Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Cikuray

FYI: Gunung Cikuray (2818 mdpl) adalah gunung tertinggi urutan ketiga di Jawa Barat yang terletak di Kabupaten Garut.

Bulan Mei-Juni 2014 adalah masa yang menyenangkan karena penuh dengan agenda nanjak beberapa gunung dengan beberapa tim berbeda. Setelah sebelumnya menjajal Ciremai dan Pangrango, kini saya diberikan kesempatan untuk bisa mampir ke Cikuray.

Pada perjalanan ini, tim yang membersamai adalah tim satu jurusan dari Pendidikan IPS UIN Jakarta angkatan 2010. Keberangkatan dipilih tanggal 13 Juni 2014. Total yang berangkat adalah 20 orang dengan komposisi 16 pejantan dan 4 kaum hawa.

Tim sepakat kumpul di halte kampus pukul 20.00 WIB. Namun tumpangan yang akan membawa kami hingga lokasi nyatanya tiba pukul 22.30 WIB. O ya, untuk transportasi kami mengandalkan travel yang memang khusus melayani tujuan gunung-gunung di Garut seperti gunung Papandayan, gunung Guntur, dan gunung Cikuray. Namanya Outsider Travel. Untuk ongkos tujuan Cikuray, dikenakan Rp70.000/kepala dan diantarkan hingga titik awal pendakian yakni Pos Pemancar di areal perkebunan teh PTPN di daerah Cilawu, Garut.

Perjalanan sedikit molor dari estimasi 6 jam menjadi lebih dari 7 jam akibat macet parah tol Cikarang, sekiranya kami tiba di tempat transit yakni di sebuah rumah makan pukul 05.00 WIB, alhasil tiba pukul 06.00 WIB. Di warung nasi Garungsang, itulah namanya, tim kami singgah untuk sarapan dan nonton sebentar laga piala dunia. Di warung ini pula kami bertemu dengan tim lain yang mau mendaki.

Perjalanan dilanjut pukul 07.00 WIB. Jalanan yang tadinya mulus langsung berubah total ketika masuk areal perkebunan teh PTPN Cilawu. Jalanan dominan batu karang runcing. Mobil travel jenis Suzuki Carry yang kami naiki terus memaksakan diri menerjang jalan super kasar ini. Perjalanan tentu sangat menyebalkan dan membosankan karena nyaris menghabiskan waktu 2 jam untuk sampai di pos pemancar.

Kami tiba di pos pemancar sekitar pukul 09.00 WIB. Cuaca terik beradu dengan hawa sejuk khas ketinggian. Pendaki sudah ramai berlalu lalang. Ada yang baru turun gunung. Ada juga yang bersiap naik seperti kami. Setelah melapor di pos pantau, kami berangkat. Tak lupa briefing dan doa menjadi keharusan di awal perjalanan.

Baru saja melewati pos pantau pendaki, jalan langsung miring. Trek sambutan adalah menanjak celah kebun teh. Cukup kaget juga dengan sambutan semacam ini. Satu orang kaum hawa di tim kami pun terhambat sejak awal. Wanita bertubuh gempal ini sudah menunjukkan gelagat kurang baik. Benar saja, di tengah tanjakan pembuka ini, dia mengeluh sakit di kakinya.

Saya yang saat itu berada di belakang otomatis mem-back up satu orang cewek ini bersama beberapa rekan kaum adam. Jalannya yang lambat membuat jarak kami di belakang tertinggal jauh dengan rombongan depan. Jalan terus menanjak kebun teh. Setelah itu melewati trek datar belasan meter, kemudian nanjak lagi, datar lagi sebentar, nanjak lagi dan kami tiba di batas antara ladang dengan hutan.

Di Cikuray ini agak sulit menemukan penanda pos, selain karena treknya yang memang minim bonus trek datar, juga karena treknya yang sempit. Trek jalur Cilawu ini mengikuti sebuah punggungan yang otomatis di kanan dan kiri adalah jurang yang pasti siapapun bergidik kalo kejeblos ke dalamnya. Hiii

Di Cikuray, air hanya tersedia di pos pemancar dan di antara pos 1 dan pos 2. Mata air disini cukup unik yakni pipa aliran air yang dibocorkan. Pipa yang sampai saat ini saya pun bingung dimana hulunya.

Topografi di Cikuray masih khas gunung-gunung tropis di Jawa Barat seperti Pangrango dan Ciremai. Lembab dan bervegetasi lebat dengan trek yang didominasi akar-akar. Untung saja tidak ada pacet disini, hanya saja saya sempat melihat penampakan makhluk tak berulang belakang seperti cacing sondari yang berukuran jumbo. Lebih besar dari ukuran cacing pada umumnya.

