Pemilik Blog Ini Jadi Terdakwa

Selasa (15/11) matahari sudah mulai beranjak menggeliat di langit. Sesosok pemuda keren menunggangi Yamaha Jupiter Z dengan damai. Di pertengahan Jalan Juanda, Depok, sekumpulan makhluk mengenakan rompi hijau terang terlihat bergerombol dan menghentikan laju kendaraan yang lewat, termasuk pemuda keren tadi.
Ya, itu adalah razia lalu lintas. Naas, pemuda itu yang tak lain adalah saya sendiri menjadi pengendara yang distop. Singkat kata, diberikanlah surat tilang warna merah dengan delik pelanggaran pasal 293 (2) UU No. 22 Tahun 2009. Pasal itu saya langgar karena saya tidak menyalakan lampu motor ketika berkendara. Tertulis pula sidang tilang akan digelar di Pengadilan Negeri Depok tanggal 25 November 2011 pukul 08.00 WIB.
Kok narasinya malah kaya cerpen ya? Hehe. OK, kita ubah style narasinya.
Tanggal 25/11, tanggal yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Kuliah pun terpaksa izin. It’s OK lah, sekali-kali izin. Berangkat dari rumah pukul 06.30 WIB ke PN Depok yang terletak di kawasan Grand Depok City (dulu namanya Jalan Kota Kembang). Kalo dari Margonda, lurus ke arah Citayam trus belok kiri. Kalo dari Cibinong bisa lewat Pabuaran, Cilangkap atau Simpangan. Intinya mah nyampe lah. πŸ™‚

Pukul 07.21 WIB sampailah saya ke Pengadilan Negeri Depok. Entah karena saya yang terlalu bersemangat atau apa, situasi masih sepi suram. Kayanya sih kepagian. Sebelumnya saya sempet googling dulu bagaimana tata cara sidang tilang, maksudnya biar ga dikibulin calo yang berkeliaran.

Prosedur awal adalah mencari nama kita di papan informasi. Yang mengenaskan adalah hanya ada dua papan. Satu papan diisi kurang lebih dua belas lembar daftar nama dengan font sangat kecil (kayanya cuma 11pt). Ditambah lagi ga di sortir berdasar abjad nama para ‘pesakitan lalu lintas’ (baca: terdakwa tilang). Nama dibuat acak. Nomor surat tilang juga acak. Alamat juga acak. Ga ada klasifikasi berdasarkan apa pun. Hanya ada nomor urut.

