Pemuda dalam Desikator

“Wahai Pamanku, demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, hingga Allah memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkannya”

Kalimat itu lah yang diucapkan Muhammad Saw tatkala orang-orang Quraisy melobi paman beliau, Abu Thalib, agar keponakannya itu berhenti menyebarkan Islam. Abu Thalib selaku orang yang menjamin keselamatan Rasulullah Saw dalam menyebarkan Islam di Makkah, risau atas lobi pihak Quraisy hingga datanglah ketegasan sikap Rasulullah Saw dan akhirnya sang paman pun memafhuminya.
Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Peribahasa ini menyiratkan bahwa dimanapun kita berada, ada keutuhan nilai atau norma yang harus selalu terjaga karena langit yang kokoh tanpa tiang tersebut terlihat sama di belahan bumi manapun, kokoh membentang dari horison ke horison.
Keberadaan kita di satu organisasi atau kelompok apapun mengharuskan kita untuk tetap menginternalisasikan nilai-nilai luhur langit sebagaimana yang difirmankan Maha Perkasa dan disabdakan utusan-Nya. Nilai itu salah satunya sikap tegas.
Tersebutlah suatu hari, seorang pemuda berusia 20 tahun, menghadapi kerumunan massa yang tengah menghadapi satu masalah yakni terdapat tumpahan minyak yang tertumpah. Secara mufakat, kerumunan massa mengangkat sang pemuda 20 tahun tadi sebagai pemimpin pemecahan masalah tumpahnya minyak tersebut.
Satu dari kerumunan massa dengan suara lantang menyerukan agar minyak yang tumpah dibasuh dengan air sebanyak-banyaknya sehingga diharapkan fasa minyak yang ringan dapat terangkat dengan basuhan air yang banyak tersebut.
Satu orang lain dari massa pun nampak keberatan. Dia menganggap basuhan air hanya akan memboroskan air. Ia menawarkan sabun sebagai katalis agar air dan minyak dapat sama-sama terangkat dan lenyap.
Namun, sosok lainnya menentang ide dari orang kedua tersebut. Menurutnya sabun hanya akan menimbulkan permasalahan baru, yakni pencemaran. Lantas saat ditanya solusi yang tepat nan jitu, ia tak bergeming. Ia tak punya solusi.
Sosok pertama mulai meninggikan nada suaranya hingg okraf tertinggi pun tercapai dan semua mata tertuju padanya. Kini bak penyanyi opera yang tersorot lampu panggung, ia menyatakan bahwa idenya lah yang terbaik.
Tetiba, sosok kedua pun tak kalah gaduh. Suaranya menginterferensi suara sosok pertama sehingga kerumunan massa ini tumpah ruah dalam suasana yang kikuk. Hal ini semakin diperparah dengan sosok ketiga yang pada awalnya tak punya solusi, mulai menyuarakan agar semua tak memilih ide yang ada: menyapu fasa ringan minyak yang me-mubazir-kan air atau mengkatalisasinya dengan sabun yang mencemari lingkungan.
Kini di tengah kegaduhan kumpulan itu, tinggallah sang pemuda 20 tahun yang nampak bingung. Kedua ide terdengar brilian. Tetapi logika abstrak sosok ketiga pun patut diperhitungkan. Kepalanya tertunduk, pikirannya menerawang. Pikirannya yang cenderung imajinatif tidak langsung menjawab permasalahan yang tersaji di depan mata.
Ia terpejam memikirkan satu benda.
Benda tersebut adalah desikator atau sebuah apparatus laboratorium yang lazim digunakan untuk menyejukkan suhu suatu benda yang belum sesuai dengan suhu ruang dan juga untuk menjaga benda tersebut tetap bebas dari kelembapan yang dapat merubah sifat sang benda tersebut.
Desikator berbentuk wadah dengan ukuran beragam dan didalamnya terdapat granulat silika gel sebagai pengikat uap air yang berfungsi menjaga kelembapan benda yang masuk ke dalamnya.
Desikator pun harus selalu teroles vaseline, sejenis bahan pelumas padat agar tutup desikator dapat dengan mudah dibuka tutup. Membuka tutup desikator tentu berbeda caranya dengan membuka tutup gelas. Ia menggunakan teknik tersendiri.
Sang pemuda kini mengaitkan lamunannya dengan kejadian di depan matanya.
“Andai saja diriku seperti desikator ini. Mampu mendinginkan benda panas dan membuatnya tetap kering dari uap air, tentu kerumunan massa di depanku yang tak ubahnya benda panas dapat terdinginkan sempurna sesuai dengan suhu ruang dan masing-masing tidak memiliki kelembapan di hatinya”
Sang pemuda bermonolog dalam hati.
“Sebagai desikator tentu aku mempunyai pengorbanan. Granulat-granulat silika gel yang ada di tubuhku tak selamanya dapat menahan uap air. Ia memiliki titik jenuh. Sesekali perlu diperbaharui agar kinerja semakin optimal”
Sang pemuda menghela nafas panjang.
“Granulat silika gel tak ubahnya sisi spiritualitas. Keshalihan pribadi yang tertransmisi setiap saat kesemua orang. Jika ia dalam titik jenuh, hilangnya keshalihannya dan semua orang disekitarnya tak mampu menangkap getar langit dari dirinya”
“Juga aku butuh vaseline, sebagai pembuka tutup yang rapat. Vaseline pun tak ubahnya sebagai ilmu yang harus terus menerus tersuplai agar tutup desikator tidak macet”
“Semoga aku bisa menjadi desikator yang baik” Sang pemuda menyudahi lamunannya.
Kini sang pemuda menatap sayu kerumunan massa.
“Kalian semua, rontokkan rambut kalian!”
Massa kini bergemuruh dengan tawa. Rambut? Untuk apa? Di tengah masalah yang pelik ini hanya gegara tumpahan minyak apakah sang pemuda melempar lelucon?
“Sekali lagi, rontokkan rambut-rambut kalian!”
“Kumpulkan menjadi satu bagian yang besar”
Kerumunan massa pun tersadar bahwa sang pemuda sedang tak berlelucon, terlebih ia adalah pemimpin atas pemecahan kegaduhan ini.
“Sekarang letakkan kumpulan rambut ini di atas tumpahan minyak” ujarnya sambil membopong dengan payah gumpalan rambut yang besar tersebut.
Ajaib! Tumpahan minyak berangsur menghilang terserap gumpalan rambut tersebut. Kerumunan massa sontak bergembira tatkala melihat masalah sudah terpecahkan. Keputusan tak populis dari sang pemuda menjadi solusi jitu atas masalah yang ada.
 
“Aku berusaha menjadi desikator yang baik hari ini, entah dengan esok hari”.
 
“Kawan, tetap ajarkan aku bagaimana ketegasan bisa disampaikan sedari awal”
Iklan

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s