Ukhuwah dari Barak Tentara

  “Es yang terus-menerus dibiarkan di ruang terbuka meskipun tidak terkena panas matahari langsung akan tetap mencair seiring waktu”

  Analogi yang tepat untuk menggambarkan keadaan di barak tentara. Ya, kami para kafilah LDK seluruh Indonesia sebagian diinapkan di barak tentara sebagai tempat peristirahatan selama beberapa malam.

 Bukan tentang kenyamanan atau fasilitas yang diberikan, semua bersifat relatif dan hanya dapat dipaparkan secara subjektif oleh peserta IMSS itu sendiri. Akan tetapi, di dalam barak tentara ini, atmosfer luar biasa yang ditebarkan kawan-kawan LDK dari seluruh Indonesia.

 Barak yang saya tempati, Wisma Komando Garnisun, menampung sekitar seratusan peserta IMSS 2012 dari berbagai penjuru nusantara. Dengan format kamar yang terdiri dari beberapa ranjang susun “memaksa” kami untuk dapat bermuwajahah dengan optimal.

 Saya tidak dapat mengingat dengan pasti berapa orang yang saya kenal saat di wisma tersebut. Semua yang saya kenal saya persilakan untuk menulis daftar nama da nasal kampus pada kertas yang saya sediakan. Kertas tersebut terisi penuh seiring makin banyak peserta yang saya temui.

 Pada malam kedua, saya mendapati teman satu kamar yang berasal dari timur Indonesia. Jujur, saya kurang bisa mengingat namanya. Dari penuturan yang beliau sampaikan, betapa semangatnya beliau untuk dapat menghadiri IMSS 2012 ini, mengingat perjalanan ke Bandung dari kawasan Timur Indonesia menghabiskan sumber daya yang tidak sedikit.

 Kami sampai di barak ini setelah rangkaian acara selama satu hari selesai. Setiba di barak, kami tidak langsung beristirahat, saya dan beberapa rekan dari LDK Jadebek berinisiatif keliling menikmati romantisnya suasana kota Bandung dengan berjalan kaki sekaligus mendiskusikan rangkaian acara pada hari itu serta saling berbagi informasi yang tidak semua orang dapatkan secara simultan selama acara berlangsung hari itu.

 Suasana demikian sayangnya hanya dapat berlangsung kurang lebih tiga malam seiring berakhirnya pelaksanaan IMSS 2012. Banyak cerita yang didapat, banyak pengalaman yang dialami, dan banyak emosi yang saling mengikat. Mungkin ini adalah suatu nafas pertanda bahwa memang Islam merupakan agama yang menisbikan sekat-sekat social: kaya, miskin, barat, timur, madya, mula, dll. Biar bagaimanapun, dalam dekapan ukhuwah, kita refleksikan untuk mewujudkan Indonesia sebagai role model kemajuan pemuda Islam menuju Islam sebagai Ustadziat al-‘Alam (Soko guru peradaban).

 *Ditulis ualng dari buku “Risalah Kecil IMSSS 2012”, bisa diunduh disini

Iklan

Satu pemikiran pada “Ukhuwah dari Barak Tentara

  1. Kepedulian Kepada Sesama

    Sudah Banyak Kita Melihat
    Tapi Semua Terasa Sirna
    Sudah Banyak Kita Mengerti
    Tapi Sedikit Yang Kita Pahami

    Kemilau Harta Melimpah Ruah
    Justru Hati Kian Gelisah
    Hanya Orang Suka Bersedekah
    Hidup Jadi Makin Barokah

    Harta Hanyalah Titipan
    Pada Saatnya Pasti Dikembalikan
    Mengapa Tidak Dikeluarkan
    Agar Hidup Terselamatkan

    < <=0=>>

    Bank DKI => Kode : 111
    No Rek : 50323030085
    a/n : Setiawan Budiarto

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s