Beng-Beng Beku dari Swiss

Baiklah, ini adalah momen dimana saya kembali menginjak-injak tuts keyboard untuk kembali meracau di blog nan bersahaja ini. Tidak ada kesibukan berarti seperti layaknya seorang buruh outsourcing yang lembur terus-menerus hingga lupa melakukan hal lain.

Entah kenapa, saya hanya (sedikit) malas. Seperti pepatah:

“Kemalasan itu mirip adonan semen yang tumpah, sulit dibuang kalau dibiarkan kelamaan”

***

Kuliah sudah memasuki masa senja. Masa dimana dulu kita rentan dibully junior. Hukum keseimbangan terjadi disini, jika dulu kita sering meledek senior, saat ini kita malah merasakan posisi pahit dan kelam itu.

*Halo, apa kabar skripsi?*

Di semester ini, sebagaimana yang harus dilakukan oleh para mahasiswa keguruan, saya dan rekan separuh angkatan wajib melaksanakan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) alias praktek ngajar di sekolah. Dikarenakan di fakultas sayah tercintah ini memberlakukan sistem buka tutup untuk pelaksanaan PPL, yakni separuh jurusan melaksanakannya di semester ganjil dan sisanya semester genap. Mungkin karena ada drawing (kek liga champions gitu) jurusan sayah tercintah bersama sebagian jurusan lain mendapat giliran PPL di semester genap.

Tidak apalah, show must go on.

*diteror dosbing*

Pelaksanaan PPL ini begitu spesial karena sesaat sebelum dimulai, jurusan sayah tercintah sudah melaksanakan fase mengajukan judul dan juga seminar proposal. Alhamdulillah, berkat rahmat Allah yang maha Esa dan dengan didorong keinginan yang luhur, saya bisa dengan lancar mengikuti seminar proposal dan bisa langsung maju ke tahap selanjutnya yakni bimbingan skripsi.

Oleh karenanya, saat dimana kita harus “bersitegang” dengan dosen pembimbing, saya pun harus melaksanakan hal lain secara simultan yang sudah diketik di awal yakni PPL.

Kembali ke poin PPL…

*abaikan skripsi*

Ya, kembali ke poin PPL, sebenarnya kini sudah masuk bulan kedua. Resmi dimulai awal Februari dan estimasi berakhir di bulan Mei. Saya tidak tahu format PPL di kampus lain, tapi di kampus sayah tercintah saat pelaksanaan PPL kita mesti melakukan 3N, yaitu:

– Ngajar

– Neliti

– Ngabdi (bantu-bantu-red)

Dua bulan ke belakang benar-benar sebuah pengalaman yang berkesan. Ketika di lapangan, kita tidak berada di dunia fantasi yang semua hal bisa terjadi secara ideal dan sama persis dengan apa yang kita teorikan di kelas atau di buku yang kita baca.

Mulai dari menjaga kepercayaan diri, menjaga emosi supaya tidak meledak, dan semua jenis kenakalan siswa. Semua bikin urut dada dan laper *lho*

Ya, entah kenapa biarpun sekolah lokasi saya PPL ini memiliki siswa yang minta dibanting tapi di sisi lain punya “pelayanan” yang luar biasa. Loyal. Jam ngajar tidak selalu full dan satu hal yang asyik adalah kantinnya punya makanan enak dan murah. Murah dalam sudut pandang mahasiswa seperti saya. *kibas poni*Adil memang, ketika kita menuntut kesempurnaan, kita akan diberi kejutan dari hal yang tidak terduga. Apalagi setelah saya simak cerita dari rekan satu angkatan yang sampai harus cuci piring ketika melaksanakan PPL atau mengantar guru belanja ke pasar. Lagi-lagi, bersyukur kata kuncinya.

Sekolah ini punya banyak cerita, dari siswa, guru, dan segala aspeknya terutama, beng-beng bekunya yang enak dan yummy yang harga jualnya masih Rp1000 (di kampus, beng-beng di jual Rp1500).

P.S: Swiss adalah nama inisial dari sekolah lokasi saya PPL, sebuah sekolah negeri yang terletak di pinggiran Depok.

Iklan

4 pemikiran pada “Beng-Beng Beku dari Swiss

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s