Komuter

Komuter (berasal dari bahasa Inggris Commuter; dalam bahasa Indonesia juga disebut penglaju atau penglajo) adalah seseorang yang bepergian ke suatu kota untuk bekerja dan kembali ke kota tempat tinggalnya setiap hari, biasanya dari tempat tinggal yang cukup jauh dari tempat bekerjanya. (wikipedia)

DKI Jakarta, dengan segala permasalahan dan kehebatannya, baru saja menggelar Pilkada memperebutkan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur yang habis masa berlakunya Oktober tahun 2012 ini. Kedua belah calon sudah memaparkan sejumlah janji (baca: mimpi) untuk dapat membereskan Jakarta yang warna-warni ini.
Sebagai ibukota negara Indonesia, DKI Jakarta menjadi sebuah magnet kuat penarik segala hal termasuk aktifitas ekonomi. Perputaran uang di Jakarta bisa dibilang tidak sedikit sehingga menjadi pemikat utama semua lapisan masyarakat mengadu nasib dan investasinya di Jakarta. Implikasi dari pusat ekonomi sudah pasti menimbulkan segudang persoalan baru.
Persoalan itu salah satunya, ya salah satunya adalah hadirnya para penglaju atau komuter.
Seperti yang sudah dikutip dari wikipedia di awal tulisan, komuter dapat dibilang sebagai “penduduk bayangan” suatu kota besar. Jika berbicara Jakarta, maka para komuter berasal dari daerah penyangganya yakni Depok, Bogor, Bekasi, dan Tangerang. Penduduk bayangan dari daerah penyangga tadi memiliki mobilitas yang tinggi dari tempat tinggalnya hingga tempat beraktifitasnya di Jakarta.
Perkenalkan, saya mahasiswa 2010, kuliah di salah satu perguruan tinggi yang ada di “bekas” wilayah Jakarta, UIN Jakarta. Dulu kampus ini masuk daerah Jakarta Selatan. Kini, secara administratif UIN Jakarta masuk wilayah Provinsi Banten.
Terlepas Banten atau Jakarta, tetap saja kampus ini mempunyai jarak yang lumayan dari rumah saya sendiri. Jaraka yang lumayan ini membuat saya menghadapi dua opsi, pertama menetap di kampus sebagai anak kost dan kedua menjadi komuter.
Menjadi komuter adalah pilihan yang menantang. Semuanya dituntut serba disiplin. Durasi perjalanan berangkat maupun pulang yang panjang mau tidak mau, suka tidak suka, senang tidak senang harus masuk perhitungan manajemen waktu sehari-hari.
Apakah capek?
Yaaaa, relatif. Akan tetapi apalah artinya jarak demi segenggam nasi dan sebongkah uranium πŸ˜€
Hehe…
Salah satu hal yang memotivasi saya menjadi komuter terinspirasi dari tokoh Lintang dari novel Laskar Pelangi. Bagaimana Lintang dengan mengayuh kereta angin alias sepeda dengan jarak puluhan kilometer demi sebuah pencapaian menuntut ilmu meskipun pada akhirnya Lintang harus berakhir di laut menafkahi keluarganya.
Yap, demikianlah, kadang sebuah motivasi datang dari suatu kisah orang lain.
Lalu, bagaimana dengan anda?
Iklan

5 pemikiran pada “Komuter

  1. Kenapa pula pake sebongkah uranium, jadi keinget temen gw yang kalo nyanyi lagu yang sama tapi pake nya plutonium, yang lebih mahal dari berlian katanya XD

    Jadi gimana orang commuter dengan kenaikan harga tiket KRL kali ini? πŸ™‚

  2. karena uranium lebih prestise, bisa bikin dua negara adu jotos, kalo berlian, too mainstream

    waduh, sayah komuter roda dua, ga berKRL ria…agak disayangkan kemaren baru naek Rp2k eh anjlok di cilebut #elusdada

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s