Revolusi Mental

sumber: rmol.co

Pagi itu, sekitar 2 jam lagi menjelang shalat Jum’at, saya menunggu seorang kawan di teras koperasi fakultas. Sambil menatap lapangan parkir yang cenderung kosong karena memang sedang liburan, di sebelah duduk beberapa pegawai kampus dan satpan. Mereka sibuk sekali ngobrol sampai saya yang disamping mereka sedang memembuka ponsel tidak bisa mengelak untuk tidak menguping obrolan mereka.

Obrolan mereka masih menandakan mereka masyarakat Indonesia yang penuh suka duka. Cukup panjang, seru, dan emosional sekali masing-masing dari mereka menyampaikan keluh-kesahnya. Saya yang “sibuk” menatap layar ponsel untuk blogwalking dan stalking saja sampai kehilangan fokus oleh mereka.

Yang ingin saya sampaikan adalah ketika salah seorang pegawai kampus mulai berbicara tentang ponsel. Seperti obrolan pada umumnya semua akan mengalir begitu saja. Awalnya pembicaraan mengenai ponsel dan kemudian obrolan menjadi kurang lebih seperti ini:

“Hape sekarang ‘kan bagus-bagus, macem BB atau Android” Ia berkata.

“Gue kalo nemu hape di jalan trus yang punya telpon hapenya” ujarnya bersemangat, “gue bakal langsung bilang seratus ribu!”

Sampai sini, ada jeda. Nampaknya ini bagian yang lain memberi tanggapan tapi ternyata tidak ada tanggapan.
“Iya lah, buat nebus, itu hape (temuan) kalo dijual sejuta mah laku kali” lanjutnya.

Sebenarnya saya masih belum menangkap obrolannya hingga ia berseloroh di kalimat terakhir itu yakni ketika bagian “menebus”. Maksudnya adalah ketika menemukan ponsel di jalan milik orang lain dan sang pemilik hendak mengambilnya lagi, maka si pegawai itu “memeras upah”. Hal itu dimaksudkan ketimbang ponsel itu dijual dan malah jauh lebih merugikan bagi pemiliknya, lebih baik ada “upah” pengembalian.

Saya seketika itu langsung berdoa, “semoga pegawai itu kehilangan ponselnya atau dompetnya dan ketika hendak diambil kepada yang menemukan, ia lalu diperas”. Namun saya seketika ralat doa itu menjadi doa yang lebih umum, “semoga pegawai itu diberikan pencerahan atas sikapnya.”

Teman saya tetiba datang dan segera saya beranjak dari tempat itu untuk menuju kantor jurusan. Pembicaraan mereka sudah tidak lagi menarik untuk didengar.

Iklan

6 pemikiran pada “Revolusi Mental

  1. Haduh haduh. Mungkin karena budaya “ucapan terima kasih” itu terlalu kental, jadinya malah agak keterlaluan.

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s