Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Pangrango

Karena ku tahu disini ada cinta…Yang ‘kan ku jaga selamanya…
Karena ku tahu disini tempat kita…
Disini rumah bagi jiwa raga hati kita…
Selamanya…
(21st Night – Selamanya Indonesia)

Lembah Mandalawangi Gunung Pangrango – Dok. Pribadi

Gunung Pangrango (3019 mdpl) merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Barat setelah Gunung Ciremai (3078 mdpl). Gunung Pangrango berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Gunung Pangrango sendiri merupakan gunung yang bersebelahan dengan Gunung Gede (29598 mdpl). Komplek TNGGP sendiri masuk ke dalam administratif tiga wilayah, yakni Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Bogor.

Ah, terlalu serius bahasanya… *kibas jambul*

Baiklah, gaes, pendakian ini sebenarnya sudah direncanakan sejak 2 bulan sebelumnya. Berhasil menarik minat 10 orang tapi karena banyak yang berhalangan di hari H, akhirnya hanya bisa berangkat 4 orang, itupun nyaris hanya 3 orang, tapi setelah 1 orang memberikan kepastian yang menggantung *ceileh, menggantung*, akhirnya ybs bisa memberi kepastian H-2.

Kalau kamu…Iya, kamu… Ketemu orang itu gimana rasanya? Jengkel? Ingin mengumpat dan bersumpah serapah?

Sebaiknya sih jangan.

Karena orang itu adalah saya sendiri.

*hening*

Pendakian ini berlangsung dari tanggal 26-28 Mei 2014 kemarin. Perkenalkan personil pendakian yang bisa berangkat dalam perjalanan ini: Om Sigit, Om Halil, Dylan Elf, dan saya sendiri. Tanggal 26 janjian unutk kumpul pukul 19.30 WIB di gerbang tol Citeureup. Entah ada pengaruh kenaikan harga karet dunia, tim baru lengkap pukul 20.30 WIB. Pesan moral: Menunggu itu membosankan.

Skip…skip…

Dari gerbang tol Citeureup, kami naik bus kecil berkarat menuju Baranang Siang. Tidak sampai 30 menit kami tiba di pertigaan Baranang Siang. Disini sempat blunder. Awalnya kami akan berangkat menggunakan mobil Elf Cianjur namun setelah tanya wakamsi (warga kampung situ), jam segitu ternyata mobil yang dimaksud sudah tidak beroperasi. Alhasil, kami harus ke Ciawi untuk bisa naik angkutan lainnya.

Angkot 01 Baranang Siang-Ciawi melaju cantik dengan tarif Rp15.000 untuk 4 orang.

Di pertigaan Ciawi, perjalanan dilanjutkan dengan bus ekonomi Doa Ibu dengan tarif Rp15.000 hingga pertigaan Cibodas. Ya, pada pendakian Pangrango ini, start awal kami adalah pintu Cibodas.

Dari pertigaan Cibodas, lanjut naik angkot menuju ke atas. Iya, ke atas, maksudnya ke area pos Cibodas. Kami sampai di Cibodas sekitar pukul 22.30 WIB. Beruntungnya kami malam itu, pos tiket sudah tutup jadi tidak perlu bayar tiket masuk kawasan Cibodas seharga Rp9.500 *mode mahasiswa kere*

Malam itu kami beristirahat di salah satu warung dan akan melanjutkan perjalanan esok pagi di tanggal 27.

