Terima Kasih Kawan

Mereka memandang masa depan lebih awal…dan saya nampaknya belum
Mereka memikirkan hari esok lebih  spesifik…dan saya masih tetap berpikir secara abstrak
Mereka mengingatkan saya…
Bahwa hidup ini adalah perjuangan…
Belum lama ini saya bertemu lagi dengan kawan lama di masa SMP. Ini memang bukan pertemuan yang pertama (mudah-mudahan juga bukan yang terakhir). Dalam pertemuan itu, seolah saya baru menangkap sesuatu dari mereka (karena ada 3 orang), titik kontemplasi saya berkedip saat itu, pada pertemuan sebelumnya dengan merekan saya tidak merasakan yang demikian.
Kita anggap saja mereka masing-masing berinisial A, F dan S. Dari ketiga sosok ini, saya menemukan (lebih tepatnya menyadari) sesuatu. Sesuatu yang amat berharga. Dalam pertemuan itu, sama-sama kami saling bercengkrama sambil sesekali bernostalgia ke masa lalu. Keadaan mereka bervariasi, si A masih berkutat dengan pekerjaannya, F yang baru saja selesai dengan kontrak kerjanya dan S yang nampaknya semakin menikmati pekerjaannya. Ketika mereka saling mengabarkan keadaan mereka, seolah saya hilang, hilang dari arena percakapan itu dan hanya nampak fisik belaka. Saya seolah malu mengucap satu patah kata sekalipun. Mengapa saya berbuat demikian? Jawabannya saya siratkan pada penggalan ungkapan di bagian awal tulisan ini.
Ketika berbicara tentang bekerja atau kuliah, saya tidak mau menganggap itu sebagai suatu stratifikasi walaupun umumnya realitanya seperti itu. Saat itu, dari percakapan mereka, saya mendapat sekali hikmah, hikmah yang tak harus dibeli dari buku-buku motivasi.
Percakapan kala itu membuat saya malu. Ya, malu. Mereka dengan sadar mulai merancang sesuatu sejak awal. Mereka bekerja dengan keras, tak kenal lelah. Semangat mereka sejatinya seperti semangat golongan pemuda ketika era kemerdekaan dulu. Sedangkan saya, masih menengadahkan tangan kepada orang tua. Sangat kontras dengan mereka. Mereka memberi satu poin kontemplasi disini.
Memang saya belum terlambat. Masih ada jalan yang harus ditempuh. Saya harus memilih. Memilih mencontoh semangat mereka atau tidak. Pilihan saya ini nampak seperti pertanyaan retoris. Memang, akan tetapi dalam langkah praktisnya, kadang sulit terlaksana.
Terima kasih kawan, kalian memberi satu hari yang luar biasa, yang penuh makna.
Saya persembahkan tulisan ini untuk kalian yang luar biasa.
Iklan

7 pemikiran pada “Terima Kasih Kawan

  1. anggap saja itu bukan waktu untuk kita, jalan kita masih panjang sob, jadi bersabar dan terus berusaha..suatu saat kita pasti bisa seperti mereka 🙂

  2. Pege Alhamdulillah masih nikmatin masa-masa minta.. Walaupun udah mulai mikir gimana cara ngebaliinnya ke mereka berdua nanti (yang ngga akan pernah kebayar lunas sampai kapanpun).. 🙂

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s