Sepotong Sore

Entahlah, entah kenapa ingin menggerakkan (lagi) jemari di susunan tuts keyboard. Sudah lama, stimulasi seperti ini muncul, semoga menjadi pertanda baik.

Sore itu, 02/08/13, hanya sebagaimana sore biasa. Di ujung hari, di bulan ramadhan. Sangat biasa. Terlebih lagi, dengan latar belakang hiruk pikuk ibu kota Jakarta. Menjadi sangat biasa.

Saya bersyukur ramadhan ini bisa bergabung ke salah satu lembaga filantropi yang ada di Jakarta Selatan sebagai seorang relawan ramadhan. Bukan, bukan atas motif rupiah saya bergabung akan tetapi cenderung mengembalikan nilai-nilai filantropis-yang saya yakini-sebagai seorang muslim harus dimiliki.

Aktifitas yang dilakukan memang bagi sebagian orang cukup membosankan. Sudut pandang orang memang berbeda. Sangat lumrah dan absah. Akan tetapi, tetap, sebosan apapun (jika memang bagi sebagian orang membosankan), ia tetap memiliki hikmah kontemplatif di dalamnya. Laten atau manifest. Abstrak ataupun detail. Sadar maupun tak sadar. Semua menumbuhkan hikmah sebagaimana daun menampung embun setiap pagi.

Dan sekali lagi lumrah, jika dalam situasi bulan ramadhan, berpartisipasi dalam setiap sendi penyemaraknya, contohnya mengikuti ifthar (buka puasa) bersama. Beruntung sore itu, berkesempatan berpartisipasi di sebuah mesjid yang hanya bersanding beberapa langkah dari kantor tempat dimana lembaga filantropi yang saya ikuti.

Menu wajib berbuka, beberapa bongkah kurma, teh pekat, dan tak ketinggalan sajian nasi kebuli yang disajikan berderet, mengintai lambung para partisipan yang duduk rapi menghadap nampan. Tertib. Memang, untuk urusan perut, kadang manusia bisa kompromis.

Saya dan tiga orang di sekitar duduk membentuk lingkaran imajiner dalam deretan partisipan buka bersama di mesjid tersebut. Tak lama adzan berkumandang. Suasana yang riuh rendah berubah khidmat. Lagi-lagi, urusan perut bisa membuat lisan menjadi kompromis.

Tak ada yang aneh. Tiga orang pria paruh baya. Bukan tipikal pejabat, bukan juga tipikal penjahat. Benar-benar biasa. Makan dengan lahapnya. Kami seketika akrab dalam urusan makan ini. Lagi-lagi tidak dengan lisan, tapi dengan irama lambung.

Satu hal yang menarik sekaligus mengusik adalah ketika salah seorang dari tiga mitra lambung yang ada di sekeliling saya, membungkus sepotong lauk, yang rupanya sepotong ayam. Ia kemas sedemikian rupa dengan kertas nasi yang awalnya berfungsi sebagai penutup hidangan. Sepotong ayam yang mungkin bagi pejabat nun kenyang di sana tidak begitu berharga tapi sore itu saya melihat, ia membungkusnya dan membawanya pulang.

Hal itu jelas mengusik, dalam artian, ketika kita bingung memilih sajian apa yang akan kita pilih untuk makan. Kita lupa bahwa ada saudara kita yang bingung, apa yang mesti ia makan. Sore itu, sang bapak tidak banyak berkata. Selesai makan, pergi berlalu. Entah apakah sepotong ayam itu untuk apa ataupun untuk siapa. Asumsi saya, tentu untuk dimakan dan yang pasti, sepotong ayam tadi menjadi sangat berharga.

Bapak tadi mengusik. Jelas mengusik hati kecil saya. Sudah sejauh apa saya bersyukur?

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, apabila kamu bersyukur maka akan Ku tambah nikmat-Ku dan apabila kamu ingkar, sesungguhnya azab-Ku amat pedih”. (QS.Ibrahim:7)

Iklan

6 pemikiran pada “Sepotong Sore

  1. pada potongan ayat yang artinya “… apabila kamu bersyukur maka akan Ku tambah nikmat-Ku…”,
    banyak orang yang mengharapkan nikmat dunia melalui bersyukur diatas harapan akan nikmat akhirat..
    padahal yang benar adalah kita mengharapkan nikmat akhirat di atas harapan akan nikmat dunia..

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s