Expectedition #1: Kali Krukut

Waktu    : 28 Januari 2013
Alasan   : Pulang Kuliah – Iseng
Yap, terima kasih untuk anda yang masih setia membaca blog ini. Pada kesempatan ini dan mungkin seterusnya, saya akan coba menuliskan sebuah sub tema postingan bernama EXPECTEDITION. Apa itu Expectedition? Ada  baiknya sebelum dijelaskan, kita simak episode perdana Expectedition.
***
Sebagai seorang komuter yang pulang pergi dari wilayah pinggiran ke arah ibukota dan sebaliknya, tentu harus mengetahui jalan yang dilalui agar tidak terjebak kemacetan ataupun kendala lain yang dapat menghambat perjalanan.
Perjalanan kuliah kali ini cukup spesial dibanding biasanya. Sebenarnya bukan kuliah dalam arti sebenarnya karena sedang masa liburan. OK, bukan itu intinya tapi yang ingin saya ceritakan pada Expectedition kali ini adalah perjalanan pulang melalui jalan yang berbeda dengan jalan yang biasa saya lalui. Lantas, apa menariknya? Yap, sebisa mungkin akan saya buat menarik.hehe
Rute perjalanan kuliah saya dari wilayah Gunung Putri, Kabupaten Bogor menuju Ciputat, Tangerang Selatan, adalah Gunung Putri-Cimanggis-Margonda-Srengseng Sawah-Cinere-Pondok Cabe-Ciputat. Jalur ini boleh dibilang lumayan baik jika dilihat dari segi kepadatan kendaraan. Ketimbang melewati Jalan TB Simaputang, Jakarta Selatan, jalur ini sejauh pengamatan saya lebih lancar dan jarang (bahkan tidak pernah) terjadi kemacetan parah. Di jalur ini pula, dijamin anda bisa sedikit rileks karena melewati kawasan hutan kampus Universitas Indonesia. Oh ya, saya lupa bilang, jalur yang saya bilang adalah jalur untuk sepeda motor karena memang saya menggunakan sepeda motor.
Namun, sore itu, saya sedikit mencoba jalur yang lain menuju rumah yakni melewati jalur sepanjang kali Krukut, Depok. Jalur ini dimulai sejak Cinere sehingga saya tidak melewati Srengseng Sawah. Tepatnya di perempatan Gandul.
Tak ada yang spesial dengan kali Krukut ini. Airnya coklat dan jika musim penghujan akan meluap ditambah kali ini berhulu di daerah selatan (Bogor) yang curah hujannya tinggi. Sepanjang Jalan Raya Gandul-Krukut, kali ini dapat dibilang membuat pengendara was-was karena di beberapa titik tidak ada separator pembatas antara jalan sehingga lengah sedikit saja, kendaraan bisa terjun bebas ke dalam kali yang jurangnya cukup dalam, sekitar 5 sampai 10 meter (saya tidak bisa menghitung persis). Pemandangan jalan seperti itu mungkin pernah juga anda temui di tempat lain. Bahkan mungkin cerita tentang kendaraan yang terperosok akan menjadi cerita pelengkap kondisi jalan seperti itu.
Hal membahayakan lainnya dari sepanjang Jalan Raya Krukut ini adalah longsor yang terjadi di beberapa titik. Tanda bahaya pun dipasang seadanya dan di beberapa titik malah tidak ada tandanya sama sekali. Saat itu pula saya melihat belum ada upaya perbaikan yang dilakukan pihak terkait padahal kondisi jalan seperti itu sangat membahayakan.
Kedua kondisi sepanjang jalan tadi rasanya semakin lengkap dan unik tatkala di beberapa titik jalan justru posisi kali Krukut lebih tinggi dari badan jalan. Ya, jalan berada di posisi lebih rendah. Posisi kali yang lebih tinggi ini bervariasi namun titik tertingginya bahkan lebih dari tinggi mobil minibus. Di beberapa titik, terlihat juga rembesan air kali yang membasahi badan jalan.
Pemandangan berikutnya di kali Krukut ini, tak lain dan tak bukan adalah sampah. Di beberapa titik, sampah terlihat mengambang pasrah terutama di dekat pintu air.
Perjalanan pulang dari kampus sambil mengamati kali Krukut ini harus berakhir di daerah Mampang, Pancoran Mas karena saya harus belok ke arah timur, mengambil arah ke Simpangan Depok melalui Jalan Raya Sawangan-Pancoran Mas sehingga harus “mengakhiri” pengamatan ini.
