Masbuloh dan Esensi Argumentasi

Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang keputusan berhenti di tempat ini? Apakah ini tempat berhenti yang diturunkan Allah kepada engkau? Jika begitu keadaannya, maka tidak ada pilihan bagi kami untuk maju atau mundur dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat, siasat atau taktik perang?” tukas Al-Hubab ibn Al-Mundzir.

Rasulullah menjawab, “Ini adalah pendapatku, siasat dan taktik perang”.

Al-Hubab berkata, “Wahai Rasulullah menurutku tidak tepat jika kita berhenti di sini. Pindahkanlah orang-orang ke tempat yang lebih dekat lagi dengan mata air daripada mereka (musyrikin Makkah). Kita berhenti di tempat itu dan kita timbun kolam-kolam di belakang mereka, lalu kita buat kolam yang kita isi air hingga penuh. Setelah kita berperang menghadapi mereka. Kita bisa minum dan mereka tidak bisa”.

Beliau bersabda, “Engkau telah menyampaikan pendapat yang jitu”Fragmen kisah hidup Nabi Muhammad Saw di atas tentu sudah sering kita baca. Narasi di atas dapat ditemukan di Sirah Nabawiyah terjemah karangan Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury (dengan judul asli Al-Rahiq al-Makhtum). Dialog interaktif antara seorang sahabat dengan Rasulullah Saw ini terjadi kala perang Badar. Kisah serupa dengan perbedaan subtansi permasalahan di lapangan juga kembali terjadi di medan perang Uhud antara Al-Hubab ibn Al-Mundzir dengan Rasulullah Saw. Lagi-lagi dalam percakapan interaktif tersebut, Rasulullah Saw menyetujui argumentasi sahabatnya karena argumentasi yang dikemukakan tidak sejitu argumentasi sahabat tersebut.

Pelajaran yang sangat jelas dan terang dari fragmen di atas adalah makna bahwa kita tidak dibatasi untuk berargumentasi kepada siapapun selama memiliki kedudukan argumentasi yang tepat dan jelas.Dalam hal ini, Al-Hubab mendudukkan argumentasinya sebagai orang yang piawai dalam taktik perang dan di saat yang sama Al-Hubab tetap menghormati Rasulullah dengan memberikan argumentasi bersyarat,
“…Apakah ini tempat berhenti yang diturunkan Allah kepada engkau? Jika begitu keadaannya, maka tidak ada pilihan bagi kami untuk maju atau mundur dari tempat ini”.
Jika argumentasi awal Rasulullah sebagai wahyu, tentu Al-Hubab tidak akan melanjutkan argumentasinya karena sudah sangat jelas bahwa wahyu yang diturunkan memang langsung dari Allah. Namun Rasulullah Saw dengan sangat dialogis menjawab bahwa apa yang dikemukakannya merupakan pendapat pribadi.
Dialog adalah keniscayaan
Dalam logika organisasi yang penulis pahami, suatu organisasi tidaklah 100% membawa kesamaan isi kepala antar anggotanya. Heterogenitas antar kepala sudah merupakan sunatullah yang tidak terelakkan. Oleh karenanya perlu sistem yang apik untuk-paling tidak-pada tujuan “mensejajarkan visi”, jika mencapai level “menyamakan visi” adalah hal yang rumit. Kebutuhan sistem yang apik itu bisa dimulai dengan membuka ruang dialog yang dialektis.
Ada sebuah kisah tentang seorang pemain sepakbola profesional. Ia selalu ditempatkan di posisi sebagai penyerang dengan segala bakat yang ia miliki. Namun suatu ketika, sang pelatih memintanya untuk menjadi pemain bertahan. Ketika ia meminta kejelasan kepada pelatih, ia masih kurang puas karena tidak mendapatkan jawaban yang jelas. Kawan-kawan satu timnya pun melakukan hal yang sama dan tetap sang pelatih tidak menampilkan jawaban yang memuaskan. Alhasil, jalannya pertandingan terganggu karena setiap pemain membawa beban masing-masing. Si penyerang masih terbebani dengan keputusan pelataih yang tetiba memintanya menjadi pemain bertahan serta kawan satu timnya yang masih membawa pertanyaan yang terus terngiang mengapa si penyerang tadi tanpa alasan dan argumentasi yang jelas tetiba dipindahkan menjadi pemain bertahan.
Dalam ilustrasi di atas, si penyerang tentu tidak akan begitu saja kehilangan profesionalisme sebagai pemain sepakbola, namun yang terjadi ia kehilangan profesionalisme posisinya bermain di lapangan. Ia limbung karena yang harusnya sebagai penyerang, kini dipindahkan menjadi pemain bertahan. Dalam posisi dilematis ini, si penyerang hanya punya dua kemungkinan: ia gagal bermain di posisi sebagai pemain bertahan atau ia akan bermain di posisi bertahan dengan cita rasa penyerang.
Ilustrasi pelatih yang gagal menyampaikan rasionalisasi di atas merupakan apa yang penulis sebut sebagai hambatan dialektis. Hambatan dialektis adalah terbatasnya ruang komunikasi yang terjadi akibat bermacam-macam faktor baik internal (watak individu) hingga faktor eksternal (lingkungan) yang menyebabkan rasionalisasi atas suatu keputusan tidak dapat tersampaikan. Parameter paling mudah untuk mendiagnosa stabilitas suatu masyarakat adalah dengan memperhatikan “kesehatan” komunikasinya. Jika komunikasi berjalan lancar maka stabilitas dapat terkendali dengan baik sekalipun dalam posisi menghadapi masalah. Sama halnya dengan posisi pelatih dan si penyerang dalam ilustrasi di atas.
Dapat disimpulkan bahwa rasionalisasi merupakan hal penting dalam sebuah keputusan sehingga tidak terjadi hal yang bernama ketidakpercayaan. Mungkin beberapa dari kita sudah sangat imun dengan hal semacam ini karena menganggapnya sebagai hal yang lumrah namun penulis menyayangkan posisi semacam ini hanya membelenggu ruang kritis kita dan cenderung kepada perbuatan taqlid. Ya, kecenderungan itu setiap saat bisa menghampiri karena kita tidak terbiasa mengaktifkan sistem berpikir yang kita miliki dengan baik. Seperti yang sudah dikutip di bagian awal dalam Sirah Nabawiyah, argumentasi bisa kita kemukakan kepada siapapun selama ia memiliki landasan yang tepat dan terukur.
Sebagai renungan untuk kita semua, Yusuf Qardhawi dalam Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna, menyatakan bahwa dalam Islam tidak membenarkan penganutnya menjadi pengekor, berfikir dengan kepala orang lain, lalu ia mengikuti saja tanpa pemikiran dan pengertian. Semoga kita tetap dapat berpikir dialektis sehingga tidak antikritik dan dengan ringan mengucap: “Masbuloh?!” (Masalah Buat Loh- red)
Gunung Putri, 02 Maret 2013 Pukul 22:42 WIB

 Terinspirasi dari kunjungan ke Cilegon, Banten tempo hari dan rasa penasaran yang menjadi-jadi tentang kenapa di sebagian daerah Banten menggunakan bahasa Jawa.

Iklan

2 pemikiran pada “Masbuloh dan Esensi Argumentasi

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s