Pos Lapor Cibodas-Pos Panyangcangan

Pendakian dimulai pukul 07.00 WIB, dari warung kami melaju ke pos lapor pendakian Cibodas. Perjalanan baru berlangsung 20 menit, langsung break 10 menit.haha. Disini kami berangkat bersama beberapa rombongan pengunjung yang menuju ke Air terjun Cibeureum. Trek menuju air terjun ini sama dengan trek awal pendakian menuju ke puncak Gede ataupun Pangrango. Trek baru akan berpisah di pos Panyangcangan. Bagi yang menuju ke air terjun silakan lurus dari pos ini. Bagi yang ingin menuju puncak gemilang cahaya, belok kiri nanjak abis, gaes. Ada baiknya selonjoran cantik dulu di pos ini sebagaimana yang kami lakukan. Susah emang jadi newbie, dengkul keropos semua.hehe

Di tengah trek ini juga terdapat Telaga Biru. Sebuah telaga yang luasnya sebesar lapangan basket. Namun sayang hari itu air di Telaga Biru surut. Telaga Biru saat itu lebih mirip empang yang terbengkalai. Tidak ada yang spesial.

Lanjut lagi, akan ada bagian trek yang menyerupai jembatan atau dermaga atau apalah namanya. Trek ini punya view yang kece buat foto karena latar belakang puncak Gede yang punya bentuk tak beraturan di sebelah kiri dan puncak Pangrango yang segitiga sempurna di sebelah kanan.

Pos Panyangcangan-Pos Air Panas

Sejauh pengalaman saya mendaki (cieee), gunung Gede-Pangrango adalah gunung yang jarak antar posnya cukup jauh. Dari Panyangcangan sampai pos air panas butuh waktu sekitar 3 jam untuk newbie seperti kami. Pun sepanjang trek, pemandangan masih dominasi hutan hujan tropis dan trek batu yang sudah dibentuk sedemikian rupa menjadi jalan setapak.

Untuk yang sehari-hari beraktifitas di ibukota, udara sepanjang trek ini sangat segar. Bagus untuk mengkompensasi yang selama ini dihirup. Kinyis-kinyis gitu deh, gaes

Setelah 3 jam dari pos Panyangcangan, tibalah kami di Pos Air Panas. Treknya licin, berbatu, berlumut, panas (yaiyalah, namanya juga mata air panas), dan antri. Ya, antri. Disini jika berpapasan dengan pendaki mesti bergantian karena pijakan sangat terbatas. Salah-salah bisa masuk jurang. Tak lupa, mengabadikan momen sambil nunggu antri lewat dan membantu seorang pendaki perempuan yang kakinya keram. Bantu kasih counterpain, gitu.

Di ujung bagian trek air panas ini, ada aliran air yang membentuk kolam kecil. Karena masih bercampur dengan mata air panas, jadilah kolam ini ramai dengan pendaki yang mandi dan juga kibas-kibas air mirip putri keraton yang mandi di sungai. Disini Om Sigit dan Dylan Elf main air sebentar sedangkan sayah dan Om Halil memilih duduk-duduk cantik di kursi semen permanen yang memang disediakan sambil meluruskan kaki. Pegel, gaes.

Pos Air Panas – Pos Kandang Batu

Setelah cukup dengan menunaikan hasrat Om Sigit dan Dylan Elf bermain air panas, perjalanan kami lanjutkan. Pos berikutnya adalah pos Kandang Batu. Disini merupakan pos yang bisa disinggahi untuk bermalam mendirikan tenda. Oh ya, jarak dari air panas ke kandang batu tidak butuh waktu lama, sekitar perjalanan 15 menit saja.

Disini kami tidak rehat, maklum sudah puas di air panas. Jadi kami melipir cantik disini sambil menatap nanar kumpulan pendaki yang sedang masak. Maklum, waktu menunjukkan sekitar pukul 11.00 WIB. Perut sudah berontak minta makan siang.

Pos Kandang Batu – Pos Kandang Badak

Dari pos kandang batu trek mulai bertambah kemiringannya. Menanjak dan terus menanjak. Berbeda dengan trek sebelumnya yang kadang disertai bonus trek datar. Di trek Kandang Batu ke Kandang Badak, bonus hanya ada di penghujung trek beberapa meter sebelum papan penunjuk Pos Kandang Badak.

