Sang Ular Baja

Roda baja itu melambat menggilas bentangan baja kembar di bawahnya. Satu hingga dua menit menjadi krusial karena ia takkan singgah lama disini.

Bukan berarti sombong, ia melatih lingkungan agar bergegas.
Ia mengenal kasta, persis ketika fragmen pembentuk bangsa ini masih memberlakukan sistem monarki. Kasta teratas, semua mendapatkan yang lebih nyaman, tentu dengan rupiah yang lebih banyak. Sedang dengan kasta berikutnya, tak jauh beda hanya saja lebih miris. Ia bukan griya perbelanjaan, bukan pula tanah lapang tempat berkumpul para pedagang, tapi disini, di kereta kelas ekonomi ini, apa yang biasa didapatkan di griya perbelanjaan dan juga tanah lapang tempat berjaja, bisa didapatkan. Dengan harga yang menyentuh tanah, semua bisa menikmati proses ini, seiring dengan kontradiksi kenyamanan yang tersaji.
Jangan kau kira ia syahdu menggilas rel dengan bunyi khasnya. Kau mendapati orang berteriak, dengan dentuman gendang parau serta ukulele bersenar sumbang, yang pada akhirnya menguji sejauh mana kau erat menggenggam harta; di tangan atau di hati.
Semua orang bermimpi, lebih tepatnya mengecam pemilik moda ini, siapa lagi jikalau bukan pemerintah, tapi apa daya standar ganda yang kita dapatkan. Kita menuntut semua nyaman, semua sejuk, semua murah, namun ketika mencoba dari sendiri, sangat susah. Enggan membayar jatah masinis dari selembar tiket yang sangat murah. Mengelak, masa bodoh, standar ganda memang menjadi tameng tebal penghalang perbaikan diri.
Dari ular baja yang merambat cepat di jalur Pondok Ranji-Rangkasbitung ini, aku mendapatkan pelajaran. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, namun jangan lupa, kepala harus tetap menunduk, karena masih banyak yang kita abaikan di bawah. Jangan terus menerus mendongak menuntut matahari turun ke bumi, lindungilah yang ada di bawah agar tidak merasakan sinar matahari.
____
Refleksi dari KA Ekonomi jurusan Pondok Ranji-Rangkasbitung
Iklan

4 pemikiran pada “Sang Ular Baja

  1. yak bener banget.. Jangan cuma berkoar dengan kenyamanan fasilitas kan yak kalau masih ada banyak orang yang maunya gratis dan membahayakan orang lain yang udah bayar.. hmmm

  2. Standar ganda. Istilahnya boleh juga.

    Saya ga setuju kalo dibilang ada pembedaan kasta, disini berlaku siapa berani keluar duit lebih gan. Dua orang dengan kasta yang sama, bila diantara mereka pelit dan satu lagi mementingkan kenyamanan, maka ada resiko yang ditanggung.

    Konsep pembedaan kasta menurut konsep saya adalah jika kita membayar sama, namun mendapat kelas yang berbeda.

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s