Menentukan Detik

“Grrrrr”
Ada guling terlempar.
“Hoaaaaaamh”
Mata terbelalak mengumpulkan nyawa, alarm handphone berdering tanpa ampun membabi buta memecah ruangan.
“05.30” gumam Abo, pemuda gagah perkakas harapan bangsa yang menggantungkan asa setinggi jemuran.
“hmmm…toleransi 15 menit, warga Indonesia kan suka toleransi”
Dan guling yang tadi ia lempar kini kembali dipeluk, sama paradoksnya dengan para penjilat ludah di negeri ini.
Sambil memeluk guling, Abo men-snooze alarm handphonenya.
***
Mata Abo terbelalak, dia kucek matanya berkali-kali.
“Ciat…ciat…ciat….gawat!!!”
Abo kini sawan bak kesurupan jin epilepsi, secara sporadis ia petik handuk dari sudut kamarnya. Handphone tak berdosanya dilempar tanpa ampun ke hamparan kasur. Angka 06.16 mengaduh dari balik layarnya.
Abo yang serba praktis hingga urusan kamar mandi pun sangat cepat, geraknya lebih cepat daripada Usain Bolt yang sedang berlari sprint 100m memecahkan rekor dunia di Olimpiade 2012.
***
Dia panaskan mesin bebek besi yang terpasung lesu dan kotor  berlumuran tanah di ruang tengah, sorot mata lampu yang mirip burung hantu seolah berteriak “lebih baik bunuh aku ketimbang dibiarkan seperti ini”.
***
Setelah pamit memohon restu keberangkatan kepada orang tua tercinta, Abo langsung bermanuver bak pembalap MotoGP, belum sempat masuk gigi 3, handphonenya berteriak.
Bebek murung mencicit dipaksa berhenti, seperti hendak menanduk artis sinetron yang memilih berteriak ketimbang menghindar dalam adegan tabrakan.
Handphone menengah ke bawahnya menyampaikan amanah dari seseorang nun jauh disana.
“Eh…ganteng, dimana lu?”
“OTW…”
Abo balas dengan cuek dan kembali menggenggam batang kemudi si bebek murung nan dekil yang beberapa menit lalu minta dibunuh.
Gigi 1…2…3…4
Dan tidak pernah ada gigi 5, si bebek meraung-raung di tengah perjalanan layaknya Bruce Banner yang segera berubah jadi Hulk.
Satu menit…
Satu jam…
Satu setengah jam…
Kini nampak kampus megah nan gagah di hadapannya. Parkiran yang sepi membuatnya bebas menentukan pilihan.
Ah, andai saja memilih mahram nanti sebebas ini.hehe
Gumamnya hanya mampu didengar si bebek. Sejurus kemudian handphonenya sudah dalam posisi siap, yang sebelumnya terkunci dan sesak nafas di dalam saku jaketnya. Jempolnya meliuk-liuk cepat mengetik satu, dua, tiga, berkali-kali, dan agak lama. Sepintas, Abo jago sekali mengetik SMS secara cepat padahal sebenarnya lebih banyak menekan tombol hapus dan isi SMSnya pun hanya:
“Masbroh, ente dimana?”
Satu menit Abo mematung, dua menit , tiga menit, dan menit keempat mulai terasa dihinggapi lumut.
Abo berjalan menyusuri ladang paving blok, matahari menyorotnya dengan tajam layaknya pemain opera yang sedang menyanyi solo di atas panggung. Pepohonan yang diameternya tak lebih daripada diameter panci tak banyak membantu. Kampus ini tatkala terik seperti negara bagian Texas di Amerika sana yang panas namun saat hujan disertai angin lebih mirip kapal nelayan menerjang badai di Samudera Pasifik.
Sampailah ia ke destinasi dimana Ewan berada, sang lawan mainnya di cerita ini, yang tadi SMS.
“Assalamu’alaikum” Abo nyengir bak kuda polisi kerajaan Inggris.
“Wa’alaikumussalaam…”
“Sampe mana Wan?”
“Sampai nanti…sampai mati” Ewan berubah melankolis dan suaranya dipaksakan seperti vokalis band Lettto.
Iyee tau, tulisannya Letto bukan Lettto, “t” nya dua.
“Bo…” ujar Ewan dengan suara ringan.
“Iye, bro?”
“Acaranya gagal”
Duarrr…petir seperti menyambar. Matahari seolah kehilangan reaksi fusinya dan tiba-tiba redup.
“Kenapa Wan?”
“Draftnya kan lu yang bawa, tadi gua gimana mau ketemu Pak Samun”
Abo masih terbelalak, denyut jantungnya masih bertempo progresif.
“Pak Samun cuma ada tadi pagi jam 07.30 dan sebenernya gua udah coba nego apa bisa tanda tangan sama perwakilannya aja”
“Trus…trus?”
“Nabrak!” Ewan melawak tapi tak lucu.
Ewan menambahkan, “Jadi, draft acara mestinya disahkan hari ini oleh Pak Samun, sang Pembina Kemahasiswaan. Berhubung tadi ga ada draftnya, jadi apa daya, nasi udah jadi bubur”
“Kecapin aja Wan buburnya” Abo mencoba melawak dan tambah tidak lucu hingga jangkrik rela bangun siang itu dan berbunyi.
“OK, Bo, lain kali kalo mau acaranya sukses, bawa draftnya agak pagian ya”
Erwan mencoba satir sehalus mungkin.
“Afwan ya, Wan” sejurus Abo memelas dan berujar seperti anak LDK.
(tamat)
Hanya sebuah #NtMS (#notetomyself)
10 Agustus 2012 pukul 8.06 WIB

Satu titik di enam derajat lintang utara.

Iklan

Satu pemikiran pada “Menentukan Detik

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s