Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Ciremai

“Aku bukanlah pendaki gunung ataulah pecinta alam, aku hanya seseorang yang ingin bersujud dari tempat yang sedikit lebih tinggi dari orang kebanyakan”

***

Woro-woro mengenai pendakian kali ini sebenarnya mendadak. Berawal dari pembicaraan yang justru merencanakan mendaki gunung Pangrango, malah diawali dengan mendaki Ciremai.

Kronologinya, berawal dari pembicaraan beberapa kawan sesama alumni SMK tercintah  yang ingin mendaki Pangrango di akhir Mei. Di tengah pembicaraan ternyata sebagian yang lain ada juga yang menuju Ciremai di awal Mei. Alhasil saya tertarik dengan agenda Ciremai tersebut dikarenakan rencana Pangrango masih relatif lama (akhir Mei) dan saya dalam posisi suntuk menghadapi dunia PPL (Praktek Pengajaran Langsung) di sekolah. Jadilah Ciremai ini semacam pelarian sementara menghadapi hiruk pikuk.

Skip.. Skip..

Dengan berbekal alat pinjam sana-sini, berangkatlah saya dan 15 kawan lain. Tanggal 2 Mei 2014 berkumpul di stasiun Jakarta Kota, berkenalan, dan pukul 16.25 WIB berangkatlah kami dengan KA Tegal Arum.

Pukul 20.10 WIB, di stasiun Prujakan Cirebon, kami langsung bergegas turun menggendong carrier menuju angkot yang sebelumnya sudah dicarter. Oh ya, dalam pendakian ini, salah satu pesertanya adalah akamsi (anak kampung sini), sebut saja namanya Bogel. Berkat beliau, angkot setempat sudah beliau carter sebelum kami turun kereta alhasil ketika turun di stasiun, kami langsung bergegas masuk ke dalam dua ekor angkot kuning.

Stasiun Prujakan – Pos Linggarjati

Pukul 21.19 WIB, kami mampir dahulu di pertigaan Cilimus untuk makan malam di warung pecel lele setempat. Ternyata harga eceran tertinggi warung pecel lele disini sama saja dengan di Jabodetabek. Satu porsi pun dibandrol Rp10.000.

Pukul 21.30 WIB, perjalanan dilanjutkan menuju pos Linggarjati. Pos Linggarjati merupakan satu dari empat pos masuk (pos masuk lainnya adalah pos Linggasana, pos Palutungan, dan pos Apuy). Pukul 22.30 WIB kami unloading dari angkot dan langsung mendaftar malam itu juga.

Pos Linggarjati (600 mdpl) – Cibunar (750 mdpl)

Diputuskan malam itu juga kami menuju pos pertama, yakni pos Cibunar untuk beristirahat dan repacking. Pos Cibunar adalah pos terakhir yang terdapat air karena setelahnya tidak ada sumber air lagi. Perjalanan dari Linggarjati menuju Cibunar kami malam itu dimulai pukul 23.30 WIB dan tiba di Cibunar pukul 00.14 WIB. Disini kami langsung menunaikan kewajiban shalat dan langsung disambung istirahat. Di Cibunar ini, terdapat dua buah shelter permanen yang bisa digunakan, jadi kami tidak perlu mengeluarkan tenda, cukup menggelar matras dan alam mimpi mulai mendominasi.

Keesokan harinya, kami langsung mengisi air. Pada pendakian Ciremai, membawa air cukup banyak adalah keharusan. Rekomendasi yang dianjurkan sejak awal adalah setiap orang membawa minimal 5 liter air, bisa dalam jerigen ataupun botol air mineral, sebut saja Aqua, ukuran 1,5 L sebanyak 3-4 buah.

Cibunar – Leuweung Datar (1225 mdpl)

Start dari Cibunar pukul 07.28 WIB, diawali dengan berdoa, dan yosh! Berangkat. Jalur sudah terus menanjak. Di jalur ini bonus masih sesekali terasa. Jalur ini didominasi hutan pinus dan kebun kopi. Pukul 09.11 WIB, kami sampai di pos Leuweung Datar, beristirahat sebentar dan perjalan berlanjut dan terus menanjak. Disini ada rekan mengalami keseleo sehingga durasi pendakian terus molor.

Leuweung Datar (1225 mdpl)– Condang Amis (1250 mdpl)

Pukul 09.48 WIB kami sampai di pos Condang Amis, di pos ini merupakan jalur pertemuan dari pintu masuk pos Linggasana dan pos Linggarjati. Jalur masih terdapat beberapa bonus. Di Condang Amis terdapat shelter permanen yang bisa digunakan untuk berteduh.

Condang Amis (1250 mdpl) – Kuburan Kuda (1450 mdpl)

Jalur semakin menanjak dan menanjak dan menanjak! Sudah mulai tidak ada bonus jalan datar. Trek didominasi tanaman perdu berduri dan akar pohon yang menjadi tangga alami. Dari sini dengkul sudah harus masuk mode racingkarena sesekali dengkul sudah mulai bertemu dada.

