Drum-Gitar atau Tidak Sama Sekali

image

Gitar…gitar… siapa yang tidak tahu alat musik 6 dawai/senar (walaupun ada juga yang 7 dawai). Bagi sebagian orang, bisa main gitar berarti ada semacam kepuasan atau kebanggaan tertentu. Bagi seorang “pengemis cinta” yang romantis, gitar bisa alat bantu pendongkrak romantisme ke lawan jenis. Bagi seorang pengamen, gitar ya tentu saja untuk dia mengais rupiah.

Berhubung tulisan kali ini terinspirasi dari gitar, rasanya gatel juga ingin napak tilas perjalanan saya belajar gitar dari SMP sampai hari ini, kuliah semester akhir (NOTED! SEMESTER AKHIR!). Tapi jangan kira saat ini saya seorang gitaris lho. Saya bukan gitaris tapi saya bisa sedikit memainkan gitar.

Kenal (lebih tepatnya tahu) gitar dari SD. pernah seorang kakak kelas di SD menunjukkan permainan gitarnya dan saya beserta yang lain kagum. Saya masih ingat beliau menunjukkan kunci/chord A. Ya, hanya sebatas chord. Bukan lagu ataupun notasi tertentu. Duh, lugunya saat itu, bisa mainin kunci A aja keliatannya udah keren.

Perkenalan dengan gitar kembali lagi ke bangku SMP. Waktu itu kelas 8, ada teman yang memang mahir dalam memainkan notasi dan beberapa lead lagu yang njelimet. Keren, dan kadar kekaguman pun bukan lagi sekedar di kunci A.

Seingat saya waktu itu di TV7 (jaduuuul) ada acara Dream Band yang merupakan ajang pencarian band-band di seluruh Indonesia. Pernah ada band yang punya riff atau pola nada yang membuat saya kagum dan hal unik yang saya ingat lagi sampai sekarang, saya berikrar “suatu saat gue bisa mainin lagu ini pake gitar”.

Kata orang, alam bawah sadar itu mirip autopilot di pesawat. Sekalipun pilot lagi tidur atau pipis, ya, pesawat akan terus maju sampai tujuan. Nampaknya ikrar saya itu menjadi autopilot di alam bawah sadar. Semenjak itu, muncullah motivasi untuk terus belajar gitar.

Dan gitar pertama saya adalah sebuah ukulele. Ya, padahal secara harafiah, ukulele dan gitar pada umumnya ada sedikit perbedaan. Ukulele senarnya 4, setelan nada dasar atau tuning-nya (dari senar atas) pun D-G-B-E. Fretboard atau papan nadanya tidak sebanyak 22 atau 24 sebagaimana gitar biasa, dan senarnya pun berbahan nylon, bukan logam seperti gitar yang biasa kita lihat (kecualikan gitar akustik atau gitar spanyol yang bodinya aduhai itu :p).

Langkah berikutnya adalah belajar kuncinya dan dengan semangat otodidak, dibelilah sebuah majalah legendaris yang sudah tidak asing lagi bagi para pecinta musik, yakni majalah Etnix.

Majalah tersebut sangat populer saat itu karena memuat kunci/chord lagu yang hits.

Dan Etnix pertama yang saya beli adalah edisi khusus Ungu #ohGodWhy

Lagu pertama yang saya pelajari adalah Demi Waktu #pokerface

Kenapa lagu itu? Karena pertama (1) lagunya sedang hits (2) kuncinya yang paling mudah di seluruh halaman majalah tersebut. Saat itu saya putuskan, Demi Waktu-nya Ungu menjadi bahan belajar saya. Jreeeeeeng…

Kesan pertama belajar gitar via ukulele: sakit! senarnya keras!

Gile lu, ndro… maksud hati belajar ukulele supaya ada batu loncatan buat belajar gitar di kemudian hari dan juga karena harga ukulele lebih murah dari gitar, apa daya malah jari-jari tangan kiri yang belum terbiasa kapalan dan nyut-nyutan.

Show must go on… Agak lama setelah itu, lagu Demi Waktu bisa saya kuasai dengan ukulele walaupun perpindahan ke kunci F agak ribet. Setelah itu akhirnya mulai mencicil belajar lagu yang lain. Lumayan bisa.

Babak baru perjalanan bergitar saya berlanjut, teman saya yang jago mahir itu mengajak saya ke studio band. Pertama masih nonton aja sih. Ajakan berikutnya mulai diperkenalkan alat musik lainnya selain gitar, seperti bass, dan drum.

Kesan pertama main bass: berat! Kaga kuat main sambil berdiri. Nyerah….

Kesan pertama main drum: seru!

Anomali terjadi, bukan bermaksud sombong, saya cepat beradaptasi dengan drum. Maksudnya, cepat bisa mengsinkronisasi kaki dan tangan. Bisa mengkombinasi snare, hi-hat, dan kick secara benar, ya, walaupun temponya masih acak-acakan.

Setelahnya galau… tiap kali ke studio, alhasil, separuh bagian main drum dan separuh bagian main gitar.

Tidak lama setelah itu, alhamdulillah, sebuah gitar pun terbeli. Jangan bayangkan gitarnya adalah gitar keren dengan kayu mahogany yang harganya jutaan. Gitar pertama yang saya harganya cuma Rp50.000. Etnix kembali di buka dan belajar gitar terus berlanjut.

Kelas IX SMP ada penyederhaan jumlah kelas yang tadinya sebanyak 10 kelas satu angkatan, diubah menjadi 9 angkatan dan siswanya pun diacak. Alhasil, kelas lebih padat dan tebak apa, saya bertemu wajah baru dalam babak belajar musik. #eaaa

Sebut saja namanya Lear, Abe, dan Tresno (nama samaran), iseng ngobrol tentang musik dan bermuara pada kalimat: ngeband, yuk!

Dan lagu yang dipilih pun berganti jadi lebih enerjik, saya ingat kami belajar memainkan lagu All The Small Things-nya Blink 182.

Tapi saya didaulat jadi drummernya. Kemana gitar yang saya pelajari. Arrggh, apa yang terjadi berikutnya? To Be Continued

Iklan

3 pemikiran pada “Drum-Gitar atau Tidak Sama Sekali

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s