Selamat Datang Angin Barat

Selamat datang bulan-bulan berakhiran –ber…
Jangan lagi merindukan hujan di bulan-bulan ini…
**
Oktober merupakan bulan dimana angin dari arah barat atau samudera Hindia yang kaya akan uap air mulai berdatangan Indonesia. Angin barat ini memiliki siklus enam bulan sekali mulai dari bulan Oktober hingga April dan kebalikannya, angin timur, bertiup dari April hingga Oktober setiap tahunnya. Itupun dengan catatan tidak ada anomali cuaca dalam tahun tersebut, seperti fenomena el nina dan la nina.
Di Indonesia angin ini merupakan angin musim Timur Laut di belahan bumi Utara dan angin musim Barat di belahan bumi Selatan. Oleh karena angin ini melewati Samudra Pasifik dan Samudra Hindia maka banyak membawa uap air, sehingga di Indonesia terjadi musim penghujan. Musim penghujan meliputi seluruh wilayah indonesia, hanya saja persebarannya tidak merata. makin ke timur curah hujan makin berkurang karena kandungan uap airnya makin sedikit. (Wikipedia)
Bagi seorang komuter dengan sepeda motor seperti saya, hujan adalah hal tidak-bisa-tidak, suka-tidak-suka, senang-tidak-senang pasti menyapa di tengah jalan. Jalanan yang menyemut dengan para biker bisa sekejap sepi ketika hujan lantaran para biker ada yang memilih “bersembunyi” di bawah jembatan, jalan layang, warung-warung, dll.
Dari sekian opsi ketika hujan tersebut, saya lebih memilih menjadi rider in the storm alias penerjang hujan. Tentu konsekuensinya harus membawa jas hujan lengkap, mengkondisikan tekanan angin ban agar tidak mudah selip, dan juga bensin yang cukup karena cukup repot jikalau kehabisan bensin di tengah hujan, yang ada malah menjadi stormwalker (pejalan kaki di tengah badai). hehe
Berkendara di tengah hujan memang memiliki tantangan tersendiri. Kepeleset, mesin mogok, tersambar petir,  jarak pandang berkurang, dll, adalah hal yang mesti diwaspadai. Akan tetapi dengan kehati-hatian yang cukup dan berlatih keras, Insya Allah lancar jaya.
Dalam keseharian menjadi komuter Gunung Putri-Ciputat, bagi saya hujan adalah momen yang cukup impresif. Di kala hujan, entah kenapa sangat mudah berkontemplasi memunculkan sisi humanistik yang lebih peka dalam diri lalu mengamati lingkungan sekitar dan kemudian mengaktualisasikan hikmahnya dalam sanubari. Memang terdengar melankolis. Saya setuju bahwa hujan adalah saat yang tepat untuk bermellow ria.hehe. Tentunya dalam mellow tataran yang konstruktif.
 
Hujan memang pengantar renungan yang cukup jitu. Contohnya, pekan lalu di awal-awal Oktober ketika pulang kuliah berhujan-hujan ria, sepanjang perjalanan terlahir sekian banyak renungan seperti renungan-renungan masa depan dengan format: apa? kapan? dimana? kenapa? siapa? bagaimana?

Saya akui hujan adalah stimulus yang dahsyat untuk melakukan hal-hal konstruktif, seperti berkontemplasi. Entah kenapa, dinginnya udara ditambahnya musik alam hasil gemericik air sangat bermakna meskipun ia berupa lagu tanpa lirik.

Demikian dengan saya, bagaimana dengan anda?

Iklan

2 pemikiran pada “Selamat Datang Angin Barat

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s