Kami tiba di pos ini sekitar pukul 12.30 WIB. Langsung bongkar carrier, pasang kompor dan gas hi-cook untuk masak mie khususon untuk Om Sikam yang tidak suka dan tidak bisa makan nasi (nasiphobia). Sedangkan kami yang lainnya, langsung buka bekal yang sebelumnya sudah dibeli di warung bawah untuk jatah makan siang kali ini.

Kandang Badak – Dok. Pribadi

Istirahat siang itu kami jatah hingga pukul 13.30 WIB, tak lupa shalat jama’ sebelum perjalanan berlanjut dengan berwudhu mata air pos Kandang Badak yang bikin kaki langsung keram. Kinyis-kinyis gimana gitu. :p

Pangrango Attack!

Tepat 13.30 WIB, kami beranjak dari Kandang Badak. Selepas dari Kandang Badak, terdapat persimpangan, kanan ke Pangrango, lurus ke Gede, dan kiri ke hatimu.hehe. Nggaklah, gaes. Konon menurut info yang saya baca di indonesianmountains.com, persimpangan ke arah kiri bukan menuju ke hati kamu, tapi menuju ke arah kawah gunung Gede.

Tentu kami pilih kanan karena kami mau ke Pangrango. Trek mulai berubah. Vegatasi semakin rapat. Sesekali harus merunduk untuk melewati batang pohon yang roboh menghalangi jalan. Sumpah ini bukan properti yang dibuat orang-orang TNGGP tapi ini properti alami yang dibiarkan biar kelihatan wow (sotoy mode). Setengah jam pertama, trek masih landai namun setelahnya trek konsisten menanjak. Disini trek didominasi tanah dan akar-akaran. Siang itu trek sepi sekali. Kami hanya bertemu rombongan yang juga yang mau naik ke Pangrango. Rombongan asal Depok ini terpecah menjadi tiga kelompok dan ada peristiwa kurang mengenakkan dengan kelompok ini. Tapi ntar aja ceritanya, gaes.ngoahaha

Trek di Pangrango ini jujur sedikit membingungkan dan banyak sekali percabangan. Salah ambil trek yang ada kita nanti malah ambil trek turun. Jadi, banyak sekali pintasan jalan, yang tentu lebih curam. Analoginya jika trek normalnya berbentuk huruf C maka trek pintasannya berbentuk huruf I. Lurus dengan konsekuensi jalur yang sempit. Di Pangrango ini, pastikan carrier anda menggunakan coverbag karena sesekali carrier pasti tergesek dahan atau ranting yang jika apes bisa bikin carrier sobek. Apesnya lagi kalo itu carrier pinjeman, dijamin ga bisa tidur semaleman.hehe

Rintangan di Trek Menuju Puncak Pangrango – Dok. Pribadi

Vegetasi semakin rapat. Suasana hutannya mirip hutan di film dinosaurus! Banyak lumut dan tumbuhan paku. Beruntung kami tidak dicegat T-Rex atau velociraptor.hehe. sebagai gantinya, ranting-rantinglah yang terus “menggigit” coverbag carrier kami.

Matahari terus condong di arah barat. Angin sesekali menerbangkan bau belerang dari kawah gunung Gede. Bener-bener tetangga yang usil, mirip tetangga yang goreng ikan asin dan kita ikut kena baunya.

Kisah Rombongan Depok

Hari makin gelap dan kami putuskan berjalan bersama rombongan Depok yang saya ceritakan di atas. Mereka total 9 orang namun berpencar. 6 bersama kami dan 3 jalan duluan. Apesnya 3 orang yang jalan duluan tidak membawa headlamp/senter. Alhasil mereka sedikit panik ketika hari sudah gelap dan belum mencapai puncak.

