Expectedition #2: Jalan Legendaris Daendels (Bogor-Bandung)

Kolonialisme di Indonesia terdiri dari beragam episode dengan setiap episodenya yang  “diwarnai” oleh pelaku, peristiwa, dampak, dll yang berbeda-beda. Setiap episode tentu punya hikmah namun hikmah dari hal yang pedih dan kejamlah yang mungkin mendominasi.
Salah satu episode itu adalah ketika ada seorang yang diutus oleh Raja Belanda, Louis Napoleon, untuk menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda (embrio Indonesia kala itu). Orang itu adalah Herman Willem Daendels. Ia memerintah dari 1808 -1811. Pemerintahannya yang singkat penuh dengan peristiwa pahit, salah satunya adalah ketika ia memerintahkan membangun jalan raya dari Anyer, Banten hingga Panarukan, Jawa Timur. Jalan yang melintasi bagian utara pulau Jawa ini dibangun untuk kepentingan birokrasi pemerintah kolonial Belanda serta kepentingan ekonomi, politik, dan juga militer. Pembangunan jalan yang kini dikenal sebagai Jalan Raya Pos (Groote Postweg) ini penuh dengan pengorbanan masif dari rakyat pribumi karena pembangunan jalan sepanjang 1000 km ini dilakukan dengan sistem kerja rodi atau kerja paksa.
Kini sudah lebih dari 2 abad sejak jalan tersebut dibangun, akan tetapi Jalan Raya Pos masih tetap digunakan hingga kini. Memang di beberapa tempat, seperti Anyer masih diperdebatkan mengenai “jalur resmi” mana yang merupakan Jalan Raya Pos karena banyaknya jalan yang bercabang. Namun memasuki daerah Tangerang, Jakarta, Depok, Bogor, dst, Jalan Raya Pos relatif mudah ditelusuri karena jalannya cenderung menjadi jalur utama transportasi antar wilayah. Di wilayah mulai Jawa Tengah, jalur ini kini disebut Jalur Pantura (Pantai Utara).
Berikut wilayah yang dilewati Jalan Raya Pos:
  • Anyer
  • Serang
  • Tangerang
  • Jakarta
  • Bogor
  • Sukabumi
  • Cianjur
  • Bandung
  • Sumedang
  • Cirebon
  • Brebes
  • Tegal
  • Pemalang
  • Pekalongan
  • Kendal
  • Semarang
  • Demak
  • Kudus
  • Rembang
  • Tuban
  • Gresik
  • Surabaya
  • Sidoarjo
  • Pasuruan
  • Probolinggo
  • Panarukan
Menelusuri Jalan Raya Pos
Akhir pekan lalu (8-9 Februari 2013), saya dan tiga rekan berkesempatan untuk dapat menjelajahi Jalan Raya Pos ini. Namun bukan dari Anyer hingga Panarukan, akan tetapi hanya sebatas Bogor-Bandung. Namun sepotong jalur tersebut cukup memberikan pengalaman bermakna, terlebih kami membelah jalur tersebut menggunakan roda dua dan perjalanan dilakukan di malam hari.
Perjalanan diawali dari wilayah Gunung Putri, Kabupaten Bogor lalu mulai memasuki Jalan Raya Pos mulai dari daerah Cibinong, Kabupaten Bogor. Disini Jalan Raya Pos dinamakan Jalan Raya Bogor Jakarta. Jalan Raya Bogor-Jakarta berakhir di wilayah Kedung Halang, Kota Bogor. Sepanjang jalan ini pemandangan di kanan-kiri hanya berjejer pertokoan, pasar, dan juga industri.
Sesampai di Kota Bogor, selepas dari daerah Kedung Halang, Jalan Raya Pos bernama Jalan Pajajaran. Jalan ini cukup eksotik yakni rimbun pepohonan masih menghiasi kanan kiri jalan meskipun pusat perekonomian modern berdiri berdesakkan disekitarnya.
Selepas dari Kota Bogor, jalan memasuki Jalan Raya Tajur, Kabupaten Bogor. Menarik memang karena Jalan Raya Pos ini membelah Kota Bogor. Dari Tajur, terus berlanjut ke Ciawi hingga Puncak.
Puncak: Sensasi Berkendara di Tengah Kabut Malam
Dalam berkendara, kabut merupakan salah satu faktor alam yang mesti diperhitungkan karena sifatnya yang menghalangi jarak pandang pengendara. Namun malam itu, keindahan dan kesejukan jalur Puncak yang notabene masih termasuk ke dalam Jalan Raya Pos mengalahkan kekhawatiran kami. Kabut malam itu cukup tebal dan jalan sudah relatif sepi karena jam sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB sehingga suasana begitu khidmat (atau mungkin mencekam?). Sensasi membelah kabut ini rasanya sulit diterjemahkan dengan kata-kata. Anda mesti mencobanya sendiri, namun tetap memperhatikan faktor keselamatan.
Cianjur: Menurun dan Lurus
Sesudah melewati Puncak Pas, kami sudah memasuki Kabupaten Cianjur. Selebihnya jalur hanya menurun hingga perempatan Cianjur sehingga motor yang tadinya meraung-raung untuk dapat melibas jalur menanjak mulai dari Cisarua, bisa “tenang” kembali. Jalur di Cimacan-Cipanas-Perempatan harus Anda waspadai karena banyak lubang yang menganga ditambah minimnya lampu penerangan jalan. Setelah melewati perempatan Cianjur, yang terbentang hanyalah jalur panjang nan lurus yang cukup membosankan. Disini motor benar-benar bisa dipelintir gasnya hingga kecepatan maksimum. Jalur ini melewati daerah Ciranjang, Kabupaten Cianjur.
Kabupaten Bandung Barat: Industri vs Matinya Sentra Ekonomi Wisata
Semenjak dibangunnya jalan tol Cipularang untuk menuju Bandung, membuat jalur Jakarta-Bandung via Puncak-Cianjur-Padalarang-Cimahi menjadi relatif sepi. Kondisi ini jelas merugikan pedagang cinderamata yang berada di sepanjang jalur Padalarang. Dulu ketika masih SD, beberapa tahun yang lalu, jalur ini masih ramai oleh wisatawan yang akan berkunjung ke Bandung karena jalur ini adalah jalur utama dari Jakarta menuju Bandung.
Kini sentra oleh-oleh yang berada di sepanjang jalan hanya bisa tertunduk lesu melihat jalan yang justru didominasi oleh truk-truk tambang. Sepanjang pengamatan saya pada perjalanan, jalur Padalarang menjelma menjadi kawasan industri tambang kapur dan tanah liat. Truk berukuran besar menjadi pemandangan lazim. Debu yang beterbangan menjadi sangat lumrah dan bukit-bukit kapur yang semakin rapuh akibat eksploitasi industri.
Secara ekonomi, memang potensi alam yang terdapat di Kabupaten Bandung Barat ini sangat menggiurkan namun jika tidak diimbangi dengan pembangunan berkelanjutan maka keseimbangan alam dapat terganggu dan bencana alam dapat dengan mudah ditemui.
 
