Sahabat Gado-gado


“Mbak, Gado-gadonya empat, ya!”

“Pedes atau sedang?”

“Sedang aja, mbak!”
Tak lama, gado-gado lengkap dengan nasi tersaji di hadapan kami. Sarapan di hari kedua idul fitri (1 September 2011) begitu istimewa karena empat orang sahabat lama berkumpul kembali setelah semua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Saya dan ketiga sahabat ini adalah teman sekelas ketika SMP dulu dan hingga kini setiap lebaran, kami seperti memiliki agenda tak tertulis yakni selalu berkumpul sekalipun tidak terjadwal alias spontan begitu saja.
Sahabat saya yang pertama adalah Andri. Tipe orang yang sangat periang. Jika ingat dia maka saya langsung teringat vokalis Rolling Stones, Mick Jagger. Andri bekerja di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lebaran ini dia menyempatkan diri untuk pulang ke daerah Citeureup, Bogor dan yang pasti untuk berkumpul kembali dengan kami.
Lalu yang sahabat yang kedua adalah Sidik. Berbadan lumayan subur namun tetap gagah ketika datang dengan Satria FU-150 ke rumah saya (mungkin faktor kendaraan yang membuatnya terlihat gagah). Kini kesibukkannya adalah sebagai karyawan. Teman sebangku saya ketika SMP ini masih seperti sifatnya yang dulu yakni selalu jahil. Yang membedakan sekarang adalah dia selalu sibuk pacaran. Ketika datang sibuk dengan ponselnya, SMS dan telepon tak pernah absen dari genggamannya.
Dan terakhir bernama Fauzan. Sahabat yang terakhir ini cenderung yang paling kalem diantara yang lain. Yang hebat dari dirinya adalah King of Winning Eleven. Dia selalu saja bisa mengalahkan kami ketika beradu tanding di game sepakbola, Winning Eleven. Fauzan juga sekarang berstatus sebagai karyawan.
Gado-gado yang kami pesan tak terasa hampir seluruhnya bermigrasi ke lambung masing-masing dari kami. Selama sarapan itu, kami masih saja ngobrol ngalor-ngidul. Apa pun yang bisa kami bicarakan akan kami bahas. Mulai dari pekerjaan, urusan onderdil motor, sampai pekerjaan.
Diantara kami semua, hanya saya yang melanjutkan kuliah. Kadang terbersit perasaan malu ketika mereka sudah bisa memberikan uang ke orang tua tapi saya masih saja menengadahkan tangan meminta uang. Ingin rasanya seperti mereka. Ah, ungkin ini sudah menjadi mozaik hidup kami masing-masing. Tuhan selalu menyediakan jalan terbaik bagi hamba-Nya. Posisi mereka sebagai karyawan pun memiliki hikmah tersendiri karena sarapan kali ini pun gratis. Ya, sarapan gado-gado kami pagi itu ditraktir oleh Sidik. Thanks, Buddy.
Andri, Fauzan, dan Sidik datang sehari sebelumnya ke rumah saya dan memang rumah saya selalu menjadi tempat menginap rutin setiap tahunnya. Entah karena faktor apa, padahal letak rumah saya amat sangat tidak strategis. Yang pertama datang adalah Andri dan Fauzan. Masing-masing dengan motor sendiri, pertanda kesejahteraan finansial mereka yang membaik. Kami berjabat tangan erat dan saling bertukar kabar selama setahun ini, terutama Andri, bagaimana dia bisa “terdampar” di pulau Borneo dan bekerja di sana. Ternyata kesempatanlah yang membawa dia kesana. Kawan, pelajaran indah yang saya dapat dari dia adalah janganlah gengsi dengan sebuah kesempatan. Menginginkan segala sesuatu berada dalam zona nyaman kita. Berkaca dari Andri, saya justru menyimpulkan, kita lah yang membuat zona nyaman itu sendiri sekalipun orang lain menganggap zona nyaman yang kita buat memang benar-benar tidak nyaman.
Andri datang bersama Fauzan. Fauzan masih tetap seperti dulu. Suara baritonnya masih khas dan kadang kala masih berdialog menggunakan bahasa Sunda. Dari Fauzan, saya meresapi arti sebuah kesabaran. Dia menuturkan bahwa belum lama ini dia diterima di salah satu pabrik setelah sekian lama berikhtiyar melamar pekerjaan disana-sini namun dia tidak sekalipun mengeluh. Saya bisa tahu karena setahun lalu dalam acara silaturahmi rutin kami, Fauzan belum memiliki pekerjaan dan saat itu dia bersabar. Dia kala itu menceritakan dirinya yang gagal melamar pekerjaan disana-sini namun tetap semangat mencari. Terus dan terus mencari. Akan tetapi dia tak pernah kehilangan karakter aslinya yang ramah tersebut hingga akhirnya tahun ini dia mendapat pekerjaan setelah penantian panjang selama hampir setahun. Darinya saya bisa memahami apa arti kesabaran.
Dan yang terakhir datang adalah Sidik. Dengan Satria FU-150nya, saya kagum dengan teman sebangku saya ini. Pencapaiannya hingga kini begitu hebat. Sukses dalam pekerjaannya dan tidak kehilangan karakternya yang saya kenal sejak dulu. Memang ketika lulus SMP, kami berdua sudah tidak satu sekolah lagi. Di sekolahnya yang baru, saya sempat khawatir dia akan berubah menjadi “kurang terkontrol” karena sekolah barunya saya dengar-dengar memang terkenal dengan siswa-siswanya yang kurang baik dan anggapan saya ini sepenuhnya salah, setelah lulus dari sekolah tersebut justru membentuk karakternya yang baru yakni menjadi lebih tegas dan tentu saja tidak menghilangkan sifat jahilnya. Darinya saya belajar arti sebuah pendewasaan yang kadang stereotif, anak yang dididik di lingkungan keras selalu menjadi anak yang keras dalam artian negatif. Dari sahabat saya yang satu ini, saya menarik hikmah, meski lingkungan sekolah keras mendidiknya dan menjadikannya keras tapi keras disini berarti “keras” dalam artian positif yakni tegas.
Setelah semua berkumpul, semua kenangan kami endapkan kembali dan kami menghabiskan malam itu dengan baik hingga paginya Sidik mengajak kami sarapan di luar dan ternyata dia mentraktir kami semua dengan gado-gado yang tidak terlalu pedas.
Iklan

15 pemikiran pada “Sahabat Gado-gado

  1. Dulu aku juga gitu kok dee.. ada rasa iri lihat temen2 yg lgsg kerja saat lulus sma.. tapi nanti deh saat kita udah kerja setelah kuliah.. lebih menyenangkan menurut aku coz perjalanan kita lumayan lengkap dan panjang utk waktu seneng senengnya.. hehehehehe..

    Btw.. Gado gado satu pake lontong yak :p

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s