Aku Bukan Koki

Bahannya cabe, bawang putih, bawang merah, garam, telor, minyak goreng, lada, kecap
Alatnya ya kuali, ulekan, spatula (beuh, kaya sponge bob aja)

Tenang ini bukan jualan bahan dan alat dapur. Itu adalah sejumlah “peralatan dan amunisi” buat bikin suatu masakan yang cukup populer seantero Indonesia. Nasi goreng, ya nasi yang dimanipulasi dengan bumbu, dikasih taburan bawang goreng dan irisan lembut telor ayam. Hmmm, yummi, this is it, nasi goreng a la kadarnya.haha

Laki-laki dan Memasak
Emang laki-laki dan memasak itu bertolak belakang? ootidabisaa, memasak bukan dominasi kaum hawa. Laki-laki yang bisa memasak tentu saja merupakan skill tersendiri, it’s unique. Saya yakin semua laki-laki bisa masak, minimal masak mie dan paling mengenaskan ya masak aer.

Kembali ke nasi goreng tadi, selasa malam (07/06) entah kenapa saya pengen ngerasain sesuatu yang beda sama makan malam saat itu dan diputuskan bikin nasi goreng. Bahan dan alatnya seperti yang saya kutip di awal tadi. Dengan sedikit cinta di ulekannya dan setuang rindu (eaaaaa) di ceplokan telornya. Kuali disiapkan, minyak goreng dimasukkan, dan didiamkan satu menit, dua menit (kok lama amat yak) ternyata eh ternyata, kompornya belum dinyalain.hehe

Kompor pun dinyalakan, cetokk! (kurang lebih begitu bunyinya ^^). Setelah minyaknya panas, bawang merah dimasukkan hingga matang, lalu ditiriskan. Berikutnya bumbu yang takarannya serba feeling alias ga pake takaran atau teori. Buat saya bikin bumbu ini pake logika dan nalar aja, kalo pengen pedes, ya cabenya banyakin, kalo kasih garem, jangan banyak-banyak nanti jadi asin, kalo laper berat nasinya dibanyakin.hehe. Cukup Simpel.

Oke, setelah proses memasak (memasak apa menggoreng yak?) selesai, kompor dimatikan. Dan jeng-jeng..this is it, nasi goreng a la kadarnya. Suapan pertama memang mendebarkan apalagi jika yang nyuapin adalah seseorang yang udah sah (eaaaa). OK, balik lagi ke suapan pertama, deg-degan, kalo pinjem istilah industri takut rasanya outspec (out of spesification) alias ga enak. Bismillahirrahmanirrahim. Suapan pertama pun masuk ke mulut dan masih terbayang jika disuapin (hush.eaaaa). Mulut pun mengunci, rahang mulai bergerak seirama, lidah mulai mengeluarkan enzimnya untuk mencerna nasi jadi glukosa, indera pengecap mulai mengirimkan sinyal ke saraf otak, setelah dikunyah sedemikian rupa sambil diiringi semerbak harum bawang goreng, suapan itu pun mulai bergerak turun ke kerongkongan, gerak peristaltik kerongkongan semakin membantu pencernaan. Hmmm, bayangkan saja jika kerongkongan tidak punya gerak peristaltik, yakni gerak alami dari otot untuk menggerakkan makanan  hingga ke lambung, maka akan melelahkan sekali proses makan kita. Fa bi ayyi ala irabbikuma tukadzibaan.

Otak pun sudah menyimpulkan rasa dari suapan pertama: Pedes!!! Segera respon dari otak itu dikirim kembali ke lidah sehingga lidah sedikit mendesah (eaaa mendesah) kepedesan. Tapi karena saya menganut prinsip:

Suapan kedua selalu berbeda dengan suapan pertama begitu juga suapan ketiga dengan kedua, dst.

Tak berapa lama. Piring pun kosong. Bocor kah? Kemana larinya nasi goreng tersebut? Ternyata sudah bermigrasi ke lambung semua. Alhamdulillah ^^

Sesaat kemudian, pikiran mengawang-awang. Ya, buat saya, memasak bukanlah suatu yang “feminim” untuk ukuran laki-laki. Coba kita perhatikan chef di restoran terkenal maupun hotel berbintang. Rata-rata didominasi kaum adam. Jadi, no excuse. Bersyukurlah kaum adam yang bisa masak, ya minimal bisa masak nasi goreng.hehe.

Jika mengawang lebih jauh lagi, ketika suatu saat isteri saya misalnya (ehm) sedang dalam kondisi kurang fit dan tidak kuat memasak, maka saya bisa mengisi kekurangan tersebut dan memasak makanan untuk keluarga (ehm lagi). Ya, jika pinjem istilah teman saya si Rizki Imand, ini adalah potensi yang terpendam. Banyak yang bisa kita temukan sebagai potensi dalam diri kita. Jika bisa mencuci, mengepel, beres-beres maka bisa dipastikan itu adalah potensi. Potensi sebagai pembantu rumah tangga.hehe. Bukan ding, tapi potensi untuk masa depan (ehm lagi).

Jadi punya potensi apapun mari tetap kita syukuri. Jika kita pandang dari kacamata diri sendiri, sebenarnya jarang lho ada orang yang seperti kita ini yang bisa melakukan sesuatu yag “berbeda”. Insya Allah. Potensi itu akan berguna, salah satunya bisa untuk ehm tadi dan yang lainnya.

Memang, aku bukan koki, tapi aku bisa memasak nasi goreng

Iklan

8 pemikiran pada “Aku Bukan Koki

  1. jadi tertantang buat nasi goreng sperti mas wahjoedi,
    tapi saya ndak bisa yang pedes2 mas, sepertinya buatan mas pedes, saya lebih suka masak yang manis2 atau cake2 gitu.. 🙂
    seperti yang saya post di blog, (ehehe, narsis)..

    betul sekali mas, memasak itu bukan milik kaum perempuan, siapa aja bebas..! keep cooking..! hidup lelaki yang bisa masak..! hahaha..!

  2. ehm,jadi nasi gorengnya enak apa nggak tuh? *ya enaklahhh, laperrr…*
    hohhohhh,
    (nikmat Tuhan yang manakah yang kamu Dustakan?keren ayat ini..)
    nah,berhubung saya mang lagi tertarik pengen tau banyak ttg “cowok”, spertinya kamu dapat tugas Tag juga dari saya.

    just come in my Blog! ditunggu yak!

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s