Cerita dari Sebuah Bus

Mengagregasikan ide atau inspirasi kadang spontan terjadi sekalipun di dalam bus yang penuh sesak

Berawal dari bus Bogor-Jonggol, bus yang aku tumpangi sore itu, heterogenitas manusia terlihat sekali di dalam bus, sepasang muda-mudi yang pacaran, seorang bapak paruh baya yang duduk di sebelahku, seorang ibu tangguh yang menggendong anaknya yang tertidur, kelompok pengamen dengan segala kepercayaan diri berlebih demi mencari sejumput rupiah meski bermodal kemampuan seadanya dan juga pedagang asongan yang seakan tak peduli keadaan dalam bus, dalam kondisi sesak seperti itu mereka tetap acuh menjajakan dagangannya hanya demi memanaskan kuali untuk keluarga tercinta di rumah.

Life is adventure

Slogan yang kupinjam dari iklan susu. Slogan yang cukup bermakna, hidup adalah petualangan, you’ll never know what’s going on next, even you’ve planned some. Hidup ini adalah tentang mensyukuri apa-apa yang sudah dianugerahkan dari-Nya untuk kita. Sudah sejauh apa kita mensyukuri itu semua. Pilihannya hanya dua, semakin bersyukur, semakin pula kita merasakan bertambahnya anugerah itu lalu pilihan kedua, jika kita mengabaikan anugerah itu, kita adalah seorang yang sombong, sudah berani menantang Tuhan akan anugerah yang sudah diberikan lantas Dia pulalah yang akan memberikan suatu yang sangat mengerikan. Sekarang atau kelak.
Lamunanku di bus buyar, ketika supir mulai memutar kunci kontak. Getaran mesin yang meraung-raung, kondisi bus yang jauh dari kata layak, tapi apa dikata tetap saja penuh penumpang karena menyangkut hajat hidup orang banyak Bus mulai tertatih keluar dari pintu terminal mencoba membelah pertigaan yang sangat ramai, layaknya seorang yang tetap sabar dan konsisten mengarungi hidup meski ditengah hiruk-pikuk ketidakjelasan dunia.
Bus sudah membelah angin dengan cepat. Jalan bebas hambatan mulai ditempuhnya. Jalan yang melenakan sekaligus membahayakan. Hidup ini terkadang terlena dijalan bebas hambatan, dikira bisa terus melenggang menambah kecepatan hingga kadang lupa akan keselamatan hingga bisa membahayakan hidup. Ditengah temaram lampu jalan yang menelusup masuk membentuk ritme kelap-kelip dalam bus, sang kondektur mulai bertugas meminta ongkos perjalanan. Seseorang bisa saja mengelabui sang kondektur agar ongkos yang dibayarkan lebih murah. Ah, hal itu sangat hina.Meski sang kondektur tidak mampu merekam kehinaan yang dibuat itu tapi kelak, sudah ada database abadi yang mencatat setiap milisekon kejadian itu.
Temaram lampu sudah mulai berkurang ritmenya. Bus kembali mengalah dengan angin, suara mencicit dari rem mulai terdengar, bus menyudahi pertemuannya dengan jalan bebas hambatan. Menyadari kenyataan hidup, sama seperti bus ini, sudah siap hambatan baru menghampiri ketika sudah berlalu hambatan sebelumnya. Lagi-lagi ini adalah tentang konsekuensi, apa tetap bersyukur atau ingkar mensyukuri.
Aku tahu rute bus ini, tapi malam itu bus ini melewati rute lain yang tetap menuju tujuan yang sama. Apakah hidup seperti itu? Kadang kita sibuk mencari jalan pintas yang kita sadar atau tidak adalah hal yang bisa saja salah ketimbang sabar menjalani apa yang ada di hadapan kita.
Perjalanan masih panjang dan bisa ditebak dengan mudah seberapa jauh lagi sampai. Berlawanan sekali dengan ujung kehidupan yang berakhir dengan sangat misterius. Mustahil mampu menyimpulkan sejauh apa hidup kita tersisa. Semua adalah rahasia Sang Maha Mengetahui.

Sebuah gang yang kukenali mulai nampak dari kejauhan. Aku persiapkan loncatan terbaik untuk keluar dari bus ini. Sebuah loncatan yang kuharap bisa terjadi pula dalam hidupku, sebuah loncatan menuju kebaikan.

————————–
04 Juli 2011,
Pojok kamar di bawah sengatan matahari pagi
Sebuah inspirasi dari bus Kosub jurusan Bogor-Jonggol

Iklan

3 pemikiran pada “Cerita dari Sebuah Bus

  1. ati ati kalo loncat dari bis.. takut jatuh dan terluka ih..

    yup, didalam bus emang selalu banyak cerita.. entah tentang kehidupan, entah tentang cinta, yang jelas jika peka bisa bikin lebih bersyukur..

  2. Kereeeen!!!
    Dari sebuah bus, dapat menggambarkan hidup dan kesyukuran 🙂
    Ya bener, terlalu banyak sekarang ini orang yang sombong. Dengan kata lain tidak bersyukur dengan anugrah yang telah dia dapat >.<

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s