No Pain No Gain

Ada sebuah ungkapan ‘No Pain, No Gain’ atau jika diistilahkan menjadi ‘tak ada yang bertambah jika tak merasakan pahitnya.’ Begitulah alur hidup ini, jika ingin merasakan yang lebih, maka rasa sakitnya harus lebih pula.
sumber gambar
 Ungkapan di atas lah yang ingin saya tetap pegang teguh, memang pencapaian yang ingin saya tuju masih dalam ranah yang bersifat ‘prematur’ yakni ranah akademik (kuliah-red). Menjadi mahasiswa menuntut saya untuk bisa menuntut banyak tuntutan yang tentu saja untuk kebaikan saya ke depannya. Merasakan atmosfer baru, atmosfer mahasiswa, yang memang berbeda, disini saya harus bisa melakukan supervisi terhadap apa yang saya lakukan, ketika saya berbicara pun, tanggung jawab terhadapa apa yang saya sampaikan harus ada, tidak asal bunyi. Dalam hal lain adalah mengenai organisasi, apa iya hanya sekedar ‘taklid’? (ikut-ikutan tanpa ilmu-red), saya lagi-lagi harus ekstra mengawal diri ini agar tidak terjadi hal-hal yang membuat saya menjadi kontraproduktif.
Memang, di kampus lah, seseorang bisa menentukan langkah apa yang hendak diambil dan memegang teguh apa yang ia putuskan tersebut. Dianalogikan seperti mobil yang hendak melewati simpangan, dia sudah memastikan dari jauh, dengan percaya diri menyalakan lampu sein jika hendak berbelok atau melaju lurus tanpa ragu. Saya coba mengambil analogi ini lantas coba memacu memacu diri saya mengambil keputusan untuk melaju di simpangan itu. Di kampus juga saya menjadi lebih peka terhadap sekeliling, saya bisa lebih dulu paham ketika orang tua merasa kesulitan dalam hal finansial misalnya, saya tidak mau membebani mereka yang sedari awal saya memutuskan kuliah memang sudah terbebani, saya rasakan kepekaan itu dan itu harus saya jaga sampai kapanpun.
Tapi di kampus jugalah, saya merasakan suatu hal yang hilang, ketika sekolah dulu, saya merasakan sebuah semangat dari kawan yang lain, semangat terhadap satu ide dan itulah yang membuat saya optimis ketika sekolah dulu. Tetapi kini di kampus, semangat itu memudar, ide itu tidak (atau belum) saya temukan di sekeliling saya. Jujur saya khawatir terhadap semangat itu, saya masih baru disini tapi semangat itu sudah nampak pudar, entah dalam beberapa waktu ke depan semangat itu masih ada atau tidak.
Setelah dipikir lebih jauh, semangat yang memudar itu harusnya saya tumbuhkan kembali, dulu ketika sekolah, seolah saya diberikan banyak cahaya sehingga saya tidak merasa gelap dan sekarang adalah waktunya jika saya tidak menemukan cahaya, sayalah cahaya itu, sayalah yang harus jadi cahaya itu. Menebar  cahaya ini harus saya lakukan di segi apapun; hal studi ataupun di luar studi, ini bukanlah suatu kesombongan, tapi ini adalah visi yang harus ditempuh, di kampus inilah pijakan awal saya.
Hal yang saya ungkapkan di atas terdengar ambisius sekaligus mengawang-awang, ya, saya akui tapi itu coba saya lakukan secara gradual. Jika saya lakukan secara instan, maka kendalanya pun akan instan pula. Kendala awal yang saya temui adalah mencari celah mana yang bisa saya susupi cahaya itu sebelum hal lain terlanjur mendahului saya dan menutup celah masuknya cahaya itu. Di kampus semua sangat heterogen dalam berbagai hal, saya harus bisa memilah heterogenitas itu dan ikut berbaur lalu menjadi diri saya sendiri yang juga harus bisa menjadi heterogen yang baik.
Semua yang saya sadari, yang saya rasakan dan yang saya lakukan harus bisa saya olah dan menjadi sesuatu yang bermanfaat, inilah yang saya sedang coba, inilah resolusi saya di kampus karena ini visi saya.
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di Blogcamp
Iklan

Satu pemikiran pada “No Pain No Gain

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s