Setelah rombongan saya plus rombongan depok yang 6 orang menyusul ke atas. Ternyata 3 orang yang di atas terpisah lagi menjadi 2 orang dan 1 orang. 1 orang sudah melipir duluan ke puncak sedangkan 2 orang menunggu dengan hampir panik. Salah satu dari 2 orang tersebut ternyata kedinginan. Mukanya pucat. Badannya menggigil. Namanya Septian. Setelah ditanya ternyata beliau sedikit panik ditambah belum makan. Kami pun berinisiatif mengeluarkan perbekalan nasi sisa bekal makan siang. Duh, bukan nasi sisa juga sih, maksudnya jatah nasi yang belum dimakan. Septian pun lahap makan dan diberikan treatment penghangat badan mulai dari gosok minyak kayu putih hingga minum jamu tolak anjing, eh, tolak angin, ding.

Setelah Septian kondusif untuk lanjut perjalanan, kami bersama menuju puncak gemilang cahaya 3019 mdpl. Butuh total 5 jam dari Kandang Badak hingga puncak Pangrango. Apalagi sepanjang trek tidak ada petunjuk jarak yang akan ditempuh untuk menuju puncak. Saya menjuluki puncak Pangrango adalah puncak PHP (Pemberi Harapan Palsu) karena apa? Dari tengah trek terlihat di atas pepohonan mulai menipis dan langit terlihat. Saya kira itu batas horison dan dekat dengan puncak. Ternyata itu punggungan gunung dan kami harus berbelok hingga batas horison tenggelam kembali di rimbunnya pepohonan paku zaman dinosaurus. Perjalanan yang sangat boros waktu tapi tak apalah, humanity first, gaes!

Dan puncak Pangrango gemilang cahaya kami tapaki pukul 18.30 WIB. Rombongan Depok memilih untuk bermalam di puncak sedangkan kami memilih untuk bermalam di lembah Mandalawangi.

Lembah Mandalawangi: Lembah Cinta Penuh Edelweis

Kabut sudah menebal. Headlamp Rp20.000 saya tidak bisa menembus kabut yang seliweran ditiup angin yang juga kencang. Jarak pandang terbatas disini kami sedikit kebingungan mencari lokasi lapak mendirikan tenda. Kamipun memainkan lampu senter dan saya tiup peluit yang ada di strap Consina Tarebbi saya. Peluit yang cukup membantu. Sinyal kami dibalas. Sudah ada 2 tenda yang berdiri dan mereka membalas mengarahkan senternya ke arah kami untuk menunjukkan jalan. Kami pun bergegas menghampiri dan buru-buru memasang tenda menghindari angin Mandalawangi yang terasa menusuk hati nan sepi ini.Halah.

Rencana kami malam itu untuk masak pupus. Setelah shalat, kami langsung berangkat ke alam mimpi.

Pukul 04.30 WIB, kami bangun dan bergegas shalat shubuh dengan wudhu bermodal embun yang menempel di rimbunan edelweis. Oh ya, di lembah Mandalawangi ini edelweis terhampar luas sejauh mata memandang. Malam itu total hanya berdiri 5 tenda (2 tenda susulan didirikan ketika kami tidur).

Kapan lagi berwudhu di rimbunnya edelweis. Dingin. Syahdu. Melankolis. Ingin menangis rasanya mensyukuri nikmat yang Dia berikan di ketinggian ini setelah bersusah payah menanjak di hutan dinosaurus.

Edelweis di Mandalawangi – Dok.Pribadi

Pagi menjelang, matahari tidak nampak. Mandalawangi lebih mirip lautan kabut. Pagi itu kami putuskan masak setelah sebelumnya mengambil air di arah utara lembah. Mata air disini sangat jernih walaupun aliran airnya sangat kecil. Seteguk air di ketinggian. Segaaaaaar.

Selepas makan pagi, kami putuskan leyeh-leyeh menikmati suasana Mandalawangi. Futu-futu. Keliling-keliling menghirup udara segar. Memegang edelweis dan membiarkan embunnya meresap ke kulit. Ingin rasanya memetik tapi buat apa? Edelweis adalah vegetasi hutan alpina/montana alias vegetasi yang hanya tumbuh di ketinggian lebh dari 2000 mdpl. Mau dipetik dibawa pulang? Ide buruk, gan. Buat apa? Dijual? Jadi souvenir buat pacar? Daripada gitu, mending ajak aja pacarnya buat liat langsung edelweis yang segar.

