Refleksi Satu Cinta di Ketinggian

Tahun 2014 adalah tahun petualangan! Ya, bagaimana tidak , karena alhamdulillah di tahun ini saya berhasil mendaki 4 puncak gunung tertinggi di Jawa Barat. Semakin menyenangkan lagi ketika semua petualangan itu berhasil saya rekam di blog ini dengan segala macam kesan dan tantangan. Selengkapnya bisa tengok kategori mendaki di blog ini.

Dari sekian banyak catatan pendakian tersebut, satu yang teringat jelas hingga hari ini adalah catatan pendakian ke Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat. Catatan itu saya beri judul Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Cikuray. Sesuai judulnya, setiap pendakian saya adalah kegiatan untuk menjemput cinta-Nya. Terkesan lebay memang namun disanalah letak keunikannya. Anda yang pernah mendaki pasti paham apa yang saya rasakan.

Nah, kesan di catatan pendakian edisi Cikuray tersebut adalah kesan ketika saya harus menuangkan ulang pendakian tersebut dalam sebuah tulisan. Tidak seperti catatan pendakian lainnya karena pendakian ini cukup sentimental. Kenapa sentimental? Karena semua anggota pendakian adalah sahabat-sahabat di bangku kuliah dengan beragam cita rasa dan latar belakang. Riuh? Pasti. Berkesan? Ya! Bahkan foto saya ketika mengibarkan bendera merah putih di puncak Gunung Cikuray tersebut saya gunakan sebagai gambar header blog ini.

Di catatan itu, memang tidak semua hal saya ekspos secara vulgar, apalagi tentang watak anggota pendakian karena satu hal yang kami sepakati bersama ketika mendaki:

Cerita yang berada di atas sana, tidak semuanya harus dibawa turun

Namun beberapa hal yang mesti digarisbawahi karena memang bersifat informasi ke khalayak (ciee..khalayak). Untuk bagian tersebut tetap saya sertakan walaupun dengan hati-hati.

Seperti catatan pendakian yang lain, catatan ekspedisi ke Gunung Cikuray tersebut langsung saya buat keesokan hari ketika sudah sampai di rumah. Selain karena memang memori yang masih fresh, hal ini juga untuk mempercepat proses penulisan. Jujur saja, semakin lama suatu kejadian dicatat maka makin lama pula durasi pengetikannya. Perkiraan waktu yang saya capai untuk membuat catatan pendakian itu hanya sekitar 30-40 menit. Cukup cepat untuk sebuah catatan yang agak panjang.

Pada pendakian tersebut hal yang saya amat sayangkan adalah saya tidak membawa kamera sehingga tidak mampu mencatat detail waktu dari setiap momen alhasil salah satu kelemahan dari tulisan tersebut adalah catatan waktu yang masih kasar. Sedikit berbeda dengan catatan-catatan pendakian lain dimana saya membawa kamera sendiri dan mampu merekam momen waktu sangat detail karena memang terekam dalam metatag/EXIF foto.

Sudah ribuan orang yang pernah mendaki gunung di Indonesia. Tak sedikit yang mencatat dalam catatan perjalanan di forum, blog, bahkan dituangkan dalam buku. Saya pun ingin terus menjadi orang yang demikian. Mencatat setiap ekspedisi, merenungkan kesan yang terjadi, dan membagikan kepada orang lain agar menjadi informasi bermanfaat. Ah, alam raya memang hebat karena alam memberikan hikmah tak terhingga maka abadikan, tuliskan, dan bagikan!

Merah Putih di Atap Garut, Gunung Cikuray 2821 mdpl

Merah Putih di Atap Garut, Gunung Cikuray 2821 mdpl

***

“Postingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer”

Iklan

5 pemikiran pada “Refleksi Satu Cinta di Ketinggian

  1. Saya datang dan sudah membaca “Self Reflection” di blog ini
    Terima kasih telah berkenan untuk ikut lomba saya ya
    Semoga sukses

    Salam saya
    #53

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s