Masjid sebagai Basis Pembangunan Peradaban

  Sebuah Pengamatan Singkat di Masjid Salman ITB*

Ketika Rasulullah Saw hijrah ke Madinah maka yang pertama kali dilakukan adalah membangun masjid Nabawi sebagai sentral peradaban. Pembangunannya berdasarkan berderumnya unta yang dinaiki beliau sehingga pemilihan lokasi pun bebas tendensi dari pihak manapun. Dari masjid inilah seluruh kaum Muhajirin maupun Anshar melebur tanpa ada lagi sekat pembatas horizontal kesukuan sehingga yang mungkin menjadi pembeda adalah pakaian ketaqwaan kepada Allah Swt. Masjid Nabawi bukan semata tempat melaksanakan shalat namun juga tempat kaum muslim menerima pengajaran Islam, juga sebagai tempat pertemuan mengatur urusan umat.

Masjid Salman ITB, sebuah masjid yang berada di lingkungan kampus ITB merupakan sebuah lokasi yang sangat nyaman, tentu sebagai tempat shalat ataupun hanya sebagai tempat singgah sekedar meluruskan kaki atau membaca koran. Terlepas dari unsur iklim Bandung yang cukup sejuk, masjid Salman ITB dari segi pelayanan maupun kenyamanan layak diacungi jempol. Dari segi pelayanan saja, mulai dari penitipan sepatu dan penyediaan minuman gratis sudah cukup menjadi magnet penarik bagi orang yang lewat di dekatnya.

Kondisi melayani umat seperti inilah yang semestinya dapat diimplementasikan secara optimal di masjid-masjid yang ada. Memang kendala dana operasional menjadi perhatian utama dalam hal ini, dana operasional yang notabene berasal dari jamaah masjid itu sendiri sangat variatif tergantung bagaimana kuantitas dan kualitas jamaah masjid di suatu tempat.

Dengan manajemen masjid yang lebih optimal melayani masyarakat, seperti contohnya pemberian minum gratis maupun pelayanan yang baik, diharapkan dapat menjadi magnet pemikat agar masyarakat tertarik untuk dapat memakmurkan masjid, terutama sekali anak muda.

Oleh karena itu, berkaca dari pengalaman singkat di Masjid Salman ITB, nampaknya mesti ada timbal balik dari stakeholder masjid, baik itu pengurus maupun jamaah secara umum. Pelayanan yang diberikan pengurus harus dioptimalkan dengan manajemen mutu yang baik. Terlebih lagi saat ini sudah ada manajemen masjid berbasis ISO sehingga spesifikasi mutu dan pelayanan semakin prima. Lalu setelah itu, pihak jamaah sendiri yang menjadi “target” pelayanan masjid itu akan merasa betah dan tidak hanya untuk sekedar shalat akan tetapi dapat menjadikan masjid sebagai sarana transfer keilmuan sebagai basis pembangunan dan pengembangan peradaban sebagaimana fungsi masjid Nabawi saat dibangun dulu oleh Rasulullah Saw. Jamaah masjid juga berperan dalam hal membagikan semangat pergi ke masjid kepada orang lain yang jarang atau belum pernah ke masjid sehingga orang yang beru datang ke masjid akan langsung terpikat dengan kesan pertama yang diberikan oleh pelayanan masjid yang prima tersebut sehingga seterusnya ia akan datang.

Pada intinya, sinergisitas antara pengurus dan jamaah inilah yang dapat dijadikan semacam “rekayasa umat” agar masjid-masjid yang susah payah dibangun dapat dimakmurkan sebagaimana mestinya karena banyak orang yang berlomba membangun masjid namun tidak lebih banyak daripada orang yang memakmurkannya.

*Ditulis ulang dari buku “Risalah Kecil IMSS 2012”, buku bisa diunduh disini

Iklan

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s