Menunggu [tidak] Selalu Membosankan

Sebenernya peristiwa ini udah cukup lama, yaitu tangal 22 desember 2008…(long time ago). Tua banget buat diceritain tapi gapapa lah, sedikit berbagi pengalaman, mudah-mudahan bermanfaat.

Capcus deh..emang peristiwa apa sih?

Dalam berkendara, memang harus punya persyaratan, seperti bisa berkendara (yaiyalah) serta sebagai WNI yang baik harus punya SIM (Surat Ijin Mengemudi). Disini saya akan sedikit menceritakan kronologis pembuatan SIM C yang saya alami. (Pembuatannya pure dan tidak ada “tembak-menembak”).

Saya dan juga teman saya, sebut saja namanya Anggi, sebenarnya ingin bikin SIM C bukan pada tanggal itu (22-12-2008) tapi beberapa hari sebelumnya dan berhubung kita gak tau berkas-berkas apa aja yang mesti dibawa, jadi pada saat itu kita cuma tanya-tanya aja sama petugas yang jaga di SPK (Sentra Pelayanan Kepolisian) Polres Bogor.
Pas hari-H (22-12-08), kami datang sekitar pukul 07.00 WIB dengan menumpang motor Anggi. Udah lumayan rame ternyata, kami lalu bergegas ke loket pendaftaran, ambil map pendaftaran dan ternyata oh ternyata kita mesti bikin surat keterangan kesehatan dulu dan kami bikin surat kesehatan di Klinik yang ada di kompleks Polres Bogor dan setelah menunggu, menunggu dan menunggu dipanggilah kami….taraaa…akhirnya jadi juga surat itu dengan tarif Rp.15.000 (ga tau deh tarif sekarang).
Antrian loket makin banyak….
Berkas-berkas pun kami lampirkan di map pendaftaran (FYI, berkas yang dilampirkan adalah fotokopi Kartu Keluarga karena kami belum punya KTP dan juga surat kesehatan tadi). Kami taruh mapnya di tempatnya dan menunggu lagi.
Ya menunggu…
Lumayan lama juga sih..
Akhirnya nama kami di panggil untuk tes tertulis, setelah masuk, kami menunggu lagi karena sesi kami dimulai setelah sesi yang saat itu sedang mengerjakan tes berakhir.
Akhirnya giliran kami tiba, dibagilah soal ujiannya terdiri dari 30 soal pilihan ganda. Materinya seputar masalah lalu lintas dan dengan modal do’a serta nekat karena kami gak pernah secara teoritis mempelajari materi lalu lintas. Kami kumpulkan jawaban kami….
Menunggu lagi…
Alhamdulillah, nama kami dipanggil, it means, kami lolos ujian tertulis, kami diberi bukti hasil ujian, saya lihat jawaban saya ternyata betul 21 soal dan Anggi 18 soal (bukan bermaksud sombong.hehe). Kami bergegas ke arena tes berkendara dan menyerahkan berkas tadi ke petugas disitu.
Menunggu lagi…
Sambil menunggu, saya lihat peserta yang jatuh bangun, bersusah payah dan berguguran (lebay.com). Sempat kami merasa down, tapi kami tepis perasaan itu jauh-jauh. Giliran saya datang, saya (saat itu) mesti memilih diantara 2 motor yakni Yamaha Mio atau Yamaha Scorpio. Kalau untuk Mio, jika sekali tes gagal, maka pupus sudah untuk bikin SIM saat itu dan bisa mengulang lagi 14 hari kemudian. Kalau untuk Scorpio, kesempatannya 3 kali.
Saya pilih Yamaha Mio karena saya gak bisa motor kopling dan gak punya pengalaman bawa motor tangki depan.hehe
Setelah diberi pengarahan singkat tentang tesnya, saya pun diberi helm.
Bismillahirrahmaanirrahiim!
Rintangan pertama, mengendarai zig-zag diantara tongkat yang berjarak kurang lebih 1m, tongkatnya kurang lebih ada 8-10 (lupa.hehe)