Perjalanan terus berlanjut dengan rombongan yang berpencar dalam kelompok-kelompok kecil. Sesekali kami bisa berkumpul di beberapa perhentian seperti di pos 3 yang agak luas.

Trek terasa membosankan hingga tempat yang akan kami targetkan sebagai lokasi pasang tenda yaitu di pos 6 atau puncak bayangan. Ya, disini merupakan ujung dari punggungan gunung jalur pemancar yang memang cenderung lurus ke arah selatan.

Di puncak bayangan, tenda sebanyak 5 buah langsung digelar. Kami bertaruh dengan waktu agar tidak kalah dengan hujan yang memang sajian utama di Cikuray. Pendakian di Cikuray di memang identik dengan hujan. Setidaknya itu yang saya dapatkan di catatan perjalanan beberapa tim yang berbeda.

Pukul 17.00 WIB tenda berdiri. Setelah hari gelap diputuskan untuk masak makan malam. Namun apa daya, ketika matahari tenggelam justru hujan deras datang. Kami semua hanya bisa bertahan di tenda dan beristirahat dengan perut menahan lapar. Tapi tetap saja, saya pilih tidur, waktu terlalu berharga kalo cuma dibuang buat nunggu hujan reda.

Benar saja, hujan baru reda pukul 22.00 WIB. Beberapa tenda bocor dan alhamdulillah, tenda yang saya bangun tidak bocor parah, hanya rembes sedikit di beberapa titik. Hujan reda, masak makan malam pun digelar. Malam itu kami putuskan tidak memasak nasi, hanya makan mie instan dan menghangatkan diri dengan kopi. Ternyata kopi apapun kalo diminum di gunung itu nikmat. Nyesss. Anget. Suatu saat, mesti ngajak kamu, iya, kamu, ngopi bareng di gunung.hehe

Kelak, kita perlu merasakan kopi atau coklat panas di ketinggian. Ngobrol berdua tentang kehidupan di bawah sana yang akan kita rajut bersama. Selamanya…

*digampar*

Jam tangan dengan jarum glow in the dark hasil berburu di ITC Depok milik saya sudah menunjukkan angka 12, saatnya istirahat untuk persiapan summit attack. Disepakati kami bangun pukul 04.00 WIB untuk preparasi dan berangkat pukul 05.00 WIB.

Entah karena suasana yang syahdu, kami pun berangkat muncak pukul 06.00 WIB. Padahal tim lain yang camp di sebelah kami sudah mulai rusuh sejak pukul 03.30 WIB dan mengajak summit bareng tapi tim kami di 5 tenda memilih melanjutkan tidur.

Summit dimulai! Hanya satu orang yang stay di tenda. Dia memilih tidak summit karena sebelumnya memang pernah ke Cikuray, mungkin karena bosan atau jiwa securitynya terpanggil, jadi dia memilih mengamankan tenda dan memasak sarapan. Perjalanan menuju puncak gemilang cahaya dimulai dengan trek yang berbelok ke arah barat. Analogi sederhananya, jika dari pos pemancar arah pendakian adalah lurus ke selatan, di puncak bayangan belok kanan ke arah barat.

Trek makin menanjak dan sempit. Bebatuan sudah mulai bergantian mengisi trek. Butuh satu jam hingga akhirnya kami sampai di titik tertinggi Garut dan titik tertinggi keempat di Jawa Barat: Puncak Cikuray!

Papandayan dan Guntur di kejauhan – dok.pribadi

shelter di puncak – dok.pribadi

(sebagian ) PIPS UIN Jakarta Angkatan 2010 – dok.pribadi

Puncak Cikuray tidak terlalu luas, luasnya mungkin hanya sebesar lapangan volly. Pendaki pagi itu sangat ramai, sampai-sampai tim kami harus bergantian untuk berfoto di satu titik yang memang memiliki latar belakang Gunung Papandayan, Gunung Guntur, dan Gunung Satria.

Banyaknya pendaki yang mendirikan tenda di puncak membuat ruang gerak menjadi sangat terbatas. Daripada pusing cari spot, terkadang hanya mematung menikmati pemandangan alam yang luar biasa. Kamu, iya, kamu, perlu lihat secara langsung disini.hehe

Di puncak Cikuray, terdapat sebuah shelter permanen setinggi 3 m. Orang sering menyebut bahwa ketinggian Cikuray adalah 2821 mdpl, namun setelah saya ngobrol dengan pendaki yang merupakan akamsi (anak kampung situ) ternyata 2821 mdpl adalah ketinggian setelah kita naik ke atap shelter tersebut. Di shelter pemandangan bisa 360 derajat dan terlihat tenda pendaki di jalur pendakian lain yakni jalur Bayongbong. Warna-warni tenda menjadi pemandangan kontras diantara rimbunnya vegetasi di sekitar puncak.

