Expectedition #3: Buku, Modus, dan Enjoy Jakarta

Hari ini (10/3), ajang 12th Islamic Book Fair (IBF) akan berakhir. Ajang pameran buku tahunan ini memang memiliki magnet tersendiri, selain karena harga buku yang murah (beberapa menjual buku dengan harga cuci gudang hingga diskon lebih dari 50%). Untuk mahasiswa kere seperti saya ini, ajang seperti ini merupakan primadona tahunan. Toh, paling buku yang dibeli bisa jadi investasi masa depan (maksudnya dibaca nanti.hehe).
Hari Jum’at (8/3) merupakan saat dimana saya berkunjung di ajang ini. Awalnya tidak ada niat untuk berkunjung dan sudah nyaris dipastikan absen hadir dalam perhelatan IBF tahun ini seperti tahun lalu tapi takdir tidak pernah memberikan notifikasi sebagaimana Facebook memberitahu kita bahwa ada ada yang berkomentar di status kita. Seorang kawan yang ditemui di sebuah tempat makan siang di samping masjid depan kampus secara spontan mengajak untuk mampir ke IBF. Alhasil karena kuliah pun sudah selesai, jadilah kami menuju lokasi IBF yang terletak di Istora Senayan.
Dengan mengendarai motor masing-masing, jalur yang kami pilih adalah jalur Ciputat-Fatmawati-Blok M-Bundaran Sisingamangaraja-Gelora Bung Karno. Apakah macet? Ya, sebagaimana Jakarta yang dielu-elukan banyak orang, siang itu  (sekitar pukul 14.30 WIB) macet sudah menyambut jalan kami. Entah mesti berteriak, mengumpat, memaki-maki, atau apa, yang jelas itu tidak perlu karena toh Pemerintah DKI Jakarta yang saya ingat jauh-jauh hari membuat tagline Enjoy Jakarta. Jadi mungkin kemacetan seperti inilah salah satu hal yang harus kita nikmati di Jakarta.
Setelah masuk melalui pintu I (arah lapangan baseball) kami langsung ambil parkir di sekitar Istora. Memasuki sebuah pintu masuk Istora kami sudah disambut jejeran stand penerbit dengan harga buku yang…ah, sudahlah. Sejak awal masuk, diskon buku yang ditawarkan benar-benar menggoda “iman”. Apalagi saat itu budget yang saya siapkan tidak menyentuh 5 digit rupiah. Jadilah harus bisa menerapkan sistem ekonomi konservatif agar budget yang ada bisa memenuhi hasrat membeli buku. Istilahnya anak ekonomi mah, ‘supply’ dan ‘demand’ mencapai titik equilibrium (keseimbangan).
Berkeliling dari satu stand ke stand lain. Jujur saat itu tidak ada yang lebih menarik selain simbol % (persen). Maksudnya tulisan yang terpampang dengan kata “diskon sekian %” adalah hal yang sangat dicari-cari.
Setelah berkeliling-keliling (tepatnya berputar-putar) dan dengan didorong semangat ekonomi superkonservatif (baca:hemat yang mendekati pelit), alhasil dapatlah beberapa buku yang saya rasa saya sedang saya butuhkan. Jadilah petuah bijak“Buy what you need, not what you want” yang saya ikuti saat itu.

