Saya Benci Menulis

sumber: bdewanti12.blogspot.com

Dahulu kala, seperti yang sering divisualisasikan dalam berbagai film, aktifitas yang dilakukan di suatu tempat dalam sebuah ekspedisi ataupun perjalanan umumnya dituliskan dalam sebuah buku catatan kecil portable beserta pensil ataupun pulpen yang menyertainya. Pengamatan dan pencatatan, pengamatan dan pencatatan, dst berulang-ulang. Hal yang repetitif. Bayangkan situasi dan kondisi yang cenderung sulit ditebak, bisa hujan ataupun kerusuhan, padahal kondisi demikian harus tetap tercatat. Hal demikian tentu merepotkan tapi masa-masa itu sudah jauh berlalu. Kalaupun masih ada seperti itu, kemungkinan adalah petugas sensus atau mahasiswa yang sedang pengamatan lapangan.

Atau kita mundur di era yang jauh lebih lampau lagi, di masa kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara. Kerajaan tersebut umumnya memiliki catatan-catatan sejarah atau nukilan peristiwa yang diabadikan dalam berbagai bentuk, bisa berupa prasasti ataupun catatan lainnya.

Hari ini, di era dimana suatu fenomena atau peristiwa bisa dengan mudah diabadikan. Ya, teknologi melakukan fungsinya dengan baik. Menemukan peristiwa langka, langsung diabadikan dengan kamera telepon. Pun jika menemukan fenomena menarik, langsung direportasekan dalam sebait kalimat ringkas bernama status. Suatu hal yang menurut saya seperti pisau bermata dua. Semua bisa menjadi hal baik atau malah jadi hal yang tidak produktif (saya tidak menilai ‘hal tidak baik ‘).

Jika kita rangkum penjabaran di atas maka bermuara pada satu hal yakni kemauan dan kemampuan untuk mendokumentasikan suatu hal di masanya dengan maksud tertentu sesuai keinginan pembuatnya. Saya berani bertaruh bahwa sebagian besar komputer yang dimiliki masyarakat pasti memiliki perangkat lunak pengolah kata (katakanlah yang paling masyhur, Microsoft Word). Logika yang paling mendasar jika perangkat lunak tersebut ada dalam perangkat komputer, pasti fungsinya ada dua, membaca dan menulis.

Pertanyaan berikutnya adalah aktifitas mana yang lebih sering dilakukan di dalam perangkat lunak tersebut? Lebih banyak menulis atau hanya sekedar membaca (tulisan lain) saja? Jika memang kita menganggap diri sebagai saksi sejarah atau mungkin pelaku sejarah, lantas mengapa tidak ada upaya untuk mendokumentasikannya? Sejarah tidak melulu tentang aksi heroik antara senapan Kalasnikhov melawan bambu runcing. Hari-hari yang kita lewati pun bernilai sejarah asalkan ada nilai moral yang bisa simpulkan dan bermanfaat kelak.

Maka, saya benci menulis jika memang itu tidak ada upaya di dalamnya untuk mendokumentasikan kebermanfaatan. Bukankah tulisan itu abadi? Dokumentasi yang tidak lekang oleh usia. Seseorang boleh berusia biologis di usia 60an tapi tidak dengan usia historisnya yang bisa sampai berabad-abad. Salah satu cara memanjangkan usia historis itu ya dengan menulis. Saya benar-benar benci menulis jika memang itu sulit diraih manfaatnya.

Pedang bisa berkarat namun tidak dengan tulisan

NB: Sebuah catatan untuk “menampar” diri sendiri

Iklan

3 pemikiran pada “Saya Benci Menulis

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s