Satu jam kami habiskan di puncak untuk mengambil momen dan mengabadikan berbagai pose. Bahkan sampai ada yang bawa kertas khusus ucapan untuk seseorang. Kalo saya? Tetep forever alone. *meringis*

Perjalanan turun menuju puncak bayangan membutuhkan waktu 30 menit. Sesampai di tenda langsung disuguhi sarapan pagi. Sarapan di gunung emang nikmat, apalagi kalo bareng kamu, iya, kamu.

Perjalanan turun dimulai pukul 10.00 WIB setelah perlengkapan selesai dibongkar. Untuk perjalanan turun pun sama sulitnya dengan naik walaupun beban di tas sudah berkurang tapi ekstremnya trek membuat pendaki harus waspada agar tidak tersandung akar yang bisa mengakibatkan kejadian yang tidak diinginkan. Ya, mungkin masuk jurang dan keluar di Radar Garut. *hening*

Puncak Bayangan – dok.pribadi

Sampai di batas ladang dengan hutan, baru kami dapat melakukan speed tracking alias berlari turun. Tetap saja memiliki resiko tapi setidaknya treknya bukan lagi akar tapi tanah merah khas ladang.

Sampai di pos pantau pukul 13.30 WIB, melapor dan beristirahat sambil menunggu sisa tim yang masih jauh di belakang. Tim terakhir pun tiba pukul 15.30 WIB, lagi-lagi dikarenakan satu pendaki wanita sepertinya memang tidak mempersiapkan diri sehingga terus meringis kesakitan dan turun gunung sepanjang trek dengan cara ngesot, iya, ngesot, sehingga butuh waktu lama.

Tim kami start menuju Jakarta, eh, Ciputat ding, pukul 17.30 WIB. Tapi naas di tengah kebun teh, salah satu mobil kempes ban di tengah kebun teh, sehingga mengulur waktu untuk pulang. Untung saja cuma ban kempes, lah, kalo patah as roda, celaka, gaes.

Skip…Skip…kami sampai di Ciputat pukul 01.00 WIB dengan kaki pegal dan kesan hebat.

Evaluasi Pendakian:

  1. Flysheet sangat diperlukan supaya tenda tidak jadi “kontrakan bocor”
  2. Transportasi dengan travel memang memiliki nilai plus tapi juga memiliki nilai minus, yakni cara mengemudi supir yang cenderung ndeso yakni ugal-ugalan dan yang bikin mules adalah kebiasaannya yang main gas-rem seenaknya. Selain membuat perjalanan tidak nyaman, untung aja tuh rem ga blong.
  3. Persiapan fisik adalah mutlak. Mengandalkan passion saja tidak cukup. Atau akan merepotkan selama perjalanan seperti yang saya ceritakan di atas.
Aku bukanlah pendaki gunung ataulah pecinta alam, aku hanya seseorang yang ingin bersujud dari tempat yang sedikit lebih tinggi dari orang kebanyakan

follow twitternya ya: @ardiologi 😀 – dok.pribadi

Iklan

8 pemikiran pada “Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Cikuray

    • Bangunannya memang bisa dinaiki, mas

      strukturnya beton dan disediakan tangga

      terima kasih atas nasihatnya

      btw, di postingan blog mas, kok mendaki semeru via ayek-ayek turunnya? beretika (atau taat aturan) gak tuh? hehe

      salam lestari, terima kasih atas kunjungannya 😀

    • Disana gak ada tangga yang di buat khusus untuk naik ke atap, saya liat sendiri pendaki pada naik lewat jendela yang sangat membahayakan, diatap juga tdk ada pembatas, memungkinkan pendaki yg duduk di pinggir bisa kepleset karena desak2an…
      Dan juga banyak peringatan tertulis agar tidak naik ke atap shelter…
      Dilihatnya juga kurang beretika karena itu bukan GARDU PANDANG…

      Jadi kalaupun anda naik kesitu, sebaiknya jangan dipublikasikan…

      Pendakian Semeru turun via eyek2 memang tidak direkomendasikan tapi tidak ada larangan baku, apalagi membawa gauide dan porter lengkap…
      Dan dalam perjalanan guide penentu kebijakan…

      Sekedar masukan saja brother…
      Salam lestari…

  1. Ping balik: Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Papandayan | ardiologi

  2. Ping balik: Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Merbabu | ardiologi

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s