Mesin Giling Pak Haji

Sosoknya sudah tidak muda lagi, sangat bersahaja. Di rumahnya ia menyediakan jasa penggilingan beras dan kelapa. Kepada beliau lah saya menggunakan jasa penggilingannya (tepatnya sih ibu saya, karena saya cuma nganterin aja.hehe)

Ibu saya emang suka membuat kue, untuk dijual pastinya dan salah satu bahan baku yang digunakan adalah tepung beras. Tumben sekali pada waktu itu, Ibu saya gak pake tepung yang udah jadi, walhasil saya diminta untuk mengantar menggiling beras ke Pak Haji tersebut. Jarak dari rumah saya ke TKP kurang lebih 3-4 km, saya antar Ibu pake motor.

Singkat cerita, sampailah kami. Ibu saya waktu itu bawa 2 liter beras buat digiling, Pak Haji mengiyakan, dinyalakan lah itu mesin giling, yang menyalakannya mirip Genset, gulung talinya, tarik sekencangnya. Horee, mesin nyala, show time! Digiling lah itu beras, agak lama juga sih kalo dibanding sama giling kelapa, suaranya yang gak jauh beda sama Genset, lama-lama terdengar membosankan.

Kurang lebih 10 menit, selesailah prosesi penggilingan, dengan tarif Rp. 1500/liter beras, (setara gak ya sama bensin yg dikeluarin selama 10 menit itu,hmmm). Selesai di tempat Pak Haji, kami bergegas pulang.Brrrmmm….

Sampai di rumah, saya dan Ibu kembali pada kesibukan masing-masing (kalo saya sih tepatnya kemalasan), karena saya gak ada kerjaan, saya cuma duduk-duduk aja depan rumah, menikmati segarnya udara sore.Aaaaaahhhhh.

Gak berapa lama, ada sosok yang gak asing, siapa ya? setelah loading bentar, saya sadar itu Pak Haji, yang baru saja menyediakan jasa untuk menggiling, ah, mungkin mau kemana gitu. Persisnya dia pake motor, berjalan pelan dan dia juga melihat saya, tapi saya kaget ketika Pak Haji mengarahkan haluan motornya ke rumah saya setelah melihat saya.

Dia bilang, “Assalamu’alaikum, Eh, ini yang tadi giling ya?”.

Saya dengan sedikit kaget plus bingung menjawab : “Wa’alaikumussalam, iya Pak, ada apa?”.

Dia menambahkan, “Ibu ada? Tadi hasil gilingannya ternyata masih ada, belum dimasukin semua ke plastik”.

Tak lama Ibu saya menghampiri, Pak haji bilang sambil menyodorkan sebuah plastik,

“Bu, ini tadi masih ada sisa di mesinnya, karena berasnya basah, ada sebagian yang nempel di mesin”

Ibu saya menerimanya, sambil berkata, “Wah, Pak Haji, makasih ya”.ย 

Pak haji pun pamit.

Ah, saya salah men-judge dunia ini sudah terlalu rusak, cuma memandang yang tampak, cuma memandang segala hal negatif, padahal masih ada kebaikan sekalipun ditutupi keburukan yang mayoritas. Berlian yang terbenam di lumpur, tetaplah berlian. Pak haji ini, Subhanallah, meski sisa beras tadi gak seberapa (gak nyampe satu plastik kecil) tapi dengan penuh tanggung jawab, mengembalikan yang dia sadar bukan haknya. Begitulah sejatinya manusia, sadar akan tanggung jawab, bisa membedakan yang haq dan yang bathil, tapi kenapa banyak yang lalai. Semoga kita semua masih diterangi hidayah-Nya. Sore itu, mungkin Allah sudah berkehendak saya ada di luar rumah sehingga Pak Haji bisa tau di mana rumah saya, coba kalo saya gak keluar? Wallahu’alam

Iklan

3 pemikiran pada “Mesin Giling Pak Haji

  1. meskipun hidup sudah dipenuhi orang-orang egoistik, selalu ada oase dan kita harus bisa pula menjadi oase itu ๐Ÿ™‚
    nice posting ๐Ÿ™‚
    main blogku lagi yaaaaa

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s