Choice of Future

Mungkin Tuhan mulai bosan… melihat tingkah kita…
yang selalu salah dan bangga… dengan dosa-dosa…
– Ebiet G. Ade

Sebelumnya saya mengucapkan turut prihatin atas bencana gempa bumi dan gelombang Tsunami yang melanda negeri Sakura, Jepang. Semoga segalanya bisa cepat pulih seperti sedia kala #prayforjapan

Belum lama ini, setelah saya sekedar jalan-jalan mengamati lingkungan di sekeliling tempat tinggal sudah banyak yang berubah.

Sejatinya tinggal di daerah yang notabene masih kampung, saya setiap pagi masih bisa mendengar celoteh burung-burung di pagi hari.

Ilustrasi. lokasi: Gunung Pancar, Citeureup, Kab. Bogor – Dok. Pribadi

Apalagi jika sehabis hujan, aroma yang tercium amat sangat khas dan menyegarkan.

Tapi kayanya itu ga bakal terus-terusan saya rasakan.

Di tempat saya ini, pembangunan sudah mulai marak, meski tidak (atau belum) merupakan pembangunan yang masif.

Developer perumahan sudah di sana-sini.

Penduduk yang makin banyak.

Pohon yang makin lama makin sedikit.

Dulu waktu masih seumuran SD, jika musim hujan, saya pasti langsung pergi ke kali, entah itu buat ngojay (renang-red) ataupun mancing. Kenapa mesti musim hujan? Karena dipastikan kalinya akan meluap dan arus kali sedikit menantang buat berenang serta saat inilah momen yang tepat untuk mancing karena empang (kolam ikan-red) kena imbas air meluap alias banjir sehingga ikan-ikan akan terlepas ke kali.

Itu dulu.

Sekarang?

Pertanyaan yang mudah dijawab. Saya udah ga suka mandi lagi di kali (udah gede, malu.hehe). Selain itu kualitas air kalinya juga makin memburuk. Limbah merajababi-membutarela eh, maksudnya merajalela-membabibuta.

Cuaca makin panas (kalo ini sih di seantero bumi juga ngrasain)

… (diem, menghela nafas panjang).

Tanggal 5 kemarin, saya bersama rekan alumni almamater SMK saya ngadain kopi darat di acara Islamic Book Fair yang berlokasi di Senayan.

Bukan acara kopi darat yang mau saya garisbawahi ataupun juga acara IBF, tapi satu hal.

Air!

Ya, saya ngrasain bagaimana kualitas air di Istora Senayan itu ketika saya wudhu, airnya sudah bercampur kaporit, itu menandakan air yang ada di sana sudah tidak jernih lagi.

Saya rasa juga, seluruh penjuru Jakarta seperti itu.

Kalo saya bandingkan kualitas air di Istora Senayan itu sama air yang ada di sumur rumah, kalah jauh.

Air di rumah saya masih jernih, tidak berasa dan tidak berbau, bisa dibilang udah cocok sama standar WHO tentang air.

Cepat atau lambat, di air rumah saya juga kayanya bukan hal mustahil bisa seperti air di Senayan tadi.

Ibarat bom waktu, ada dua kemungkinan: pertama, saya defuse/jinakkan bom waktu itu. Kedua,saya pasrah menunggu timer di bom selesai menghitung dan bom meledak

Dengan dasar itu, rasanya seseorang yang visioner bukan hanya memikirkan bagaimana dirinya dirinya di masa depan semata, tapi juga bagaimana lingkungannya tetap terjaga.

NB:
Jika kawan-kawan ada saran atau masukan tentang jenis pohon yang mudah tumbuh atau pun pohon yang punya nilai investasi tinggi buat lingkungan, bisa disampaikan di kotak komentar.

Dude, your choice is your future

Iklan

17 pemikiran pada “Choice of Future

  1. @tukang colong: hehe..tanya kenapa???

    @moenas: sebenernya sih kaporit ga sebahaya formalin, cuma klo kecampur kaporit, sensasi airnya beda..

    @hanya: yo wes….ora opo opo

    @miftah: maklum bocah kampung, biasa ngrasain yang jernih-jernih

  2. air emang penting .. makanya hemat sumberdaya air itu salah satu cara buat menjaga supaya air tetep bersih.. sekarang air PDAM pun juga kayaknya nggak bersih-bersih amat..

    makanya mulai dari diri sendiri.. mulai sekarang juga.. ngerawat sumber daya air yah!

  3. di tempat saya tinggal juga gitu.. saya tinggal di aceh, yang semenjak habis tsunami, air sumur sudah tidak bersih lagi seperti dulu.. Untuk menyuci saja mesti menampung air PAM.. 😦
    Bumi sudah semakin tua.. Tinggal kita yang generasi muda menjaga agar bumi tidak semakin renta 😦

  4. selain kita, sebagai manusia punya tugas untuk beribadah pada-Nya. kita pun punya tugas untuk menjaga kelestarian alam. dan menjaga bumi ini agar selalu asri. salam kenal….

    salam persahablogan 🙂

  5. siap-siap menerima kerusakan yg disebabkan oleh kita sendiri.

    Melupakan alam demi ego individu.
    tempat gue juga gitu bro.. dulu tuh banyak banget lapangan dan kebun-kebun, sekarang mah udah dipenuhi rumah-rumah para pendatang :'(

  6. pohon pisang di rumah saya (pisang gepok dan raja lilin) sudah beranak pinak mas…
    awalnya cuma dua yang saya ambil dari kali di dekat desa… itu juga orang2 nggak tahan melihatnya…udah kecil-kecil apa mungkin bisa hidup.. 😦
    eh, alhamdulillah… sekarang bisa tumbuh besar dan beranak pinak sangat banyak.. bahkan tetangga sekitar sudah ikut pada merasakan manfaatnya ..
    http://atmokanjeng.wordpress.com/

  7. saya jadi ingat air di rumah saya, ngadirejo. jaraknya cuma dua kilo dari sumber mata airnya.. airnya sejuk dan bahkan layak minum deh kalo dibandingin sama air surabaya yang YAIKS kotor banget itu >.<

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s