Budaya Tertib Menggunakan Peci

A peci, songkok, or kopiah is a cap widely worn in Indonesia, Brunei, Malaysia, Singapore, the southern Philippines and southern Thailand, mostly among Muslim males [wikipedia].
Bisa terjemahin sendiri kan? :P. OK, saya bantu, peci/songkok/kopiah adalah topi yang secara luas dipakai di sebagian negara Asia Tenggara yang mana dipakai di kalangan kaum pria Muslim. Dengan kata lain, seolah negara-negara di sebagian Asia Tenggara itu sudah ada budaya tertib menggunaka peci.
Peci atau kopiah atau songkok seolah menjadi atribut yang membuat seorang laki-laki menjadi “tampan” ketika shalat maupun dalam kegiatan-kegiatan lain sehingga mencirikan pemakainya adalah orang sholeh.
Memang dalam setiap mesjid yang saya temui dimanapun, belum ada (bahkan tidak ada) yang mewajibkan penggunaan peci. Ya, memang peci itu sendiri tugasnya sebagai penahan rambut bagi mereka yang berambut gondes (gondrong desa) ataupun mereka yang memiliki poni lempar agarnya tidak menghalangi sujudnya.
Namun tidak jarang juga mereka yang berambut tidak gondrong alias berambut pendek alias cepak mengenakan peci. Alasannya mungkin bermacam-macam, ada yang terbiasa, ada yang memang nyaman menggunakan peci, dll.
Tidak sedikit orang yang tetap berpeci meski shalat sudah berakhir. Mereka yang membiasakan budaya tertib peci itu kadang sulit dikenali kalau pecinya dilepas, serasa orang lain. Contohnya saja Pak Haji yang punya warung, kadang kalau pecinya dilepas sulit dikenali.hehe. Dan saya sendiri punya teman yang kuliah terbiasa mengenakan peci, saya kenal dia dulu dengan pecinya sampai sekarang setiap kali ketemu pun pecinya masih setia menemaninya.
Dulu waktu ngaji di TPA memang peci menjadi kewajiban. Budaya tertib peci ini lambat laun luntur pada diri saya seiring bertambah usia. (don’t try this). Saya sendiri sekarang jarang mengenakan peci. Selain alasan “males” ada satu hal lagi yakni ukuran. Ya, ukuran! Entah karena otak saya lebih besar dari rata-rata homo sapiens atau apalah, saya sendiri kurang paham -___-. Yang pasti peci yang saya kenakan mesti berukuran sedikit tidak normal dari orang lain (besar-red) dan walhasil kadang sulit menemukan peci yang cocok (baca: muat) dengan kepala saya.
Kadangkala masih ingin juga membiasakan budaya tertib berpeci. Orang yang berpeci di luar shalat sepertinya memiliki kharisma yang “wah”. Seolah memiliki inner-beauty (so, inner-beauty bukan monopoli kaum hawa :P). Doakan saja saya bisa memulai dan seperti apa yang wikipedia bilang di atas, peci adalah atribut yang biasanya dipakai oleh kaum Muslim pria.
Siapa tahu setelah mengenakan peci, saya bisa seperti:
sumber: wikipedia

atau…

sumber: blogspot

Mungkin juga…

sumber: kapanlagi
AMIIIIN!!!!

Tapi jangan sampai jadi:

sumber: kasku
————————————————–
Artikel ini diikutsertakan dalam kuis Seruan Blogger: Gelorakan Budaya Tertib di Segala Bidang yang diselenggarakan oleh Pakde Cholik
Iklan

3 pemikiran pada “Budaya Tertib Menggunakan Peci

  1. Saya telah membaca artikel diatas dengan cermat
    Akan langsung saya catat
    Terima kasih atas partisipasi sahabat.
    Tak lupa saya mohon maaf atas segala kesalahan lahir dan batin. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
    Dari Surabaya saya kirim salam hangat

  2. Peci dipake di tempat yang tepat memang kelihatan “berkarisma” untuk lelaki yang memakainya 😀 Kelihatan gimana gitu :p
    Tapi jika dipake ditempat yang “salah” malah terlihat aneh ._. contohnya seperti teman anda yang memakai peci ke kampus, rasanya kurang pas. Tapi itu juga tergantung selera orang si ._.

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s