Ada Cinta di Kota Kembang: Sebuah Catatan Perjalanan

Bandung, sebuah kota di Jawa Barat yang sedang hip karena progress positif yang terus digagas oleh walikotanya yang sekarang yakni Ridwan Kamil alias Kang Emil. Nah, karena penasaran dengan segudang progress yang (katanya) keren, maka tercetuslah agenda turing dengan motor menuju kota kembang tanggal 26-28 Desember 2014.

Sebenarnya turing ini cukup alot pembahasannya. Nyaris batal karena sebelumnya tidak satu suara. Ditambah lagi ada satu anggota tim ciwi-ciwi yang terus cerewet akan turing ini. πŸ˜€ Akhirnya, diputuskan, ada yang turing dengan motor dan ada yang berangkat dengan bus. Total ada 8 peserta dengan 5 pemotor dan 3 pebus (pebus?).
Tim motor berangkat menelusuri jalur Ciputat-Parung-Tajur-Puncak-Cianjur-Padalarang-Cimahi-Bandung. Perjalanan cukup lama dan melelahkan karena hujan sepanjang perjalanan ditambah lampu jalan yang minim mulai Cianjur hingga Padalarang sehingga kami tidak bisa memacu motor lebih dari 80 km/jam.

Petualangan Hari Pertama: Keliling Dipati Ukur hingga Alun-Alun Kota Bandung

Oh ya, di Bandung kami disambut seorang kawan Teknik Perminyakan ITB 2012, sebut saja Yuzar (nama sebenarnya). Awalnya pertemuan dengan Yuzar hanya sebatas silaturahim namun lama-lama bermodus pinjam motor dan menjadikan doi pemandu dadakan. πŸ˜€ Setelah Yuzar berhasil meminjamkan motor, kami berkeliling menelusuri jalanan Bandung. Awalnya saya meminta Yuzar menuju sebuah outlet toko perlengkapan outdoor di Jalan Dipati Ukur namun barang yang dicari ternyata tidak ada. Kami pun lanjut perjalanan menelusuri Jalan Juanda alias Dago ke arah alun-alun. Disinilah serunya tipikal jalan di Kota Bandung. Jika belum hapal kemungkinan yang terjadi adalah nyasar dan berputar-putar. Namun karena kami sudah memiliki pemandu dadakan, kami bisa dengan lancar menuju alun-alun Kota Bandung di Jalan Asia-Afrika.

Bagaimana keadaan alun-alun kini? Luar biasa, cukup signifikan. Lapangan yang tadinya hanya con-block kini disulap dengan rumput sintetis. Bersih dan sedap dipandang. Kami harus melepas alas kaki agar tidak mengotori rumput. Cuaca hari itu sangat bersahabat yakni berawan meski jam menunjuk angka 10.30 WIB. Jadi sangat pas buat foto-foto. Secara fotografi pun cahaya matahari tidak sampai overexposure. Alun-alun cukup ramai dan semua yang ada di alun-alun menunjukkan hal yang sama, yakni raut wajah bahagia. Saya yakin Indeks Kebahagiaan warga Kota Bandung ada peningkatan. Duh, kok jadi subjektif gini, ya. πŸ˜€

Selebihnya biarkan foto yang berbicara…

image

Tim Motor

image

Tim Ciwi-Ciwi


image

Selpeh dolo, qaqa :p

Selepas puas di alun-alun, kami beranjak ke Museum Konferensi Asia Afrika (Gedung Merdeka). Biaya masuknya pun gratis. As always, museum selalu punya aura kuat tentang ideologi dan sejarahm. Di Museum Konferensi Asia Afrika ini pun, tersaji sejarah tentang Gerakan Non-Blok (yang mana merupakan blok tandingan Blok Barat yakni NATO cs dan Blok Timur yakni USSR/Uni Soviet; selengkapnya silakan baca sejarah pascaperang dunia II πŸ˜€ ).

image

Museum Asia Afrika


image

Auditorium Museum Asia Afrika


image

Sisi Luar Gedung Merdeka / Museum Asia Afrika

Keluar dari museum (atau lebih tepatnya diusir karena sudah jam 12.00 WIB, kami singgah sebentar di sisi kanan museum untuk beli cimol dan es potong. Kaget dengan rasa es potongnya. Rasanya beda banget dengan yang biasa. Raos sateh. πŸ˜€

image

Es potong samping Gedung Merdeka

Azan sudah berkumandang, kami kembali ke arah alun-alun yang mana di sebelahnya ada Masjid Raya Bandung. Setelah sholat dzuhur kami leyeh-leyeh hingga ketiduran dan baru beranjak pukul 13.30 WIB.

