Balada Kurir Surat

Bayangkan (mari berimajinasi sebentar), kita ditempatkan di suatu kepanitiaan lalu kita diposkan di salah satu divisi (divisi acara misalnya) lantas karena keadaan mendesak menjelang deadline, surat undangan belum disebar dan divisi yang nyebar surat (divisi humas atau publikasi) berhalangan untuk bertugas menyebar, maka posisi divisi Humas diambil alih oleh kita yang notabene divisi acara.

Pernah kaya gitu?

Saya? Sering!

Eh, ga deh, baru dua kali. ^.^
Sebenarnya saya sebagai divisi acara bukan ga mau nyebar. Kalau pake asas profesionalitas, semestinya kita bekerja sesuai pos masing-masing tapi apa daya keadaan mendesak bin darurat, pengecualian selalu ada.
Eits, saya ga lagi mengkritisi model kepanitiaan tersebut. Tapi pengen bercerita dikit tentang “dampak” dari rangkap jabatan tersebut. Ya, ketika saya mesti anter surat undangan ke beberapa sekolah (undangan untuk siswa sekolah soalnya).
Sekolah SMK tercinta dimana saya sekolah dulu, ternyata masuk list undangan. Ketika saya datang, ternyata sekolah sedang mengadakan MOS (Masa Orientasi Siswa). Terlihatlah kumpulan newbie-newbie di sekolah tersebut yang siap menghadapi labirin pendidikan kejuruan selama tiga tahun ke depan. Good luck, gan.
Liat-liat yang lagi MOS, teringat persis ketika saya jadi peserta MOS (kurang lebih 4 tahun lalu). Dimana saat itu masih kejam-kejamnya, disuruh dateng jam 04.15 WIB, ga boleh injek selasar (jadi jalannya ngesot pake dengkul), hukuman push-up, atribut-atribut sakit jiwa, dll. Benar-benar momen penuh kenangan.
Sejurus kemudian, ingatan saya makin tajam ketika masih jadi newbie di sekolah tersebut. Rambut botak adalah pemandangan lazim. Jadi, dulu ketika awal-awal masuk, para newbie lebih mirip sekumpulan tuyul yang dibuang dari peternakan.
Lalu ingatan mengendap ke satu titik di sudut sekolah. Ingatan yang kuat, sentimental, penuh kenangan, dan penuh emosi serta merta terpanggil. Tempat itu memang tidak berarti banyak untuk siswa lain, tapi buat saya amat sangat membekas…
Tempat itu…
Adalah area taman dimana saya kejedot pohon pas MOS dulu gara-gara terlalu semangat.
Iklan

11 pemikiran pada “Balada Kurir Surat

  1. @bluethunderheart: hehe..makasih mas

    @Brigadir Kopi: ya, mudah-mudahan aja tu pohon ga ditebang

    @Hendro Prayitno: ga tau deh pohon apa, mudah-mudahan aja pohon langka, biar makin berkesan.hehe

    @Irfan Handi: salam kenal kembali bro 😀

    @arr rian: pohonnya malah malu tertunduk lesu.heh

    @Miftahgeek: sebenernya gw juga itu males-malesan, cuma kebetulan lagi semangay aja pas itu

    @niee: iya mbak, jadi ngawur ke pohon

    @iam: hahaha. biar cerita kaga kaya sinetron gan bisa ketebak.

    @MENONE: iya mas, over banget waktu itu

    [L]ain: hehehe.. sama, sebenernya paling males dikerjain.zzzz

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s