Miniatur Kehidupan di Status Facebook

Sebuah tulisan ringan yang semoga saja dapat diambil hikmahnya.

Jika diperhatikan, di status Facebook teman-teman kita yang muncul setiap saat (dari yang update sehari satu kali, satu jam sekali atau sesuai kehendaknya). Status facebooknya itu seolah seperti ‘laporan harian’ yang bisa dibaca semua orang (di daftar pertemanannya tentu saja). Kita mungkin pernah melihat status tentang masalah percintaan yang karam (macam kapal laut), hati yang tersakiti (bak  judul sinetron), hari bahagia dimana si dia nembak aku (ditembak?mati dong?) atau deretan kalimat lainnya dan bagi yang membacanya mungkin rasanya amat sangat ga penting misalnya curhat kalo laper, “uh..laper nih…ga ada makanan di rumah”. Curhat seperti ini rasanya tidak begitu penting (apa berharap abis update status model begitu, tiba-tiba ponselnya berubah jadi sepotong martabak keju?).

 
Bagi yang merasa tersindir, mungkin akan bilang,”suka-suka gue dong, status-status gue yang nulis!”. OK, terima kasih atas pernyataannya. Dan saya cukup timpali , “Lah, gue juga, suka-suka gue nulis ini!”hehe. Nampaknya paragraf ini tidak penting.
 
Dalam pengalaman saya pribadi, ada seseorang di Facebook, di daftar pertemanan saya, sebut saja namanya Bunga—bukan Bunga Bangkai yang pasti—belum lama mengupdate statusnya mengenai percintaannya yang ambruk (DISCLAIMER. Ini bukan berarti saya ada perhatian lebih atau apa tapi ini murni iseng belaka). Dia mengupdate beberapa status dalam beberapa hari mengenai cintanya yang hancur  ibarat digilas angkot. Setelah itu pula kadang menuliskan puisi-puisi satir, ada juga menuliskan hujatan-hujatan, beberapa kali sindiran dan lain-lain yang temanya tentu saja tentang cintanya yang balik kanan bubar jalan itu.
Padahal sebelumnya, dia mengupdate statusnya mengenai hatinya berbunga-bunga, seperti baru menang sayembara kerajaan. Dia (si Bunga itu) menulis lirik-lirik lagu band Indonesia yang tentang tinja, eh cinta tentunya lalu menuliskan puisi-puisi yang pastinya seperti ikrar orang pacaran, bahwa dia akan mencintai setengah hidup dan ada juga status yang mirip Headline News di TV, “akhirnya bisa nonton juga film YYY ama yang si ayank, thanks ya ayank ku”. What the pluck???….kenapa ga sekalian di tambahin, “…demikian laporan kegiatan pacaran saya di lokasi, langsung kembali kepada anda di studio”.
 
Dari gambaran nyata di atas, seseorang bisa saja tereksplorasi kehidupannya secara sengaja atau tidak dengan media sosial seperti Facebook atau yang lain (Twitter atau blog). Memang eksplorasi yang terjadi tidak bersifat menyeluruh tentang dirinya (mungkin hanya tentang pacaran atau kehidupan sekolah/kampus saja), akan tetapi sedikitnya memberikan gambaran bahwa dengan status Facebook yang ditulis dan dibaca oleh seluruh warga dunia maya, bisa memberikan suatu ruang penilaian yang bersifat prasangka, yang mana jika prasangka itu terus menerus melekat pada diri yang bersangkutan, seterusnya akan menyulitkan penilaian berikutnya terhadap dia. Orang bisa saja menilai dia adalah “tukang pacaran”, ABG labil, dan lainnya, tetapi suatu saat ketika dia mencapai suatu perubahan yang lebih baik (misalnya dia lebih dewasa, bukan lagi tukang pacaran dan dia hanya fokus pada studinya), orang lain akan tetap cenderung melakukan “labeling” dengan prasangka awal dan tidak percaya pada perubahan yang terjadi. 
 
Dan inti dari tulisan ini (menurut saya tentunya)
[1]  Bijaklah dalam menggunakan social media, seseorang bisa menilai dari apa yang kita tampilkan di social media. Dan waspadalah terhadap penilaian orang lain yang keliru terhadap kita atas apa yang kita tampilkan di social media tersebut.
[2] Untuk kita semua, berusahalah juga untuk tidak memberikan prejudice (prasangka awal) lalu menjadikan itu menjadi standar /label atas seseorang yang kita sangkakan itu. Manusia adalah makhluk dinamis, seseorang bisa saja berubah dari merah menjadi biru. Dan kita semestinya melihat seseorang secara faktual, jika sekarang dia menjadi biru, jangan anggap dia tetap merah seperti sangkaan awal kita dahulu.
[3]… (no ke-3 ini bisa anda tambahkan sendiri).
Iklan

7 pemikiran pada “Miniatur Kehidupan di Status Facebook

  1. sepakat. facebook harusnya bukan jadi ajang reportase, tapi menjalin kembali relasi yang sempat hilang.
    bukannya “i add you because i want to know you, tapi harusnya i know you, so i add you” 🙂

    user yang make prinsip ini, rata-rata tahu diri dan sadar bagaimana harus membangun eksistensi di facebook 🙂

  2. @nada: i
    know you, so
    i add you” 🙂 ….like these word

    @miftah: wah.cwicer sementara belum disimpulkan, masih riset.hehe. tapi buat prinsip itu mah kudu dipake

  3. inilah kenapa Pege me-private FB jadi cuma 50++ orang dari 1600-an yang bisa liat isi lengkap profile Pege.. Kalo diliat yaa konyol juga, temen banyak tapi yang boleh liat cuma segitu, tapi ya kembali ke prinsip: FB-FB gue! Kenapa lu yang sewot!
    hahaha.. Anw, have we become friends? 😉

  4. Wah untung akhir akhir ini saya udah jarang buka facebook, social not working tuh 😀 hehe

    saya setuju ama pendapat blogger “deknada”

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s