Kota Cimahi-Kota Bandung: Bentuk Peradaban Lain Setelah Jakarta
Kawasan perkotaan merupakan surga menjanjikan untuk mereka yang tinggal di daerah pinggiran atau pedesaan. Dengan tingkat perputaran uang yang lebih tinggi membuat kesempatan ekonomi menjadi lebih besar ketimbang di desa. Hal inilah yang memicu tingginya angka urbanisasi atau perpindahan dari desa ke kota.
Siapa yang tidak tahu Jakarta. Ibukota negara Republik Indonesia dengan segala “pesona” yang dimiliki mampu menyihir jutaan pendatang untuk mengadu nasib. Implikasinya tentu saja adalah munculnya daerah-daerah slum atau kumuh dalam lingkar perputaran uang di suatu kota.
Kota Bandung dan Kota Cimahi yang kini menjadi kota yang cukup berkembang tentu menghadapi permasalahan yang relatif sama dengan kota-kota besar pada umumnya. Masalah ekonomi dan sosial tentu menjadi pembahasan laten. Dua kota ini yang menurut pengamatan saya, juga menjadi magnet yang tidak kalah dengan Jakarta. Pada akhir pekan, pendatang-pendatang dengan kendaraan pelat B (asal Jakarta, Depok, dan Bekasi) atau F (Bogor, Cianjur, Sukabumi) tidak bisa dibilang sedikit. Memang kondisi semacam ini lebih kepada sesuatu yang bersifat temporal seperti wisata atau kunjungan. Namun tidak dapat dipungkiri, sesuatu yang temporal seperti itu akan menjadi semacam langkah awal sesuatu yang lebih bersifat permanen, misalnya perpindahan penduduk.
Epilog: Cinta di Jalan Raya Pos Bogor-Bandung
Saya memang tidak bisa menyajikan data statistik mengenai pertumbuhan dua kota tersebut. Namun pengamatan parsial dan singkat dalam perjalanan menelusuri Jalan Raya Pos yang berakhir di Bandung ini menyiratkan kesimpulan bahwa setiap kota memiliki daya pikatnya sendiri dan setiap orang yang terpikat cenderung mengabaikan aspek lain yang lebih penting ketimbang hanya daya pikat.
Perjalanan pun selesai, kami tiba di Gasibu pukul 00.30 WIB, setelah beristirahat dan makan malam (malam?), kami tuntaskan istirahat di Masjid Salman ITB agar tugas kunjungan esok harinya bisa kami lakukan dengan baik.
Sekian catatan EXPECTEDITION kali ini. Semoga bermanfaat.
“Tubuhku terguncang…dihempas batu jalanan…hati tergetar menatap kering rerumputan…” (Ebiet G. Ade – Berita Kepada Kawan)
Referensi
Iklan

4 pemikiran pada “Expectedition #2: Jalan Legendaris Daendels (Bogor-Bandung)

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s