Sistem Koloid

OK, kalau saya tidak salah ingat, materi tentang sistem koloid diajarkan di tingkat XI di Sekolah Menengah Atas.

Tapi sebelumnya, ketika anda membaca judul di atas dan merasa sedikit alergi, mohon buang jauh-jauh alergi anda karena saya bukan ingin membuat kesenjangan fundamental antara anak IPA dan IPS semakin lebar, tapi cobalah anda menyimak sedikit cuplikan pelajaran eksak, karena bagi saya, pelajaran eksak cukup menarik dan penuh hikmah.

Secara definisi, koloid adalah bentuk materi yang memiliki sifat di antara larutan dan campuran (suspensi). Koloid juga memiliki karakteristik beragam antara lain gejala pemantulan dan pembauran cahaya oleh partikel dispersi sistem koloid atau bahasa anak sekolahnya disebut efek Tyndall. Juga ada gerak Brown, Liofil-Liofob, dll. Mungkin jika saya jabarkan anda akan segera berhenti membaca tulisan ini dan kembali melakukan aktifitas anda.
Bermacam contoh koloid ada di sekitar kita, tergantung dalam fase apa koloid itu terbentuk, bisa dari fase padat-cair, padat-gas, gas-cair, dll. Contoh yang ada di kehidupan sehari-hari agar-agar, cat, busa, asap, kabut, busa, susu, mentega, dan juga beberapa senyawa kimia lain yang tidak bisa disebutkan semuanya disini.
Last but not least, koloid berarti suatu zat antara larutan sejati dan campuran serta ia memiliki karakteristik tertentu dan ia bisa berada dalam bentuk tertentu tergantung dari fase apa ia terbentuk.
Dan sekarang mari kita kontekstualisasikan tentang koloid di atas, dalam keseharian kita.
Koloid adalah zat yang berada di pertengahan. Dalam bahasa ilmiah, moderat.
Ia tidak melebur layaknya gula dan air, membentuk larutan sejati sehingga sulit dibedakan mana air dan mana gula secara fisik. Dalam hal ini, kita ibaratkan diri kita gula dan lingkungan adalah air. Tentu gula dan air jika berinteraksi akan melebur satu sama lain, diri kita pun jika dikondisikan selayaknya gula dan mudah melebur begitu saja dengan air, atau dengan kata lain, kita terpengaruh dengan lingkungan, maka posisi kita tidak akan bisa diperhitungkan lagi di lingkungan tersebut. Kita kehilangan jati diri.
Koloid pun tak seperti suspensi atau campuran. Contohnya air dan tanah. Jika tanah dan air berinteraksi yang ada hanyalah campuran yang keruh. Begitu juga jika kita memposisikan diri sebagai tanah dan lingkungan kita sebagai air, yang terjadi kita hanya menjadi pihak yang memperkeruh suasana tanpa pernah bisa berbaur dengan lingkungan. Disini, kita menjadi sombong.
Lantas, contohlah koloid, ia bisa memposisikan diri bukan sebagai larutan dan juga bukan sombong berdiri sendiri serta memperkeruh suasana layaknya campuran. Koloid bisa menampakan berkas cahaya seperti apa yang dimaksud dengan efek Tyndall, ia bisa menampakan berkas cahaya kebaikan yang nampak bagi lingkungan. Koloid juga memiliki gerak Brown atau gerak lurus kesana-kemari. Mari kita contoh, gerak lurus kesana-kemari adalah langkah gerak hidup yang patut kita contoh. Ia lurus dan dinamis, tidak berdiam diri, mematung, lantas membusuk begitu saja sehingga tidak berpengaruh apalagi bermanfaat bagi lingkungan. Bahkan ia hanya bisa mengotori lingkungan.
So, are we “koloid”?
Or just a solution?
Or worst, just a suspension?
 —
Terinspirasi dari:
– Dokumen memorabilia PKL di Lab. Kimia PT.KIA Bogor,
– Anak-anak Kimia 1 2007 SMKN 1 Gunung Putri Bogor,
– dan jas lab yang sampai hari ini belum dikembalikan oleh yang pinjam.
Iklan

3 pemikiran pada “Sistem Koloid

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s