Faktor X di Toko Buku

sumber: eurekabooksellers.com

Sudah 11 Februari, dijadwalkan bahwa hari ini One OK Rock akan meluncurkan album baru berjudul 35XXXV.

OK, tapi pos ini bukan tentang rilisan album baru One OK Rock sih.

*gagal fokus*

Beberapa bulan belakangan, pascasidang skripsi, saya punya semacam “ikrar kecil-kecilan” yaitu tidak akan berangkat ke kampus jika hanya ada satu agenda. Minimal harus ada dua agenda agar saya bisa berangkat ke kampus. Alasan kenapa saya membuat ikrar tersebut adalah untuk efisiensi energi dan ongkos karena kegiatan di kampus hanya sebatas urusan administrasi bla bla bla menjelang wisuda *uhuk* dan kegiatan insidental lainnya. Jadi sebisa mungkin saya mengatur jadwal agar kegiatan-kegiatan tersebut terhimpun dalam satu hari saja agar epektip dan episien.

Kemarin (10/2) bisa dibilang adalah hari dimana saya melanggar ikrar tersebut. Berangkat ke kampus hanya untuk satu buah agenda administrasi jelang wisuda *uhuk lagi*. Sebenarnya agak terpaksa karena mau bagaimana lagi. Coba menghimpun niat dan keikhlasan lalu bruuum melaju cantik ke kampus.

Urusan kampus pun selesai hanya dalam tempo beberapa menit saja karena agendanya hanya sebatas mengambil selembar surat di akademik fakultas – fotokopi selembar – serahkan ke jurusan – selesai. Selesai mengambil surat, saya berimprovisasi agar keberangkatan ini sedikit lebih berbobot ketimbang hanya sebatas ambil sehelai surat saja. Kemudian saya putuskan untuk mampir ke sebuah toko buku di Jalan Margonda, Depok.

Tidak seperti biasanya, parkir di toko buku tersebut penuh dan saya kebagian parkir di lantai Upper Ground (biasanya untuk motor di Lower Ground). Ternyata hari itu sedang ada agenda meet and greet dan booksigning dengan Raditya Dika yang belum lama ini meluncurkan buku terbarunya, Koala Kumal. Pengunjung untuk acara tersebut bisa dibilang membludak hingga antrian booksigning pun mengular ke tangga lantai 1. Laris manis nih buku Bang Radit.hehe

Saya abaikan acara meet and greet yang ada di lantai Upper Ground tersebut. Bergegas naik ke lantai 2 ke tempat dimana koleksi buku dipajang. Mondar-mandir sana-sini. Baca skimming satu novel. Baca agak lama sebuah buku tentang lighting fotografi. Tertegun menelan ludah ketika mampir ke rak bahasa dan mendapati bahwa buku Barron’s IELTS Preparation dijual dengan harga yang dahsyat. Mampir ke rak majalah dan mengintip sebentar majalah National Geographic. Kurang lebih 90 menit saya habiskan untuk berkeliling membaca sampel buku tapi akhirnya tetap saja tidak ada satupun buku yang dibeli.

Ya, jujur saja, ketika saya ke toko buku, jarang sekali beli karena lebih sering baca saja kecuali memang buku tersebut urgen. Entah kenapa kebiasaan ini jauh lebih menyenangkan ketimbang beli dan baca di rumah. Toko buku itu seperti punya aura yang sulit didefinisikan. Damai. penuh inspirasi, sejuk, dan faktor X yang sulit didefinisikan. Hal seperti ini yang membuat saya betah berdiri lama untuk membaca sampel buku.

Entah apa namanya tapi faktor X itulah yang sepertinya hanya ada di toko buku.

Iklan

16 pemikiran pada “Faktor X di Toko Buku

  1. For me, faktor X betah lama di toko buku itu:
    1. bosan di rumah,
    2. nongkrong cantik
    3. baca buku gratis xD
    btw, baru minggu lalu Raditya Dika di jogja buat meet and greet. Koala Kumal beneran lucu banget deh..

  2. Selamat atas kelulusannya Mas, cepat wisuda, semoga sukses, saya boleh minta traktiran nggak Mas? Jakarta Depok tidak jauh, kok :hehe
    Mungkin benar ya, toko buku punya sesuatu yang berbeda. Kalau di toko buku, mendadak banyak ide novel mengalir minta ditulis, semangat juga menggebu, meski itu semua hilang ketika masuk kamar kos lagi :haha

    • hmmm, halo…halo…komentarnya gak kebaca…putus-putus disini :mrgreen:

      kalo udah keluar toko buku, distractionnya banyak bet, mungkin itu yg bikin beda kalo baca ataupun nyaro ide di toko buku ⭐

    • Wah padahal di sini jelas betul lho Mas. Oke terima kasih ya! :haha
      Ya, mungkin demikian, ya? Masalah itu ada di luar toko buku :hehe

  3. Kayaknya ane tau toko buku ny dmana, di jalan margonda ya??
    Klo pernah baca “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” ny Tere Liye prolog novel nya setting tempat ny disitu πŸ˜€

  4. Iya….kalau saya betah lama2…juga ada yg kurang kalau tdk beli meski hanya satu buku…. dan saya sll bangga diam2…kalau melihat anak2 muda berkunjung ke toko buku..

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s