Mengibarkan Almamater :p – Dok.Pribadi

Pukul 09.00 WIB kami putuskan untuk turun kembali ke kehidupan yang menantang. Ingin rasanya berlama-lama disini, tapi apa daya, realita kita di bawah sana, bukan di atas sini. Biarlah di atas ini menjadi obat rindu Tuhan di hati kita yang suatu saat gundah.

Epilog

Perjalanan turun kembali lewat jalur Cibodas nan membosankan. Tidak perlu diceritakan. Benar-benar membosankan. Hari sudah maghrib ketika kami sampai di pos lapor Cibodas. Setelah bersih-bersih kami langsung bergegas pulang, kembali ke kehidupan nyata

Perjalanan ketiga mendaki saya ini pun penuh dengan evaluasi, antara lain:

  1. Sesuaikan logistik. Jangan terlalu sedikit dan juga jangan terlalu banyak. Kesalahan kami adalah membawa terlalu banyak logistik sehingga hanya membuat carrier berat dan mubazir. Tips dari saya jika mendaki TNGGP, jika mendaki pagi, belilah nasi bungkus di warung yang ada di bawah untuk bekal makan siang. Baru setelah itu untuk makan malam dan sarapan keesokan harinya dengan memasak. Cara ini cukup efisien
  2. Jangan takut kehabisan air. TNGGP memiliki beberapa sumber air. Jadi jangan juga membawa terlalu banyak air di carrier sehingga beban semakin optimal
  3. Jika mendaki via pos Cibodas, datanglah di malam hari dan lakukan pendakian di pagi harinya karena ada dua keuntungan, pertama, kita akan mempunyai energi yang cukup. Kedua, jika datang di malam hari, kita akan terbebas dari pungutan tiket masuk kawasan Cibodas sebesar Rp9.500 per kepala. Lumayan hemat, gaes

 *Bonus Chapter*

3 Jam Gelisah

Ya, gelisah. Bagaimana tidak. Menurut kamu, iya, kamu, apa yang dirasakan selama 3 jam mengenakan tas (carrier) yang setelannya belum pas. Pundak jauh lebih pegal, kaki sudah pasti, dan hati juga galau *apasih*. Pendakian kali ini, saya menggunakan carrier yang saya tidak kenal, maklum baru pertama dipakai, jadi mesti kenalan dulu. Alhasil, setelah 3 jam gelisah, setelan yang nyaman pun ketemu. Voila, tapi jalan semakin menanjak dan hati tetap galau. *duh*

Trek Batu vs Trek Tanah

Ini adalah pendakian ketiga saya, saya berhipotesa dari semua pendakian yang saya lalui, trek dengan formasi bebatuan membuat lebih cepat lelah dan membuat kampas dengkul mudah aus. Setidaknya itu yang saya rasakan sepanjang trek dari Cibodas hingga pos Kandang Badak, lutut jauh lebih sakit ketimbang dulu ketika saya ke Ciremai. Dengan asumsi durasi perjalanan dan kondisi trek yang sama-sama menanjak, trek batu jauh lebih menguras tenaga. Saya tidak tau hipotesa ini. Apakah anda setuju?

***

Kawan, bersujudlah di ketinggian karena dengan hal itu kita akan merasa kecil dan tidak ada apa-apanya dibanding kehebatan sang Pencipta. Jemputlah cinta-Nya di ketinggian karena selalu ada cinta di ketinggian, baik cinta terhadap sang pencipta ketinggian maupun kepada mereka yang menuju ketinggian.

“Aku bukanlah pendaki gunung ataulah pecinta alam, aku hanya seseorang yang ingin bersujud dari tempat yang sedikit lebih tinggi dari orang kebanyakan”

follow yuk: @ardiologi #promo :p

Iklan

5 pemikiran pada “Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Pangrango

  1. Ping balik: Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Papandayan | ardiologi

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s