Siklus

“…cause i’m only a crack in this castle of glass, hardly anything left for you to see” (Linkin Park – Castle of Glass)
Membicarakan siklus, seperti membicarakan sebuah pertanyaan klasik, “Mana yang lebih dahulu? Ayam atau telur?”. Ia tidak berujung dan tidak akan pernah selesai kecuali kita mundur dari pembicaraan tersebut.
Sama halnya juga dalam sebuah sistem. Sistem dimana siklus bermain peran di dalamnya. Sistem yang dimaksud adalah sistem organisasi. Seperti kita tahu, organisasi adalah sekumpulan orang yang melakukan aktifitas tertentu untuk mewujudkan kepentingan tertentu. Lumrahnya, organisasi mengenal sebuah regenerasi karena matinya regenerasi ibarat menyalakan petasan dengan sumbu pendek. Ia akan meledak dengan cepat.
Apapun organisasinya, saya rasa anda akan sepakat dengan adagium “right men on the right place”. Orang tepat harus di tempat yang tepat. Namun jika ada tawar menawar dengan keadaan, maka adagium tersebut harus bergeser menjadi “best men at their soon-to-be-the-best place”. Keadaan kadang tidak menjanjikan regenerasi yang sempurna. Kekurangan kuantitas anggota dan juga ketimpangan potensi anggota menjadi faktor kunci yang harus dapat ditolerir dengan idealisme sistem yang dijanjikan.
 Warisan atau Kebutuhan?
 Lagi-lagi dalam perjalanan sebuah organisasi kita dihadapkan pada kondisi dimana kita harus melanjutkan kerja para pendahulu atau melancarkan inovasi dan kreasi baru. Dalam teknisnya, ada istilah pewarisan program atau sistem kerja. Pewarisan inilah yang terkadang membelenggu ruang kerja kita. Ibarat gajah yang trauma akibat dirantai sehingga ia tidak akan kemana-mana ketika kakinya di rantai mesipun rantainya hanya menggantung alias tidak tertambat. Kadang sosok tertentu memiliki potensi di luar arus (mainstream) akan tetapi pengaruh “rantai gajah” tadi pelan tapi pasti mereduksi potensi yang dimiliki. Padahal potensi-potensi yang ada tidak selalu berbenturan dengan visi adiluhung organisasi yang ia jalani.
Oleh karena itu, penting kiranya menakar mana warisan yang bersifat pembebanan dan mana warisan yang bersifat inspirasi. Mewarisi inspirasi adalah langkah bijaksedangkan mewarisi pembebanan adalah suatu kemunduran.
Pentingnya disini ialah perlunya diskursus atau pembahasan yang coba menggebrak ruang semu yang ditimbulkan akibat beban warisan. Paradigma pembebanan warisan harus bisa didobrak oleh orang punya visi penuh dan keberanian penuh serta tanggung jawab penuh. Alhasil orang seperti ini mampu menjawab apa yang dibutuhkan dalam ruang gerak organisasi bukan sekedar tradisi waris-mewarisi yang secara subtansi bisa saja bersifat fleksibel sesuai dengan kondisi ruang dan waktu setempat.
Metafora Akhir Kepengurusan
Saat akhir kepengurusan adalah saat dimana kalimat-kalimat bernuansa metafora bertebaran, baik via SMS atau jejaring sosial. Entah yang secara tersirat mengucapkan selamat atau sekedar permintaan maaf. Orang yang jarang bermetafora akan semakin gencar bermetafora di akhir kepengurusan ini. Kadang sebagai subjek tujuan dari metafora yang dibuat tersebut, kita merasa kurang nyaman alias menganggapnya hanya kalimat manis belaka.
Oleh karena itu, sebaiknya kita sebagai subjek tertuju cukup mengais subtansi inti dari kalimat-kalimat metafora tersebut dan jangan terlalu merisaukan diksi yang melangit. Untuk subjek pembuat pun sebaiknya jangan membuat metafora-metafora manis yang berlebihan. Bukankah kadar gula yang tinggi rawan menjadi diabetes? Begitu pula dengan metafora yang dibuat. Buatlah seadanya. Jika tidak bisa merepresentasikan diri sendiri, jangan dipaksakan. Jika perlu sekalian tidak usah bermetafora, cukup sampaikan kalimat inti saja.
 Sebagai epilog, mungkin tulisan ini sangat tidak jelas arah, subtansi, bahkan diksinya. Semoga apa yang didapat dan apa yang dipertanggungjawabkan adalah sebuah upaya memperbaiki karena siklus yang baik adalah siklus tanpa anomali.
Celah yang cerah di langit Bogor
 19 Januari 2013

*hanya tulisan tidak jelas dari sosok tidak jelas*

Iklan

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s