50 Meter

“Bu, numpang tanya, rumah Mr.K dimana ya?”

“Oh, guru yang punya warung itu ya
“Lurus aja terus!”
Sebuah warung teronggok gagah disamping jalan,
“Hmm, mau tanya, kalo rumah Mr.K itu dimana, ya?
“Oh, masih jauh, lurus terus aja”

Teringang-ngiang, lokasi yang dituju adalah rumah dengan warung. Saya dan satu teman-sebut saja Danny-menanyakan setiap warung untuk bertanya dimana rumah Mr.K. Siapa tahu salah satu diantara warung-warung itu adalah warung milik Mr.K.

Saya dan Danny memang ada perlu dengan Mr.K dan sialnya kami tidak tahu dimana lokasi persis rumahnya, kami hanya tahu gang utama rumahnya. Satu-satunya petunjuk yang kami pegang beliau adalah pewarung (baca: pemilik warung).

Gang Asem, detected!
Ya, nama gangnya adalah gang Asem. Entah apa yang melatarbelakangi namanya begitu. Mungkin banyak pohon asem yang jadi tempat jin buang anak atau entah apalah.hehe. Jalan dari mulai mulut gang cukup “nyaman” karena sudah dicor beton. Motor yang kami tunggangi pun menggilas lincah rebahan beton tersebut.
Sepi? Ya, karena sudah malam. Mencekam? Ya, mungkin berasal dari rengekan anak jin yang ga mau dibuang babehnya.haha. Tetap, fokus kami adalah warung. Ya, warung. Selama ada warung yang normal (bukan warung remang-remang), disitulah kami tanya lokasi rumah Mr.K.
Orang di warung pertama yang kami tanya memberikan jawaban terbaik, “lurus terus aja ke dalem!”
Jalan perlahan dengan kecepatan di speedometer 0 km/jam. Lho, kok motornya bisa jalan? Iya, speedometernya kan rusak.hehe. Seiring waktu menggulung malam dan lolongan pemuda mabok menambah  suasana menjadi semakin aneh di gang Asem.
Perhatikan setiap 50 Meter!
Cor beton jalan sudah mulai habis. Ah, mungkin dana PNPMnya dipake pak RW buat kampanye sebagai calon RW incumbent. Ah, terlalu jauh berpikir ke arah sana. Keanehan di malam itu semakin menjadi. Kami di motor hanya bisa melongo. Apakah kami sedang berhalusinasi? Apakah sedang terkena ilusi jin yang ngambek karena ketahuan dan malu hendak buang anak sama pemuda yang lagi mabok? Kami semakin bingung. Setiap kali memperhatikan suasana, semakin mencekam dan lagi-lagi kami semakin bingung.
Motor masih melaju perlahan. Speedometer tetap setia di 0 km/jam (masih rusak-red). Sampai di satu titik, Danny memberanikan diri untuk turun dan bertanya kembali dimana rumah Mr.K. Dan lokasi yang dituju Danny adalah warung. Ah, mudah-mudahan warung ini adalah warung milik Mr.K.
“Masih ke dalem lagi!” ujar Danny sambil melempar bokongnya yang tepos ke jok motor. “Warungnya di pertigaan jalan”
Barusan adalah warung ketiga dimana sebelumnya kami mendapat juga mendapat jawaban bahwa warung milik guru, yang kami yakini sebagai milik Mr.K, masih lurus ke dalam.
“Ini rumah Mr.K dimana, ya?”
Pertigaan nampak tersorot lampu motor. Kami dengan mantap melangkah turun dan bertanya apakah ini warung Mr.K. Tak lama kemudian Mr.K muncul.
Assalamu’alaikum”, saya dan Danny kompak mengucap salam.
“Wa’alaikumussalam!” Mr.K menjawab salam kami, “Silahkan masuk, akhi! (saudaraku-red)”.
Urusan kami berdua sudah terlaksana. Langsung kami menanyakan yang tadi kami rasakan di sepanjang gang Asem.
 
“Pak, disini aneh banget. Banyak banget warung! Tiap 50meter warung! Heran dari mulut gang nyampe sini udah lebih dari 5 warung yang buka, belum lagi tadi  ada warung yang udah tutup.”
 
***
Hoho. Garing ya ceritanya? Maklum masih amatir. Tak apalah, yang penting gatelnya tangan pengen nulis udah “digaruk” sama keyboard.
 
Belakangan ini, sempet kepikiran buat migrasi blog ini ke tetangga sebelah (you-know-who). Apalagi setelah iseng-iseng daftar dan dapet alamat yang bagus. Teman-temans, masbro/mbasist, agan/aganwati, tuan/nyonya Blogger Indonesia, mohon saran atas kegalauan saya tersebut. Apakah migrasi atau atau…?
Iklan

10 pemikiran pada “50 Meter

  1. Wahaha mungkin didaerah itu ada peraturan, 'antara warung-warung harus terpisah dengan jarak 50 meter' XD
    Weh mau migrasi? Migrasi kemana emangnya, bro? Ke wp ya? 😀

  2. mending warung, daripada tiap 50 meter isinya petshop.
    berisik gak ketulungan itu mah. hehehe

    kalo migrasinya menguntungkan, ya migrasi aja kalliii. dipikirin lg aja dulu. 😀

  3. kalo tiap 50 meter ada warung, berarti daerah itu cukup rame Kang tapi kok jalannya rusak ?

    blog sampean ini sudah banyak isinya, kalo saran saya sih yang ini di kelola dengan baik. Kalo mo migrasi domaian ya silahkan karena akan memacu semangat ngeblog

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s