Modus tetaplah modus

Nuansa belanja buku yang nyaman di seluruh area stand tentu menjadi mantra sihir yang ampuh untuk pengunjung. Seluruh lorong dilengkapi pendingin ruangan sehingga pengunjung betah berlama-lama memilah-milah buku dari satu stand ke stand lain. Tak terkecuali di bagian panggung utama yang mana fungsi awalnya adalah lapangan badminton yang disulap menjadi panggung dan beberapa stand istimewa (ya, cukup istimewa karena yang mengisi penerbit besar dan saya duga “ongkos lapaknya” lebih besar ketimbang stand yang ada di selain panggung utama.
Di panggung utama ini, setiap harinya selama pelaksanaan IBF berlangsung, ada kegiatan-kegiatan menarik mulai dari lomba debat antar kampus, talkshow, hingga bedah buku. Sore itu agenda yang ada adalah bedah buku.
Saya dan teman saya pun berinisiatif untuk duduk di jejeran kursi audiens lalu mendengarkan pemaparan pembicara. Ide liar lalu muncul yaitu ketika moderator menjelaskan bahwa audiens yang memberikan pertanyaan terbaik akan mendapatkan doorprize buku. Setidaknya, insting mahasiswa kere saya saat itu naik ke permukaan dan alhasil saya pun mengacungkan tangan terlebih dahulu tanpa sempat berpikir akan mengajukan pertanyaan seperti apa. Sambil menanti giliran berbicara, saya sempatkan untuk bisa mencari inspirasi yang ada dari pertanyaan yang diajukan oleh audiens sebelumnya hingga giliran saya tiba. Eureka! Dapatlah satu pertanyaan yang siap saya ajukan ke pembicara.
Singkat kata, tibalah saat dimana moderator mengumumkan siapa audiens dengan pertanyaan terbaik. Dua audiens dengan cepat sudah diputuskan oleh moderator. Sejurus kemudian diberitahukan kembali bahwa ada satu lagi hadiah. Moderator cukup lama berpikir dan akhirnya menyebut nama saya. Tetiba sang narasumber memotong bahwa hadiahnya diputuskan untuk audiens lain. #okesip. Mungkin bukan rezeki saya sore itu tapi milik tiga orang beruntung yang mana salah satunya jatuh ke tangan kawan saya. Yah, apa boleh buat, kembali hal yang saya ingat  adalah Enjoy Jakarta. Jadi tips dari saya:
Gunakanlah modus saya di atas dengan bijak dan elegan sehingga tidak justru menjadi antiklimaks yang mempermalukan Anda (misalnya bingung apa yang mau ditanyakan, terbata-terbata, dsb.
Enjoy Jakarta: The Final Countdown
Saatnya pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 18.45 WIB, setelah shalat maghrib di masjid “dadakan” yang memang sudah disiapkan panitia di pelataran parkir, kami bergegas menuju motor masing-masing. Sebelum keluar, kami dimintai ongkos parkir yang tidak jelas sebesar Rp3000 yang mana tidak ada karcis ataupun semacamnya. Kawan saya sempat berbicara lama dengan pihak-pihak parkir tersebut. Namun lagi-lagi yang saya ingat adalah Enjoy Jakarta.

Kawan saya yang tinggal di asrama di daerah Pejaten memutuskan untuk pulang melalui jalur Mampang dan saya yang tinggal di provinsi sebelah (baca: Jawa Barat) memutuskan untuk melewati jalur Semanggi-Cawang-PGC-TMII-Ciracas-Pondok Ranggon-Leuwinanggung-Gunung Putri. Yah, jalur yang cukup panjang ditambah lagi dengan kemacetan yang dahsyat luar biasa. Sebagai contoh ketika keluar Istora untuk menuju Cawang, harus putar balik dulu di Bunderan Slipi dan Anda bisa tebak, dari Istora ke Bunderan Slipi arus lalu lintas lebih mirip iring-iringan kura-kura yang. Pelan dan bertumpuk-tumpuk. Belum lagi setelah putar balik menuju Cawang, durasi yang dibutuhkan nyaris satu jam. Ya, malam itu saya benar-benar merasakan bahwa tagline yang dibuat Pemerintah DKI Jakarta sangat menelusup ke sanubari. Selepas di Cawang, harus kembali putar balik di pertigaan Kali Malang yang tetap-saja-dan-akan-selalu-macet. Lalu lintas yang benar-benar “nyaman” barulah dapat saya rasakan di ujung Jakarta Timur yakni mulai dari TMII hingga Pondok Ranggon.

Sebagai orang yang sangat jarang pergi ke daerah pusat kota, saya merasakan kesuntukan dan pengurasan energi yang sangat masif (baik itu energi pikiran, tubuh, hingga energi lain seperti BBM). Saya dengar bahwa kemacetan seperti ini nyaris terjadi setiap hari dan saya hanya bisa mengucapkan salut sekaligus kasihan kepada orang-orang yang berjibaku dengan kemacetan sistemik semacam ini. Salut karena memiliki energi dan stok sabar yang besar. Kasihan karena pengeluaran (baik energi maupun materi) menjadi sangat besar. Entah mimpi atau rencana, yang jelas harus ada upaya komprehensif menyelesaikan masalah semacam ini sehingga Enjoy Jakarta benar-benar diartikan sebagai Enjoy Jakarta bukan “Enjoy” Jakarta.

Iklan

8 pemikiran pada “Expectedition #3: Buku, Modus, dan Enjoy Jakarta

  1. Wow, amazing blog format! How long have you been running
    a blog for? you make blogging look easy. The overall glance
    of your web site is fantastic, let alone the content material!

    Feel free to visit my web blog … casino slot games

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s