Bus dan Sebuah Kontemplasi

“Belajarlah arti panasnya matahari dari seorang pedagang di jalan”

Bus ini tidak terlalu padat juga tidak terlalu kosong. Bisa duduk nyaman dan nyaris tidak ada yang berdiri. Bus ini seakan mengelabui, dengan tampilan berpendingin udara namun kecewa yang didapat karena tetap menyengat karena tak ada pendingin udara tersemat. Tak apalah ongkosnya tetap hemat.

Sebenarnya adalah hari libur tetapi kewajiban tetap mesti terlaksanakan dalam menjalani sistem suatu organisasi kampus. Tak apalah. Kesempatan. Empat tahun bergelut di dunia kampus harus ada sesuatu yang bisa dibawa hingga kemudian hari, mengais pengalaman berharga. Kebetulan hari itu angkutan umum jadi pilihan karena angkutan pribadi tak laik jalan.

Tak ada yang aneh ketika hendak berangkat. Semua normal. Pengamen menjadi pemandangan umum. Suaranya yang hampir bagus cukup membuat mata terjaga dari kantuk akibat desiran angin yang menelusup dari jendela bus.

Kawan, saya menemukannya dalam perjalanan pulang, dalam bus yang sama. Seorang bapak dengan sebuah karung, duduk damai di bagian belakang. Ketika naik tak ada yang aneh. Semua penumpang acuh tak acuh. Ketika perjalanan mulai menuju setengah jarak tujuan, si bapak mulai merangsek menuju bagian depan, tentu saja dengan karungnya yang besar. Tak lama butiran jeruk dalam jaring kecil terikat rapi di dalam karung tersebut. Bapak ini ternyata pedagang.

Saya mendengar dia berdoa sebelum menjajakan jeruknya. Sebuah doa sederhana berjuta makna: bismillah
Ia mulai menawarkan dengan bahasa Sunda yang sangat halus yang tak dapat dimengerti dengan sempurna. Tapi pada intinya ia hanya sebatas menawarkan, sejatinya pedagang yang baik. Tidak memaksa tidak juga mengintimidasi. Penumpang hening. Acuh. Bom baru saja dijatuhkan tapi tidak ada yang kaget sedikitpun, begitulah kira-kira ungkapan yang tepat untuk situasinya. Semenit berlalu, tak ada respons. Dua menit hingga lima menit, ia mulai menawarkan harga yang semakin murah dari yang ditawarkan di awal. Ia juga berbaik hati menawarkan beberapa buah jeruk untuk dicoba secara cuma-cuma.

Tidak banyak yang membeli. Saya hanya bisa menduga, ada yang membeli karena iba dan ada yang membeli karena memang ditakdirkan untuk membeli. Semoga Tuhan memaafkan dugaan saya ini.

Kawan, di depan mata, sebuah pelajaran terlihat nyata dan tanpa rekayasa. Bagaimana perjuangan ketika sikap mental di uji. Inilah salah satu ikhtiar para pemberani demi mencari sesuap nasi. Jujur, saya amat tertampar, saya belum bisa seperti bapak tangguh yang satu ini. Penuh simpati dan percaya diri. Dalam konteks yang lebih sederhana lagi pun, saya masih sangat meragukan diri sendiri apakah mampu.

Kontemplasi dari bus Kosub jurusan Kp.Rambutan-Cibinong

Iklan

9 pemikiran pada “Bus dan Sebuah Kontemplasi

  1. yak, terkadang untuk memperoleh sesuap nasi harus melakukann banyak cara. dan di dalam bis itu banyak kejadiannya..

    gak cuman cara baik.. cara nburuk juga banyak

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s