Alhamdulillah, berhasil!
Next, mengelilingi angka 8 yang di cat di arena tes. Lingkaran masing-masing berdiameter 2 meter, saya mesti masuk lewat tengah lingkaran lalu mengitari lingkaran satu dan berlanjut ke lingkaran kedua, sebagai tambahan, sepanjang garis lingkaran diberi pembatas/cone (yang kaya connelo itu loh), sempit banget bro, cuma selebar motor aja, disini mesti ditunjukkan kelihaian kita dan kaki gak boleh turun. Cadas mamen…
Bismillah,
Dengan speed pelan, saya kitari lingkaran satu, jantung saya berdetak mirip dobel pedal Avenged Sevenfold (apasih…). Nervous berat,
Berhasil!
Lingkaran kedua….
Alhamdulillah, berhasil!
Horee…Ingin rasanya saya melakukan selebrasi layaknya Valentino Rossi atau Jorge Lorenzo dengan mengangkat ban depan tapi gak bisa dan gak mungkin.hehehe…
Saya pinggirkan motor dan petugasnya bilang, “Saudara Ardi, selamat! Silahkan bahwa berkasnya ke bagian pembayaran”. Saya diberi berkas yang distempel lulus, langsung saya bergegas ke bagian pembayaran, saya lihat Anggi belum mendapat gilirannya.
Di bagian pembayaran, saya diberi formulir untuk diisi dan saya bayar biayanya sebesar Rp.75.000 dan saya pun diberi resi serta berkas untuk diserahkan ke bagian pencetakan dan pemotretan. Setelah memberikan ke bagian pencetakan SIM, saya lagi-lagi menunggu.
Dan menunggu…
Saya gunakan saat menunggu ini untuk melihat Anggi, apakah dia lulus ujian berkendara. Saya tanya pada orang yang kebetulan saya dan Anggi kenal ketika menunggu untuk tes berkendara. Dia tes setelah saya dan dia juga lulus. Saya bertanya, “Teman saya bagaimana, mas?” “Dia gagal” jawabnya. Wah, sayang sekali,good luck next, dude. Saya kirim SMS ke Anggi supaya pulang duluan. Dan saya melanjutkan menunggu.
Jam menunjukkan kurang lebih pukul 14.00 WIB.
Akhirnya, saya dipanggil untuk pemotretan, sebelumnya saya harus buat tanda tangan dulu untuk di cetak ke SIM, setelah pemotretan, guess what?
Menunggu…
Akhirnya SIM C saya jadi, Alhamdulillah. Meskipun saya sedikit kecewa karena ada kesalahan data, yang mestinya saya bertinggi badan 176 cm malah ditulis 166cm dan status saya bukan pelajar tetapi swasta. Yah, gapapa lah. Saya pun pulang dengan mass transportation alias angkot. Saya pulang dengan keadaan sumringah dan tidak henti-hentinya bersyukur pada Allah yang telah memudahkan segalanya.
Overall, menunggu tidak selamanya membosankan.
Iklan

3 pemikiran pada “Menunggu [tidak] Selalu Membosankan

  1. Tesnya di mana Mas? Kota ? Hebat mas bisa lulus, padahal kalo dulu tes prakteknya sulit banget. temen saya aja yang sudah biasa naik motor tiap hari dan bisa dikatakan jagolah soalnya suka ngebut aja gagal bahkan sampai 3 kali datang. Tapi memang seneng banget ya mas ketika kita berhasil lulus tes terakhir. Perasaannya gimana gitu. emang untuk kota bogor tesnya cuma 2 rintangan aja zigzag dan angka 8 aja. kalo kabupaten 3 rintangan, tapi rintangan pertama tidak sulit hanya melintasi garis lurus aja, bonuslah itu mah. Oh ya mas, temen mas gimana selanjutnya dia berhasil gak akhrinya?

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s