Memoar 11-11

sid

sidang, bro

11 November 2014, beberapa hari pasca hari ulang tahun, di tengah masih banyaknya kejutan ulang tahun yang masih banyak berdatangan. Hari itu (sidang) datang juga setelah menunggu lebih dari 30 hari dari tanggal pendaftaran.

Sidang skripsi, mungkin mirip dengan Ujian Nasional bagi anak sekolah karena sama-sama menentukan kelulusannya.

Dalam hal pengerjaan skripsi pun, ada semacam hukum yang berlaku:

Yang bodoh kalah dengan yang pintar

Yang pintar kalah dengan yang rajin

Jadi, pintar aja gak cukup

Hukum ini pun berlaku untuk saya.Terhitung sejak Februari penelitian dimulai dan baru berakhir di “persidangan” November ini. Sembilan bulan bukan waktu singkat. Tapi karena faktor rajin yang agak minim, maka sedikit lama ketika menyelesaikan. *alasan*

Skip sembilan bulan ibu mengandung.

Tiba juga saat pendaftaran ujian skripsi. Setelah siap dengan segala syarat dan ketentuan yang berlaku, melangkahlah ke ruang akademik. Mengisi berbagai macam form cukup banyak dan tinggal menunggu panggilan.

Bah, cem cowok panggilan aja. 😀

Hari itu datang, dengan berbekal jas pinjaman dan dasi slim hasil berburu di ITC Depok, berangkatlah pagi-pagi buta ke kampus demi bisa tepat waktu.

Sebelum sidang sudah dipenuhi berbagai macam ekspektasi. Mencoba menerka pertanyaan yang saat itu mungkin ditanyakan.

“Penelitian ini dimana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?” #eh

Sedikit nervous memang, tapi show  must go on. Bukankah kita selalu menjadi newbie saat pertama kali mencoba?

Skip..skip…

Dijadwalkan sidang berlangsung pukul 07.30 WIB dengan agenda pembukaan, tapi apa daya, baru dimulai jam 08.00 WIB. Pesan moral: dosen pun bisa telat. Jam 08.00 WIB, penguji sudah mulai berdatangan dan setelah pembukaan. Dari empat peserta sidang hari itu, saya dapat giliran pertama untuk maju untuk presentasi hasil.

Penguji I, sebut saja Bu Doktor, konon diceritaken suka rese kalo nguji. Bertanya banyak hal, macem penyidik lagi interogasi. Sempat deg-degan di awal.

Tapi…

Bu Doktor ternyata lebih banyak sumbang saran juga perbaikan teknis kepenulisan dan bertanya hal yang bersifat “kulit” saja dari penelitian saya. Sedikit berbeda dengan penguji II, sebut saja Pak Doktor. Nah, Pak Doktor inilah yang amat sangat very very  kepo terhadap penelitian saya. Segala macam hal ditanyakan.

Untung ga ditanya, “Kamu jomblo, ya?”

#garuktembok

Setelah 40 menit, Pak Doktor selesai dengan ke-kepo-annya dan sesi saya selesai. Ya, sidang skripsi untuk sesi saya selesai sodara-sodara. Rasanya cepat sekali. Belum apa-apa udah kelar #eh #bukansombon. Ya, saya merasa waktu yang dihabiskan sangat singkat, tapi sudahlah, rejeki anak sholeh. Saya pun menunggu ketiga rekan sidang yang lain maju. Mereka pun sama “menderitanya”. Di-kepo-in habis-habisan tentang penelitiannya.

Skip…skip…

Semua peserta sidang sudah selesai maju mempertanggungjawabkan skripsinya. Hari semakin siang dan perut sudah semakin tidak karuan karena lapar. Penguji dan ketua sidang meminta untuk break . Kami pun menunggu. Saya menahan lapar lebih tepatnya.

Akhirnya pengumuman yudisium pun dimulai. Ketua sidang mempersilakan kami berdiri di depan. Setelah memberikan wejangan. Diumumkanlah hasilnya dan alhamdulillah, nilai sempurna. Alhamdu-lillah.

Seketika kami pun bersorak. Rekan sidang yang lain sampai ada yang menangis terharu. Lantas saya? Cuma bisa nahan lapar. Ugh. #beranibeda

sidang

peserta sidang yang berbahagia #eh

Setelah berfoto dengan ketua sidang dan penguji, kami pun keluar ruang eksekusi. Di luar sudah banyak penggemar yang minta foto bareng.  Ramai sekali. Mewakili berbagai unsur. Ada geng. Ada kelas angkatan awal masuk. Ada kelas konsentrasi. Dan yang spesial untuk saya adalah hadirnya kawan-kawan PPKT (atau PPL) alias teman magang di sekolah semester lalu. Mereka berkonspirasi untuk memberikan cinderamata. Sederhana tapi bermakna. Terima kasih, gaes.

doanya kagak nahan, bro

doanya kagak nahan, zoom aja~

lensanya dimana, woooy #keder

lensanya sebelah mana, woy #gagalfokus

Akhirnya  bisa makan juga #eh. Tim PPKT saya pun berinisiatif untuk makan bareng (tapi jurus seribu alasan, saya tidak mentraktir mereka #ketawajahat), yang penting kebersamaan harus dijaga.hehe. Solidarity forever!

Setelah pamit, ternyata ada lagi yang mengundang untuk kumpul. Undangan ini datangnya dari tim touring. Ya, tim yang beberapa waktu lalu pernah berangkat touring bareng ke Pantai Sawarna. Malam itu, jadilah kami berkumpul di sebuah angkringan Jogja yang tidak begitu jauh dari kampus.

Dan ternyata, sodara-sodara. Ada surprise lagi untuk saya. Sebuah cinderamata berbentuk bunga mawar artifisial (baca: buatan) berbahan flanel, berwarna biru, bertangkai kawat, dan disemprot parfum-entahlah-apa-namanya. Lucu juga sih. Lagi-lagi walaupun sederhana yang penting bermakna, apalagi kamu, iya, kamu yang kasih. #eh #disiramwedang.

Sidang skripsi memang sudah berakhir, tapi kehidupan baru saja dimulai!

Bonus foto:

abis sidang langsung blusukan.heh

blusukan abis sidang

semoga ga mules liat gambar di atas.heuheu

Iklan

6 pemikiran pada “Memoar 11-11

  1. congratulation Ardi Wahyudi, S.Pd. selamat menempuh hidup baru sm gelar sarjana (berhubung msh jomblo jd menempuh hidup barunya sm gelar sarjana yang baru aja). hahahaah 😀

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s