Letak papan informasi ini ada di gedung belakang Pengadilan Negeri Depok. Pagi itu saya bersyukur, ga nyampe 3 menit udah bisa nemuin nama saya di antara belasan lembar daftar pesakitan. Pepatah “mencari jerami di antara tumpukan jarum” ternyata berlaku di sini. Banyak terdakwa yang panik karena pusing mencari namanya. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan para calo pencari nomor urut. Calo nomor urut ini bekerja layaknya Google Web Crawler. Mereka memilah-milah seribu lebih daftar nama untuk menemukan nama dan nomor urut kliennya. Calo nomor urut ini mematok tarif jasa Rp3000
Setelah saya temukan nama dan nomor urut, langsung saya menuju ruang sidang yang ditentukan. Nomor urut di daftar nama tadi menentukan di ruangan mana kita akan disidang. Pagi itu saya dapatkan nomor 661 dan ruang sidangnya adalah ruang sidang II. Di ruang sidang II, langsung kumpulkan surat tilang dan jangan lupa cantumkan nomor urut tadi di surat tilang. Hal ini bertujuan untuk memudahkan petugas menyortir barang bukti sitaan (SIM atau STNK). Pengumpulan surat tilang kalau bisa secepat mungkin agar kita tidak mengantri terlalu lama nantinya. Kurang lebih menganut sistem, first come first serve. Pengalaman yang saya saksikan, ada terdakwa lupa membubuhkan nomor urut di surat tilang dan akhirnya mesti berjubel lagi mencari nomor urutnya di papan informasi serta otomatis tumpukan di ruang sidang ada di paling atas.
Surat tilang dikumpulkan. Proses berikutnya adalah menunggu. Menunggunya pun lama bet. Selama masa menunggu itu, saya mengamati wajah-wajah penuh tafsir di sekitar. Ada yang wajahnya bisa ditafsirkan, “Waduh, uang makan dipotong nih gara-gara ngurus sidang”, “Mudah-mudahan titip absen lancar”. Ada juga yang berubah jadi kritikus dadakan. Dengan sesama terdakwa yang senasib seperjuangan, mereka pun mengkritik kinerja kepolisian lalu lintas yang (katanya) suka mencari-cari kesalahan. Ada yang menyampaikan keluh kesah dengan berapi-api. Ada yang menumpahkan sumpah serapah dan caci maki dengan menggebu-gebu. Rasanya kalo orang-orang ini bikin boyband pasti klop dah. πŸ˜€
Waktu sidang adalah pukul 08.00 WIB. Tapi karena Indonesia eksportir karet terbesar maka imbasnya sidang pun dimulai ngaret. Pak Hakim yang (katanya) terhormat itu pun baru datang sekitar pukul 08.42. Ruang sidang sudah penuh sesak dengan 500an terdakwa. Pak Hakim pun memulai sidang dengan prolog,
“Sebelum dimulai, saya memberitahukan kalau denda satu pasal untuk motor sebesar Rp30.000 dan mobil satu pasal Rp40.000”
“Jangan lupa juga ada biaya perkara sebesar Rp1.000. Jadi sebelum dipanggil satu per satu, harap persiapkan saja uang denda tilangnya.”
“Jika ada yang ingin mengajukan pembelaan atau keberatan. Terakhir saja, ya”
Satu per satu nama dipanggil. Tidak butuh waktu lama nama saya dipanggil. Surat tilang diproses dan saya langsung bayarkan uang pas ke bagian pembayaran denda di meja sebelah hakim. Saya menyodorkan uang pas Rp31.000.
“Jadinya Rp33.000, mas!” ujar salah seorang petugas pembayaran.
What the heck? Uang apaan tuh Rp2.000. Padahal Hakim bilang sebelumnya biaya total Rp31.000. Entahlah uang apa itu? Tanyakan saja pada KPK yang bergoyang.
SIM saya pun kembali setelah tertahan 10 hari. Sayangnya di SIM ada steples besar yang cukup mengganggu sehingga menimbulkan “oleh-oleh” lubang yang cukup besar juga. Waktu menunjukkan pukul 09.30 WIB ketika saya keluar dari Pengadilan Negeri Depok. Kurang lebih dua jam untuk merasakan sidang tilang ini. Sebenarnya proses sidangnya sendiri hanya satu menit saja. Yang memakan waktu adalah mencari nama di papan info dan menunggu nama dipanggil hakim.
Tips mengikuti sidang tilang di Pengadilan Negeri Depok
1) Datang pagi. Ini memudahkan kita menemukan nomor urut karena orang yang mengerumuni papan informasi masih relatif sepi dan calo nomor urut belum terlalu “ganas” karena semakin siang calo-calo ini akan sangat ganas kadang sedikit memaksa. Selain itu membuat tumpukan surat tilang kita ada di awal tumpukan sehingga ketika dipanggil akan semakin cepat dan jangan lupa tuliskan nomor urut di surat tilang sebelum dikumpulkan
2) Bawa pemutar musik. Setelah mengumpulkan surat tilang, proses berikutny adalah menunggu. Untuk mengusir jenuh, bisa dengan dengerin musik via headset. Kalo ga bawa pemutar musik, sebenarnya ada juga musik gratis dari pegawai pengadilan yang setiap hari jum’at selalu senam jantung dengan musik disco khas angkot.
3) Rileks. Awalnya saya sempat tegang maklum sidang pertama tapi setelah mengalami langsung rasanya biasa aja.Cuma modal sabar aja. Jangan juga mudah terintimidasi oleh calo-calo yang berkeliaran. Rileks saja, semua masih bisa diurus sendiri
4) Teknik yang jitu. Ketika mencari nomor urut di papan informasi. Jadikan patokan alamat sebagai keyword pencarian. Kalau mencari berdasarkan nomor surat tilang dijamin cepat pusing karena font sangat kecil dan nomor surat tilang cukup panjang. Saya sendiri awalnya menjadikan nomor surat tilang sebagai keyword tapi susah minta ampun. Akhirnya keyword pun beralih ke alamat. Alamat disini biasanya kota. Jadi cukup jelas, apakah Depok, Jakarta, atau Bogor.
5) Kerjasama. Jujur tips ini belum saya praktekkan tapi saya terinspirasi bagaimana sulitnya mencari nomor urut di papan informasi. Caranya cari kenalan seperjuangan yang juga jadi terdakwa sidang. Ingat jangan sampai terkecoh dengan calo. Setelah berkenalan, maka bekerjasamalah dalam mencari nama. Sambil kita mencari nama sendiri, kita juga ikut mencari nama kenalan tadi. Semakin banyak kenalan maka semakin cepat kemungkinan didapatkan. Tapi ketika kita sudah mendapatkan nama kita sendiri, ga ada salahnya kita ikut mencarikan nama kenalan terdakwa yang belum ketemu. Tapi jangan minta bayaran, kalo begitu sih kita malah jadi calo. hehe
Yap, sekian coretan ga jelas saya kali ini, semoga bermanfaat dan kita selalu taat berlalu lintas demi keselamatan bersama.
Iklan

12 pemikiran pada “Pemilik Blog Ini Jadi Terdakwa

  1. walaaaaaaaaah kirain tersangka yg kena undang2 ITE :D…. Ternyata kena tilang di mana mana jg NGARET,walaupun daerah saya bukan penghasil karet !

  2. wah, baru tau.
    ada sidang tilang kayak gitu thooo..
    haha pengalaman ya di. :p
    dimana2 selalu aja ada penilepan uang.
    kenapa harus nambah 2000?
    apa hakimnya nggak dapet gaji?
    lumayan tuh 2000×500=1.000.000
    ckckck

  3. “ada juga musik gratis dari pegawai pengadilan yang setiap hari jum'at selalu senam jantung dengan musik disco khas angkot”

    Emang ga ganggu sidang itu musik om?

  4. Selamat! πŸ˜€
    Yang saya heran, kl yang empunya kendaraan bersalah, mengapa STNK ikut ditahan? apa memang begitu aturannya? bukankah cukup SIM saja?

    Ow, saya sudah tahu jawabannya, tanyakan pada petugas yang bergoyang.

  5. @zuri: amit-amit deh jangan sampai kena UU ITE

    @srrriii: ya, pengalaman yang berharga.hehe
    entahlah kenapa nambah Rp2000, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang

    @ryankampur: thanks bro, segera meluncur ke blog ente πŸ˜€

    @iam: entahlah bro, buat naik haji kali.hehe

    @Miftahgeek: pas sidang mulai senamnya udahan

    @SB: setahu saya cukup SIM aja, kecuali ga bawa SIM atau SIM udah kadaluarsa

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s