Wisudawan yang (Tidak Terlalu) Bahagia

sumber: esensi.co.id

Siang ini (26/2), sehabis santap siang dengan nasi padang paling enak seantero Gunung Putri (klaim sepihak :p ), saya berpikir. Belakangan saya memang suka berpikir keras #mikirkeras. Ya, meskipun godaan untuk tidur siang sangat kuat, saya paksakan untuk berpikir. Di tengah penulisan post ini pun pikiran saya masih belum selesai.

Hari minggu kemarin (22/2), saya secara de jure sudah “diusir” oleh kampus. Diusir dengan terhormat tentunya, dengan kostum toga lengkap dan prosesi seremonial yang cenderung membosankan. Ucapan selamat, hadiah bunga, cinderamata, dan foto bareng jadi ritual yang dilakukan seharian itu. Kehadiran sahabat dan orang tua di momen spesial adalah candu yang positif. Tidak ada tidak ada alasan untuk tidak tersenyum hari itu. Ucapan terima kasih dibarengi senyum adalah kesatuan integral yang utuh dan tak terpisahkan. Tapi di sepanjang hari itu, meskipun saya mencoba untuk tetap tersenyum, saya menyembunyikan kegelisahan. Kegelisahan yang berputar-putar di kepala dalam bentuk pikiran.

Tentu senang bisa diwisuda. Bisa menyetop subsidi negara untuk diri dan mempersilakan yang belum kebagian untuk mendapatkan gilirannya. Tapi. Ya, ada tapinya. Rasa senang itu masih beradu kuat di kepala dengan kegelisahan yang ada. Salah satu ucapan sahabat, “selamat menjadi laki-laki dewasa” (walaupun yang bilang itu belum wisuda sih #duar). Ucapan tersebut yang menjadi akumulasi kegelisahan saya saat prosesi wisuda hari itu hingga saat ini.

Jika saya terjemahkan, maksud dari ucapan “menjadi lelaki dewasa” itu adalah bagaimana saya harus mulai survive dengan radikal bebas dan kehidupan yang sesungguhnya, yakni terjun ke masyarakat yang lebih majemuk, membangun etos dan sikap yang bertanggung jawab, serta merancang kemandirian baik dalam hal sandang, pangan, dan papan.

Kemudian adalah “karya”. Karya, jika boleh saya terjemahkan secara bebas, adalah hal wajib yang seorang manusia harus miliki. Bersyukurlah manusia punya jutaan potensi untuk bisa menelurkan karya, baik yang biasa ataupun mahakarya. Karya-karya itulah yang menjadikan hidup seimbang. Ada orang yang dengan potensinya bisa “berkarya” menghasilkan beras, orang ini kita sebut petani. Ada orang yang potensinya menelurkan karya berupa tulisan-tulisan bermanfaat, orang ini kita sebut blogger penulis. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Kegelisahan saya pun berujung pada satu pertanyaan, “apa karya yang bisa membuat survive di ‘kedewasaan’ ini?”

Saya pun berpikir.

Berpikir.

Dan terus berpikir.

Iklan

19 pemikiran pada “Wisudawan yang (Tidak Terlalu) Bahagia

  1. Selamat atas wisudanya Bro! Saatnya menerapkan semua ilmu yang sudah didulang pada kehidupan nyata: kehidupan masyarakat! Kalau menurut saya, jangan khawatir tak bisa berkarya karena semua orang pasti bisa berkarya, semua orang pasti akan membuat karyanya ๐Ÿ˜€

  2. selamat ya Ardi untuk wisudannya…
    jangan takut untuk berkarya, setiap karya pasti ada manfaatnya kok ๐Ÿ™‚

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s