Setelah selesai di alun-alun kami merencanakan mengunjungi sebuah kedai mie aceh “Dapur Aceh” di Jalan Brigjen Katamso. Mie Kuah Udang seharga Rp20.000 cukup menghangatkan badan yang sedikit kehujanan karena perjalanan dari alun-alun ke kedai tersebut sempat disela hujan deras. Selesai makan kami mampir shalat ashar di masjid yang tidak jauh dari Jalan Surapati. Leyeh-leyeh lagi sampai sholat maghrib. Ba’da maghrib, kami kembali ke Salman. Di malam kedua ini, Yuzar menawarkan kami (tim motor) untuk menginap di kostnya di daerah Dago. Sedangkan ciwi-ciwi tetap istirahat di Masjid Salman ITB. Tidak banyak kegiatan malam itu karena kami harus melunasi hutang tidur malam sebelumnya. Apalagi cuaca malam itu emang bobo-able hingga kami cepat tenggelam ke alam mimpi.

Petualangan Hari Kedua: Menyusup ke Kondangan

Di hari kedua, agenda kami adalah menghadiri sebuah undangan pernikahan. Sebenarnya yang diundang adalah satu orang dari tim bus alias tim ciwi-ciwi. Namun karena memilih oportunis dan pragmatis, kami pun “menyusup” ke kondangan tsb untuk bisa makan siang.hehe (do with your own risk :p). Kondangan selesai, perut kenyang. Kami kembali ke Salman ITB untuk mengembalikan motor ke Yuzar sekaligus berpisah dengan tim ciwi-ciwi karena mereka naik bus.

Epilog: Lewat Gunung Batu Aja, Bro

Kami, tim motor, tidak tahu sebelumnya bahwa jalur motor yang paling ringkas dari Cimahi menuju Dago adalah via Gunung Batu. Malam ketika berangkat, kami justru lewat Pajajaran – Pasir Kaliki – Layang Pasupati yang notabene penuh belokan. Ketika pulang melewati Jalan Gunung Batu, ternyata lebih cepat. Jalan Gunung Batu berada di ujung barat Jalan Djundjunan (ujung dari jalan layang Pasupati). Di ujung jalan tsb, ketika ada perempatan yang jika lurus masuk tol Pasteur, belok kanan ke arah Suria Sumantri, maka belok kiri ke Jalan Gunung Batu. Dari jalan tsb cukup lurus saja sampai Cimahi lalu lanjut Padalarang-Cianjur-Puncak.

Bonus Chapter: Liburan vs Renungan

Jika orang-orang berlibur lalu mendapat otak yang fresh, entah kenapa ketika pulang saya malah punya semacam “beban” (dalam tanda petik) di pikiran. Berkecamuk. Entah apa, yang jelas sepertinya berkaitan dengan cita-cita saya beberapa tahun lalu yang memiliki sandi operasi #bandung2014. Apa itu #bandung2014? Saya tidak bisa jawab tapi itu yang sepertinya pemicu berkecamuknya pikiran.

Posted via WordPress for Android

Iklan

6 pemikiran pada “Ada Cinta di Kota Kembang: Sebuah Catatan Perjalanan

  1. Wah asik juga nih jalan-jalan ke Bandung.
    Tentang Alun-alun, saya baru melihatnya saja di sosial media. Sekarang jadi luar biasa menawan, saya jadi kebelet ingin berkunjung juga kesana.
    Saya mengenal Bandung juga melalui jazz. Sedikitnya 3 festival jazz saya hadiri tahun ini di Bandung…

    Salam dari saya di Sukabumi,

    • Iya, kang, apa yang digembar-gemborkan di sosmed memang benar adanya, ada pembenahan yang signifikan. Ketika saya kesana pun, pekerjaan renovasi belum selesai dan baru diresmikan 30 desember.

      Sayangnya saya gak mampir ke gigs musik lokal, apalagi jazz πŸ˜€ kapan-kapan pengen juga eksplor dari segi kreasi musiknya.

      Terima kasih atas kunjungannya, kang πŸ™‚

  2. Ah jadi pengen turing lagi, dan alhamdulillah masa liburan bagi anak Unpad telah tiba.
    Maunya turing dalam kota sama temen SMA, biar bisa foto-foto di Gedung Merdeka lagi. Tapi biasanya pada wacana doang euy.

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s