Jalan-jalan Biasa

Finally, new post at this month

yang baru gajian, jangan lupa sedekah ya *lho*

Ngaret dan arah yang absurd
Berawal dari suatu kepanitiaan kegiatan kampus dan saya sukses ditunjuk sebagai PiC (person in charge) bagian Acara *biar keren, pake istilah PiC, bukan seksi-seksian lagi*

Singkat kata, tempat yang mau dijadiin lokasi kegiatan adalah Kebun Raya Bogor. Seketika itu juga sang Ketua Pelaksana, berinisial W, biar ga penasaran, sebut saja Wahyu, ngajakin buat survey. Hari Jum’at (03/06) terpilih sebagai hari keberangkatan. Survey pun didukung oleh motor merah butut saya

Janjian jam 7. Si Ketuplak (ketua pelaksana-red) minta dijemput di fly-over Pasar Rebo, Jakarta Timur. WHAT THE PLUCK??? Pasar Rebo. Bisa diomelin Presiden ini mah akibat buang-buang BBM bersubsidi. Rute jalannya muter!

legenda wisata:
– tanda X  biru : lokasi buat angkut si Ketuplak.
– panah merah: arah perjalanan
– garis lurus horizontal: Jalan raya Jakarta-Bogor, skala: bensin 1 liter

Ya sudahlah, nasir udah jadi tukang bubur. Ini demi kebaikan bersama, Ayo Tsubasa jangan sampai Nan Katsu kalah!!

Janjian tinggal janjian, saya pun nyampe di fly-over jam 8.14 (ALERT: dont’ try this!!!).

Pas nyampe, saya SMS tuh Ketuplak, “Ente dimana?”. “Belokan ke kiri dari tempat turun (Koantas) 510!“, si ketuplak sigap membalas. “Ya, ane di arah jalan ke Bogornya”, saya ga kalah sigap buat bales. Dia segera bales, “Ane di belokan kiri dari turun 510!

Sampe sini, absurd!
*dodol, ane kaga bisa balik arah sembarangan, ini bukan jalanan pasar Cibinong*

“Ane di deket tukang roti goreng”, saya balas ga kalah absurd, biarin dah dia nyariin tukang roti goreng muter-muter.

Ga lama, dia pun nongol.
Perjalanan yang nampak membosankan nan panjang dimulai dari Pasar Rebo-Pajajaran-IR. H. Juanda.

Jujur, ini adalah kali kedua saya ke Kebon Raya Bogor (iyeee, tau ‘kebun’ bukan ‘kebon’, tapi saya lebih demen sebutan ‘kebon’, udah kebiasaan). Pertamanya pas jaman bareto SD. Ah, norak banget dah, orang Bogor jarang ke KRB (Kebon Raya Bogor) sama noraknya kaya tulisan ini, cuma “jalan-jalan” ke KRB aja ampe dibikin postingan.haha

Begiu masuk KRB, langsung dikenakan tarif Rp9500 per kepala plus motor Rp3000 per ekornya.

Langsung kami cari spot buat keperluan kegiatan di hari H. Setelah dapet spot, kami tanya-tanya ke pengelola bagaimana cara mendapatkan diskon tiket masuk untuk rombongan. Ternyata mesti buat semacam surat jalan dari lembaga, minimal 50 orang. Diskon 50% diberikan hanya untuk sekolah ataupun kampus, diluar itu diskon cuma 10%. Sampe sini kami mengakhiri survey, nice info gan!

Soto yang hambar dan Master minyak wangi
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Kami memutuskan shalat Jum’at di Masjid Raya Bogor. Keluar KRB, belok kiri ke Jl Otista, langsung belok kanan dari tugu kujang. Macet! Pemandangan lumrah di Bogor saat ini. Lautan angkot pun tak kalah heboh.

Setelah sampai di Masjid dan parkir di basement-nya. Kami putuskan makan siang dulu sebelum shalat jum’at dan tempat makan yang beruntung adalah warung Sate Bogor. Kami pilih sate daging. Entah kenapa sotonya adem alias hambar (atau emang soto Bogor itu begitu yak? hmmm.). Kocek per porsi + nasi sebesar Rp14.000.

Setelah makan, saya liat ada tukang minyak wangi, wah, lumayan nih, jarang nemu tukang minyak wangi di kampus. Setelah trial and error, buka-endus-buka-endus, begitu terus, sampai saya temukan yang pas.

Si ketuplak juga kayanya ga mau kalah cari-cari minyak wangi. Rupanya dia ga perlu trial and error kaya saya. Dia cuma sebutin nama minyak wanginya aja. Tersebutlah nama Malaikat Subuh, Kasturi, Misik, dan nama-nama minyak wangi dari nam artis Hollywood seperti Paris Hilton, Jessica Parker, *curiga juga si ketuplak ini jangan-jangan tukang minyak wangi*

Hati-hati
Perjalanan pulang ga ada yang spesial, sampai di daerah Nanggewer, sebuah motor mau balik arah dan guess what, motor dibelakangnya kaget dan braaakkkkk (bunyi motor jatuh -___-), untung ga kenapa-napa tuh yang jatuh. Dan mobil yang ada di belakang pengendara naas itu untungnya juga sempet ngerem, jadi ga ada kejadian yang lebih merisaukan lagi. Fuhhh, harus lebih hati-hati lagi nih.

Deja vu
Dan saya pun mesti anter dia lagi ke Pasar Rebo.

Hikmah survey ini apaan ya??? Bingung sayah…

Iklan

4 pemikiran pada “Jalan-jalan Biasa

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s