Paradoks Kopi

“Bang, ente dimana? Ane dah nyampe mesjid nih”

Suara di seberang sana menjawab, “Iya, bentar lagi nyampe”
***
Cuaca nampak bersahabat bagi jemuran. Ya, panasnya membuat air dalam rentetan jemuran lekas menguap. Jam menunjukkan pukul 09.45 WIB, sebuah rumah di tepi flyover itu disulap menjadi tempat penitipan motor. Ah, apakah moda kapitalisme sudah mengakar di negeri ini hingga sulit mencari kesempatan ekonomi yang merakyat? Entahlah, terlalu jauh berpikir ke arah situ. Saya hanya berprasangka itu sebuah pembacaan atas peluang bisnis yang nampak di daerah itu.
Rumah yang disulap menjadi tempat penitipan motor tadi persis berada di depan jalan raya. Bergerak cepat mengejar bus, itulah yang saya lakukan karena tak lama setelah menitipkan motor, sebuah bus AC jurusan Senen nampak di depan mata, berlarilah saya dengan sigap meraih gagang pintu bus.
Bus tersebut cenderung kosong, entah karena dasar pemikiran atau insting, semua orang yang saya amati hendak naik pasti langsung menuju barisan bangku yang kosong melompong. Tidak menempati bangku kapasitas 3 orang yang padahal baru terisi satu orang. Fenomena apa ini? Saya pun melakukan hal yang sama. Nampaknya ini bisa menjadi ladang observasi untuk tesis bagi mahasiswa Psikologi atas perilaku individual yang seperti itu atau mungkin jurusan Sosiologi, meneliti kecenderungan atas perilaku secara luas di masyarakat. πŸ˜€
Semakin jauh bus meninggalkan titik awal pemberangkatan, bangku kosong akibat egoisme sesaat penumpang tadi mulai terisi. Matahari semakin ganas menyemburkan partikel UV A dan UV B, untung saja bus ini cukup nyaman karena berAC dan memiliki gorden yang cukup tebal untuk memblokade paparan sinar matahari yang semakin disiplin menyorot segala bentuk ciptaan di bumi fana ini.
Pemuda bergitar nampak diantara jejalan penumpang, mengalunkan lagu “Ternyata Cinta” yang dipopulerkan band Padi. Penumpang lain acuh tak acuh atas pemuda bergitar yang tengah mencari sambungan hidup lewat harmonisasi nada enam senar baja dan vokalnya. Lagu berakhir damai, bungkus permen yang cukup masyhur sebagai penadah sambungan hidup mulai berkeliling, andai saja bungkus permen itu memiliki mata dan mulut, mungkin ia akan bilang dengan tatapan tajam, “Pemberian kata maaf anda tak cukup berarti dibanding kepingan garuda yang menengok ke kanan”. Itu hanya pengandaian dari bungkus permen dan tentu tidak terjadi akan tetapi kata-kata itu akhirnya terwakili oleh sang pemegang bungkus permen.
Pengamen tadi sudah turun, lantas seorang bapak naik dengan membawa gitar dalam softcase. Semua nampak biasa sampai si bapak membuka softcase dan mengeluarkan gitarnya. OK, he was the next after the last one. Biasanya pengamen yang saya lihat paling tidak anak kecil yang masih belum sadar kejamnya dunia atau pemuda yang nampak terdidik secara keras di jalanan akan tetapi kali ini saya melihat pengamen berusia paruh baya, suaranya tidak melengking seperti pengamen pertama, lebih soft, lagu yang dibawakan pun lagu yang cukup lawas, lagu Ebiet G. Ade.
Bus semakin mendekati tujuan, pengamen silih berganti, penumpang mulai berkurang seiring matahari yang berkurang panasnya terhalang gedung bertingkat yang mengacung sombong di daratan Jakarta.Tujuan sudah nampak: Pasar Senen!
***
“Assalamu’alaikum, udah lama, Dee?” tanya Bang Sandy menghampiri saya yang sedang bersandar malas sejak datang.
“Wa’alaikumussalaam! Lumayan sih” jawab saya sambil menyergah tangannya untuk berjabat tangan menghapus dosa-dosa kecil diantara kami, “Mbak Dena dkk udah nyampe belum nih, Bang?
“Ga tau, Dee, eh, shalat dulu yuk”

Azan berkumandang menyerukan kemenangan bagi para manusia di sekitar pasar.