Poin menarik dari Expectedition ini adalah mengenai posisi Kota Depok (Kali Krukut yang saya lewati mengalir di wilayah administratif Kota Depok, Jawa Barat) sebagai penyangga ibukota Jakarta merupakan satu dari penyangga strategis selain Bogor, Bekasi, dan Tangerang.
Daerah ini berkembang banyak sekali pemukiman dan mobilitas masyarakat. Sepanjang jalan di Kali Krukut yang saya lewati pun, berjejer bermacam jenis perumahan, mulai dari tipe yang sangat ekslusif hingga perumahan tipe umum. Kondisi semacam ini jika tidak dicermati secara cermat akan membuat masalah lain, terutama setelah DKI Jakarta mencapai titik jenuh pembangunan pemukiman sehingga otomatis masyarakat (baik pendatang ataupun masyarakat setempat) akan semakin menyesaki ruang tersisa di sekitar DKI Jakarta.
Kondisi sosial, ekonomi, dan ekologis adalah tiga hal yang krusial. Pertama, kondisi sosial. Kondisi sosial yang selama penulis amati dalam perjalanan dapat disederhanakan melalui interaksi sosial. Interaksi sosial ini secara parsial dapat dinilai dari interaksi antar rumah. Perumahan bertipe cluster dan sejenisnya sangat mungkin menghalangi interaksi sosial penghuninya dengan masyarakat sekitar atau mungkin tetangga sendiri. Kondisi seperti ini jika dibiarkan berlarut-larut hanya akan membuat gaya hidup yang tidak sehat dan cenderung individual sehingga tipe masyarakat yang terbentuknya, jika meminjam istilah Durkheim, disebut masyarakat Solidaritas Mekanik atau masyarakat modern yang cenderung individual dan cenderung asosial.
Kedua, kondisi ekonomi. Secara lokasi, Depok merupakan kawasan strategis setelah Jakarta. Kenapa? Karena Depok menjadi pasar alternatif selain Jakarta untuk pemasaran industri yang banyak berkembang di daerah Bekasi dan Bogor. Ditambah lagi, aksebilitas Depok juga cukup baik sehingga pangsa pasar disini cukup menjanjikan sehingga semestinya pertumbuhan ekonomi semakin positif asalkan tata cara dan regulasinya jelas.
Ketiga, kondisi ekologis pun perlu diperhatikan. Ruang terbuka hijau jika tidak diatur dengan baik akan berdampak serius terhadap lingkungan seperti masalah banjir dan sulitnya air tanah akibat resapan air yang tidak optimal. Ditambah lagi, vegetasi yang semakin jarang juga hanya akan memperparah polusi lingkungan yang terbentuk dari transportasi dan industri. Solusinya adalah perlunya Pembangunan Berkelanjutan. Menurut PBB (1987), Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) adalah proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kebutuhan generasi masa depan.
Menurut hemat penulis, selama ini paradigma pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hanya bertumpu pada kebijakan per wilayah administratif (entah itu kota atau provinsi). Oleh karena itu, kedepannya harus ada sinergisasi dan integrasi antar wilayah demi pembangunan berkelanjutan karena pembangunan berkelanjutan hakikatnya melihat kesatuan ruang dalam “big picture” alias tidak tersekat dalam batas wilayah. Solusi konkritnya adalah dengan melakukan titik temu pembangunan dengan wilayah sekitar Depok yakni Bogor, Bekasi, DKI Jakarta, dan Tangerang sehingga tercapai pembangunan yang berkelanjutan yang optimal.
**
Sudah lebih jelas apa itu Expectediton? Jadi Expectedition merupakan akronim dari Expected Expedition yang terjemahan bebasnya “Ekspedisi yang Diharapkan”. Memang apa yang diharapkan? Yang diharapkan dari setiap episode Expectediton adalah cerita atau peristiwa yang berhubungan dengan suatu daerah (jalan, lokasi, atau titik strategis lainnya) serta apa yang dapat pelajaran atau hikmah apa yang bisa digali dari perjalanan ke daerah tersebut. OK, sudah lebih jelas? Semoga oleh-oleh dari Expectedition episode perdana bermanfaat. Nantikan Expectedition episode mendatang.
Iklan

2 pemikiran pada “Expectedition #1: Kali Krukut

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s