Pukul 12.10 WIB, sampai di pos Kuburan Kuda dan sampai sini ternyata 4 jerigen 5 liter sudah kosong! Ya, mulai dari sini, perasaan saya tentang manajemen air kurang baik.  Akhirnya jerigen ditimbun di sekitar pos untuk memudahkan mobilitas.

Disini kami putuskan bongkar carrier dan makan siang. Dengan pertimbangan waktu, akhirnya mie instan menjadi pilihan. Pukul 13.30 WIB, perjalanan dilanjutkan.

Kuburan Kuda (1450 mdpl) – Pangalap (1650 mdpl)

Trek sudah mulai menyiksa dengkul. Tangan harus terus sigap merengkuh akar pohon untuk menjadi pegangan ketika sepatu mencengkeram tanah. Disini saya pun menemukan sebuah tongkat kayu yang ditinggalkan pendaki lain. Ternyata tongkat lumayan membantu mobilitas dan keseimbangan. Pukul 14.35 WIB, kami tiba di Pangalap. Disini sudah ada 2 tenda yang ditinggalkan pendaki yang kemungkinan sedang summit attack.

Pangalap (1650 mdpl) – Tanjakan Seruni (1825mdpl)

Bagi yang pernah mendaki Gunung Gede via Cibodas pasti tidak asing dengan tanjakan setan. Nah, di Ciremai ini ternyata mulai dari Tanjakan Seruni adalah versi lain tanjakan setan tapi tanpa tali pegangan. Akar pepohonan adalah pegangan yang satu-satunya bisa digunakan.

Pukul 16.03 WIB, kami baru tiba di tanjakan seruni, hujan ringan sudah turun, kelompok sudah mulai buyar dan renggang alhasil durasi perjalanan semakin panjang karena tim saling menunggu. Tim depan menunggu tim belakang dan tim belakang minta dan ditunggu tim depan. Benar-benar, newbie abiss.haha

Mulai dari Tanjakan Seruni, terjadi peristiwa yang cukup heboh. Di persimpangan trek menuju pos berikutnya, ternyata tim salah mengambil trek. Trek yang dipilih benar-benar terjal dan licin. Hari semakin gelap, sedangkan trek semakin terjal, pegangan semakin minim, di ujung trek ternyata jalan tertutup! Pendakian menjadi sedikit mencekam. Ternyata kami mengambil trek yang salah! (Walaupun kemudian kami tahu bahwa trek tersebut adalah trek alternatif dan bukan trek reguler).

Adzan maghrib berkumandang, tim berhenti sejenak untuk menenangkan diri dan berkoordinasi ulang. Perjalanan kembali ke persimpangan awal pun sama sulitnya. Saya mencatat, total butuh 2,5 jam bagi kami untuk kembali reorientasi ke trek awal.

Hari semakin gelap, ternyata tidak semua anggota membawa senter ataupun headlamp sehingga mobilitas benar-benar lambat. Rencana awal kami bermalam di pos Batu Lingga pupus karena waktu sudah masuk pukul 22.20 Wib, akhirnya kami bermalam di pos bayangan berupa tanah kecil di antara trek Tanjakan Seruni dan Tanjakan Bapa Tere yang cukup menampung hingga 4 tenda.

Disini kami bongkar carrier, pasang tenda, dan masak makan malam. Tidak banyak cerita malam itu. Selesai makan, masuk tenda, pasang sleeping bag, dan istirahat untuk persiapan menuju puncak pukul 03.30 WIB.

Camp – Tanjakan Bapa Tere

Perjalanan menuju puncak dimulai pukul 04.00 WIB, tim jalan dengan pelan karena keterbatasan senter. Tanjakan Bapa Tere benar-benar seperti namanya, menyiksa seperti halnya ayah tiri. Tanjakan nonstop. Disini dengkul sudah wajib menyentuh dada saking terjalnya trek. Perjalanan terus berlanjut dengan menanjak dan terus menanjak. All about tanjakan.

Tanjakan Bapa Tere – Batu Lingga (2200 mdpl)

Akhirnya 05.48 WIB sampai di Batu Lingga, sebuah pos yang cukup memuat sekitar 3-5 tenda. Beristirahat sebentar disini. Langit sudah berubah terang. Sejuk semilir angin pagi ditambah kicau burung hutan merubah nuansa mistis trek menjadi eksotisme tiada tanding khas ketinggian. Sesuatu yang tidak mungkin didapat di belantara beton Jakarta.