Segala macam perbedaan status, kedudukan, dan nilai gaji luntur di dalam bangunan megah penuntun surga ini. Segala bentuk watak mengerucut tunduk bersujud disini. Panggilan kemenangan yang agung telah disambut, shalat membuat segala macam atribut dunia luntur seketika.

Hening dan sejuk, itulah nuansa hebat dalam mesjid tersebut. Sejenak menenangkan diri dari terik matahari dan menenangkan suasana yang rumit di sekitar pasar. Ketika baru sampai di Pasar Senen tersebut, saya disuguhi sinetron laga secara langsung, dua orang tengah berkelahi, mengabaikan terik matahari dan pandangan heran setiap orang yang melihatnya. Apakah ini bukti dari idiom, “Ibukota lebih kejam daripada Ibu tiri?”. Entahlah, tanyakan saja pada petugas polisi yang saya harap kedatangannya melerai perkelahian tersebut.
Hiruk pikuk kendaraan semakin membuat riuh rendah suasana. Kicauan pedagang yang menjajakan dagangannya. Pembeli yang menawar barang dagangan persis kelakuan pejuang kemerdekaan, sama-sama “ngotot” atas apa yang diperjuangkan. Tak ada pohon yang menjadi oase, hanya tanaman pagar yang dipaksa menelan pil pahit kejamnya lingkungan.
Langkah kaki mulai mengejar-ngejar bayangan sendiri. Matahari semakin meninggi. Cuaca sudah semakin membara. Tampaknya cucian yang mengggantung di halaman setiap rumah orang merasakan euforia yang luar biasa atas teriknya siang itu. Mesjid lah yang saya tuju, lokasi yang memang sudah dijanjikan untuk berkumpul dengan Bang Sandy dan Mbak Dena.
“Bang, mbak Dena dkk udah kasih kabar posisinya?
Bang Sandy menekan sigap tuts ponselnya, nampak suara di ujung sana membalas setiap pertanyaan Bang Sandy.
“Ternyata mbak Dena ga ke mesjid ini” ,ujar Bang Sandy “Dia sama yang lain shalat di mushola pasar”
“Yuk kita susul!”, ajak Bang Sandy pada saya “Disana kita kumpul sama mbak Dena dkk!”
***
Gelas kopi itu sudah tidak bertuan, ampasnya mulai mengering. Ketika saya sampai di mesjid pasar Senen tersebut, saya duduk di teras bersebelahan dengan seorang pedagang kopi keliling. Saya berharap ada angin ribut saat itu untuk menguapkan rasa panas yang luar biasa di tubuh. Memang tidak ada angin ribut. Saya hanya bisa mengandalkan angin dari hempasan bajaj yang hilir mudik di jalan depan mesjid. Jam menunjukkan pukul 11.40 WIB, masih ada waktu untuk mengangin-anginkan tubuh.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri ke arah pedagang kopi disamping saya dan lantas bilang, “Bang, kopi satu ya!”.
Paradoks. Itulah kesimpulan atas premis kilat yang saya lihat di samping saya. Di tengah cuaca terik seperti ini memesan kopi panas? Ah, apakah itu lagi-lagi makna dari idiom, “Ibukota lebih kejam daripada Ibu tiri?”. Entahlah, jangan tanya saya yang lagi kepanasan. :p
—–
based on true story,
Pasar Senen, 30 Juli 2011
dengan sedikit perubahan nama tokoh, biar keren dikit :p
thanks to: Ranger biru dari PAI UIN Jakarta dan Charlie’s Angels dari UI.
Iklan

8 pemikiran pada “Paradoks Kopi

  1. andai saja bungkus permen itu memiliki mata dan mulut, mungkin ia akan bilang dengan tatapan tajam, “Pemberian kata maaf anda tak cukup berarti dibanding kepingan garuda yang menengok ke kanan”

    Bukan cuman bungkus nya kang, mata pengamennya juga bilang gitu πŸ˜€

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s