[Ulasan Buku] REVOLUSI JILBAB: Kasus Pelarangan Jilbab di SMA Negeri Se-Jabotabek, 1981-1982

Kami : “Kan, ada UUD ’45 Pasal 29 yang melindungi setiap umat beragama menjalani keyakinannya”

Sekolah : “Ini adalah peraturan Depdikbud”

Kami : “Tinggian mana, UUD ’45 dengan Depdikbud?”

Sekolah : “Ini sudah peraturan dari sana”

Kami : “Baik,, kami akan keluar dengan syarat, dibuatkan surat yang isinya kami dikeluarkan karena memakai jilbab”

Setelah pengajuan syarat itu, semua terdiam. Argumen-argumen kami lebih bisa diterima oleh akal. Pihak sekolah keberatan, mereka ingin kami keluar dengan alasan tidak disiplin.

***

Kurang lebih itulah fragmen di buku setebal 141 halaman ini yang diterbitkan tahun 2001 oleh Al-I’thisom. Buku yang awalnya “tidak disengaja” ini disusun oleh Alwi Alatas dan Fifrida Desliyanti. Tidak disengaja karena awalnya buku ini hanya berupa tulisan untuk sebuah tugas perkuliahan namun melihat urgensi yang dihasilkan dari tulisan tersebut, akhirnya diterbitkan menjadi sebuah buku.
Buku ini mengulas secara runut terkait kasus pelarangan jilbab di masa orde baru yang mana pada puncaknya adalah terbitnya Surat Keputusan 052/C/Kep/D.82 yang berisi tentang kebijakan penggunaan seragam sekolah secara nasional. Meski secara eksplisit tidak menyebut kata “jilbab” namun SK ini secara implisit menjadi senjata untuk melegitimasi keputusan pihak sekolah melarang siswinya berjilbab.
Pada bab awal, buku ini mengulas sisi revivalisme umat Islam yang sudah mulai berkembang di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, dari dalam negeri sendiri seperti adanya PII (Pelajar Islam Indonesia) yang memainkan perannya dalam syiar Islam di kalangan pelajar dan hal tersebut terejawantahkan dalam bentuk pelatihan-pelatihan (dauroh) yang diikuti oleh siswa-siswi sekolah. Faktor eksternal juga mempengaruhi seperti adanya Revolusi Iran. Hingga pada akhirnya pemerintah dalam hal ini melihat revivalisme Islam di tanah air saat itu menjadi “ancaman” ideologi.
Buku ini juga menggali kisah-kisah pelajar muslimah yang teguh dengan pendiriannya dalam menjalani kewajibannya sebagai seorang muslimah meskipun konsekuensi yang diterima beragam, mulai dari pemanggilan orang tua, skorsing, hingga yang paling serius adalah dipulangkan ke orang tua alias dikeluarkan dari sekolah. Bahkan eksesnya juga sampai ke masyarakat hingga ada provokasi “jilbab penebar racun” yang membuat seorang warga yang mengenakan jilbab nyaris tewas dihakimi massa dan juga ada kasus penelanjangan seorang muslimah akibat memakai jilbab di ruang publik akibat dengan tuduhan mencuri.
Konsekuensi yang diterima para pelajar muslimah yang keukeuh pada pendiriannya untuk berjilbab pun tidak diterima begitu saja. Gelombang advokasi bertubi-tubi dilakukan, mulai yang bersifat internal yakni dari siswa dan orang tua siswa di sekolah bersangkutan yang melarang jilbab hingga melibatkan MUI (Majelis Ulama Indonesia), LBH Indonesia, dan beberapa pihak yang dirasa memiliki nilai tawar dalam menggugat keputusan larangan berjilbab. Bahkan unsur pemerintah mulai dari Sekolah, Dinas Pendidikan setempat, hingga Menteri Pendidikan Kebudayaan saat itu sampai digugat ke pengadilan meskipun dengan putusan akhir yang mengecewakan.
Pada akhirnya, perjuangan unsur-unsur masyarakat untuk menolak SK 052/1982 berbuah positif. Hal ini dikuatkan dengan munculnya SK 100/1991 yang berisi tentang aturan pakaian sekolah yang turut juga mengakomodir kewajiban pelajar muslimah untuk tetap berjilbab. Namun pihak pemerintah sendiri dalam SK tersebut tidak secara tegas mengakui “kekalahannya”.  Dalam SK tersebut tidak secara eksplisit ditulis kata “jilbab” namun “pakaian khas”, yakni:
“…siswa putri (SMP dan SMA) yang karena keyakinan pribadinya menghendaki penggunaan seragam sekolah yang khas, dapat mengenakan pakaian seragam khas yang warna dan rancangan sesuai lampiran.”
Di bagian akhir, buku ini menuliskan beberapa testimoni tentang mereka yang menjadi korban pelarangan jilbab di sekolah. Mereka bertutur apa adanya mulai dari konsistensi mereka dalam  menghadapi hukuman yang diterima hingga harus berselisih paham dengan orang tua mereka sendiri.
Buku ini cocok dibaca bagi kita yang ingin menapaktilasi perjuangan pelajar muslimah dalam keteguhan berjilbab yang dikekang saat itu dan bagaimana mereka merasakan pahitnya perjuangan meski menerima konsekuensi yang berat. Semangat tersebut dirasa perlu ditiru oleh pelajar saat ini karena secara langsung maupun tidak langsung, perjuangan “para pendahulu” tersebut membawa hasil yang dirasakan hingga detik ini.
Iklan

3 pemikiran pada “[Ulasan Buku] REVOLUSI JILBAB: Kasus Pelarangan Jilbab di SMA Negeri Se-Jabotabek, 1981-1982

  1. When I originally commented I appear to have clicked the -Notify me when new comments are added- checkbox and
    from now on whenever a comment is added I get four emails with the exact same comment.

    Is there a means you are able to remove me from that service?
    Thank you!

    Also visit my web blog: book of ra kostenlos spielen

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s