Batu Lingga (2200 mdpl) – Sangga Buana I (2500 mdpl)

Pukul 06.56 WIB, perjalanan sudah sampai di pos Sangga Buana I. Tim sudah kocar-kacir. Ada yang duluan berangkat. Ada yang tertinggal di belakang. Dari sini, “kekacauan” manajemen air sudah mulai terjadi. Tim hanya membawa 1 jerigen 5 liter air yang dibawa satu orang. Namun dalam perjalanan, jerigen tersebut dibawa rombongan belakang sehingga istirahat pun tidak disertai melepas dahaga.

Sangga Buana I (2500 mdpl) – Sangga Buana II

Pukul 08.00 WIB, akhirnya sampai di Sangga Buana II. Disini saya berjalan sendirian. Sampai disini sudah ada dua orang anggota tim yang sedang istirahat. Sambil menunggu yang lain, akhirnya ikutan tidur. Maklum jam tidur sedikit kurang. Baru ketika tim bawah sudah tiba, perjalanan dilanjutkan. Trek disini sudah mulai menyempit dan terkadang hanya melewati celah selokan air yang hanya muat satu orang. Nanjak? Sudah pasti.

Sangga Buana II – Pengasinan (2800 mdpl)

Kegilaan trek Ciremai seolah mencapai klimaks di trek ini. Jalur berbatu dan sangat terjal. Trek hampir vertikal ditambah tanpa pengaman apapun. Harus ekstra hati-hati. Vegetasi sudah berubah menjadi terbuka dan hanya didominasi edelweiss. Pagi itu terasa sangat terik. Alhasil untuk sampai di Pengasinan, butuh waktu hingga pukul 09.30 WIB.

Pengasinan merupakan sebuah lembah dengan pemandangan terbuka ke segala arah kecuali ke arah barat yang merupakan puncak. Disini tersedia lahan untuk membuka tenda. Siang itu matahari sangat terik. Dari sini lautan awan sudah terlihat dan di kejauhan, Gunung Slamet-Sindoro-Sumbing terlihat di ufuk timur laut dan di sisi utara kita bisa melihat laut Jawa.

Sindoro-Sumbing-Slamet nampak dari kejauhan – dok.pribadi

Untuk pendakian ini, saya memutuskan untuk tidak mencapai puncak karena ada suatu hal. Not a big deal. Memang ada sedikit penyesalan. Tapi tidak seberapa dibanding penyesalan saya secara pribadi mengenai manajemen air di pendakian ini. Masih ada kesempatan lain. That was my summit and akurapopo. Bagi saya, dalam kondisi apapun, mencapai puncak adalah pilihan tapi pulang ke rumah adalah kewajiban.

Epilog: Ada Cinta di Ketinggian Ciremai

Pendakian ini adalah pendakian kedua saya. Saya banyak melakukan evaluasi pribadi setelah mengalami pengalaman berharga di pendakian pertama dulu. Namun tetap saja, ibarat pepatah karena nila setitik, rusak susu sebelanga.Pengalaman berharga di pendakian Ciremai ini antara lain:

  • Setiap orang wajib membawa sekitar 4-5 liter air dan setiap orang menanggung sendiri beban airnya. Saya sedikit risih ketika membawa sudah membawa air sendiri di carrier yang notabene lumayan berat namun tetap diminta membawa lagi persediaan orang lain. Bukan bermaksud individualis, namun terlihat manajemen packing yang kurang tepat dari yang bersangkutan sehingga jerigen tidak bisa masuk carriernya.
  • Sangat tidak direkomendasikan membawa jerigen di tangan. Selalu masukkan jerigen ke dalam carrier agar keseimbangan terjaga dan mobilitas menjadi cepat.
  • Jangan terlalu lama istirahat. Kelamaan istirahat hanya membuat manajemen waktu sangat kacau dan membuat otot kram.
  • Selalu membawa senter/headlamp masing-masing. Saya mengevaluasi hal ini dari pendakian pertama saya dulu karena membuat mobilitas lambat karena nanti saling mengandalkan.
  • Selalu membawa jas hujan/ponco ketika summit attack
  • Jangan mudah panik dan reaktif. Di pendakian ini ada anggota tim yang kelelahan dan kedinginan setelah turun dari puncak karena kehujanan, alhasil kami pun menambah satu malam berkemah dan dengan sedikit panik, menginfokan SOS kepada ranger di bawah melalui pendaki yang turun. Namun yang paling disesalkan adalah menginfokan ke pihak yang tidak relevan seperti kawan di luar yang tidak bisa membantu secara signifikan alhasil ketika kami turun berita simpang siur berseliweran dan tentu membuat tidak nyaman.
“Ambisi adalah hasrat yang membuatmu mencapai puncak, rasa takut yang akan membuatmu tetap hidup”­ – (Jeff “Jefe” Evans – Touch The Top of The World
Iklan

2 pemikiran pada “Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Ciremai

  1. Ping balik: [EF#7] Above The Clouds | ardiologi

  2. Ping balik: Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Papandayan | ardiologi

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s