Selamat Pagi

sumber gambar
 Segelas kopi susu hangat di pagi hari berduet dengan bubur kacang ijo, hmmm…mantap. Cuaca cerah, kicauan burung sesekali menelusup di rimbun dedaunan. Kehidupan sudah mulai bangun pagi itu, para ibu sudah mulai menjemur cuciannya dan para bapak sudah mulai berpamitan hendak berangkat kerja dengan ibu yang menjemur. Dan tak lupa, anak-anak mereka dengan semangat kemalasannya juga berangkat menuntut ilmu.
Berita di televisi nampak membosankan, selalu meliput hal yang sama, kasus mafia pajak yang alurnya mirip dengan telenovela ataupun sinetron kacangan, di samping itu, berita tentang bencana tak mau kalah menghiasi layar kaca, bencana memang akrab dengan negeri ini, tapi negeri ini seakan mengacuhkan bencana itu dan walhasil ketika bencana datang, negeri ini seolah kedatangan tamu tak diundang.
Di sebuah kamar berukuran kecil tak lebih dari 4×3 meter, nampak seseorang sedang duduk membelakangi jendela menghalangi sinar matahari pagi. Matanya fokus kepada sebuah notebook usang, nampak jari-jarinya bergeliat menari di atas keyboard. Sesekali dia dengan jeli menatap huruf demi huruf yang diketiknya, apakah ada yang tidak sesuai dengan isi hatinya ataupun isi hatinya tidak sempurna diterjemahkan jari-jarinya.
Di sela tarian jarinya, segelas kopi susu yang mulai dingin dia teguk perlahan, merasakan kafein yang sebenarnya tidak terlalu bagus jika berlebihan. Sampai tegukan terakhir, dia nampak kecewa, hanya ampas yang tersisa, tak ada lagi kenikmatan di pagi itu dan dia masih tetap harus bersyukur, semangatnya pagi itu tidak serta merta habis layaknya kopi susu yang ia minum.
Jari-jarinya semakin lihai menerjemahkan hatinya, tak terasa dia sampai pada alinea kelima dalam tulisan di notebook usangnya. Dia berpikir sejenak untuk menghentikan jari-jarinya, buku-buku kuliah nampak menatapnya dengan marah seolah membunyikan pesan mengapa tidak membukanya. Dia mengacuhkan kemarahan buku-bukunya, dia mengharapkan buku-buku yang marah itu sedikit maklum bahwa dia sedang malas, malas membuka buku itu, malas meredam amarah buku itu.
Tapi dia terlihat kikuk, jari-jarinya melambat di keyboard, buku yang dia enggan tatap, kini coba dibuka dan tulisannya di notebook mesti mengalah, kecepatan jari-jarinya mulai menurun. Dia menyudahi tulisannya pada alinea keenam, dia memilih buku-buku tadi dan dia mengakhiri tulisannya serta tak lupa memberi judul, Selamat Pagi.
Iklan

Satu pemikiran pada “Selamat Pagi

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s