendak kuliah saja? Memang ada minat untuk kuliah, tapi muncul masalah (klasik) yaitu finansial, bagaimana pembiayaannya, orang tua saya sudah pensiun dan biaya hidup di rumah juga jadi sesuatu yang bisa dibilang kompleks, selain itu ada faktor lain, kalaupun kuliah, fakultas atau jurusan apa yang saya ambil? Kimia? Hell no, meski saya sekolah jurusan kimia, diri saya dengan keras memberontak seperti pejuang kemerdekaan bahwa kimia bukan jalan saya! Saya juga mengakui, saya memang agak sedikit punya kekurangan dalam bidang eksak walaupun mitos yang beredar dari teman-teman bahwa saya adalah siswa yang berotak cemerlang, tapi saya merasa tidak.Hmmm…kontradiktif memang, entahlah, bukan sesuatu yang penting untuk diungkit-ungkit. Kembali ke permasalahan, hingga detik ini, saya masih bingung mau mengambil jurusan apa nanti dan masalah tidak selesai sampai di situ, Universitas mana yang hendak melapangkan dirinya untuk memberikan Nomor Induk Mahasiswa pada saya? Universitas negeri? Good idea, tapi seleksi masuknya itu, bukanlah sesuatu yang  mudah untuk ditembus. Jika saya pilih Universitas swasta, permasalahan kembali pada masalah inti yang klasik, fulus.
Lalu ada opsi lain (yang pasti bukan opsi C Pansus Century ya!), Bekerja!….fuhh, bekerja secara teoritis memang sesuatu yang asik kalau dibayangkan, datang pagi – kerja – pulang sore. Tapi (sudah berapa kali saya tulis ”tapi”?) dapat pekerjaan (lagi-lagi) bukan hal mudah, lulusan SMK seperti saya bisa dapat posisi apa? Buruh? Ya, buruh memang bukan pekerjaan yang buruk, tapi ini buruk buat saya yang berfisik kurang (fisik saya ga masuk kriteria SNI). Bagaimana ini? Bekerja pun rasanya begitu melelahkan, itu pengalaman yang saya dapat waktu magang. Lagi dan lagi saya menderita sindrom bingung berkelanjutan.
Next, opsi C alias ketiga, Berwirausaha Hmmm…apa ini? Memangnya saya bisa apa? Keahlian apa yang mau saya pertunjukkan ke masyarakat? Pertanyaan yang cenderung retoris inilah yang menghalangi saya untuk memahami lebih jauh untuk berwirausaha. Dalam benak saya wirausaha itu sekedar dagang dan dagang, nothing special. Tapi jauh di lubuk hati saya yang paling luar berkata, industri kreatif punya prospek cerah belakangan ini dan saya lihat di berbagai media, pelaku industri ini cukup berhasil (apa media hanya menampilkan yang sukses saja ya?).OK. Wirausaha sepertinya layak dicoba, tapi dan tapi, what can i do for this option? I have no skill (yet).
Dari ketiga opsi diatas, saya tidak bisa menarik kesimpulan apa2, karena ya itu, saya bingung, tapi saya yakin kata2 Bang Napi ”there’s a will, there’s a way”. Saya yakin Allah SWT akan memberikan jalan selagi hambanya berdoa dan berikhtiar. (Bersambung).
Iklan

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s