[Review] Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps

why men dont listen and women cant read maps

why men dont listen and women cant read maps

Pernah suatu ketika, saya bersama geng (ciee..geng) berkumpul dan mendiskusikan suatu  lokasi. Pembicaraan mengarah kepada letak dari lokasi tersebut secara geografis. Kami, para laki-laki, tentu bisa dengan mudah mendiskusikan peta perjalanannya, walaupun ada juga yang agak “ketinggalan” mikirnya.hehe. Yang mengherankan adalah ketika membahas peta perjalanan tersebut dengan para perempuan. Pembahasan menjadi seperti amburegul ameseyu, ngawur. Ketika bahas belok kanan, padahal yang dimaksud kiri. Bahas patokan jalan berdasarkan suatu objek pun sama sulitnya. Singkat cerita, diskusi berganti topik dengan sendirinya.

Fenomena seperti di atas, tentu juga pernah dialami oleh para rekan sekalian bukan? bukan bermaksud sexist atau apa, yang jelas secara default, perempuan memang punya kecenderungan sulit sekali membahas hal yang bersifat spasial, seperti membaca peta atau arah. Nah, demi memuaskan (ceileh…memuaskan) rasa penasaran atas fenomena itu, selama 3 hari ke belakang saya sempatkan membaca buku yang cukup familiar di kalangan homo sapiens seantero dunia (OK, fiks, lebay :mrgreen: ). Buku tersebut adalah Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps: How We’re Different and What to Do About It? karangan Allan dan Barbara Pease.

Kesan saya selama dan pascamembaca buku ini adalah menggemaskan. Kadang senyum-senyum ngenes sendiri. Kadang tertegun dan lantas bergumam “oooh”. Kadang juga tersenyum licik karena merasa berhasil mendapatkan trik bagaimana “menaklukkan” (dalam tanda petik) “ke-absurd-an” (dalam tanda petik lagi) para manusia berjenis kelamin perempuan.

Buku ini mengulas beragam sudut pandang namun semua berangkat pada hasil riset, terutama hasil tentang aktifitas gelombang otak. Ya, di buku ini dijelaskan otak kanan, otak kiri, dsb, dsb. Riset yang digunakan umumnya digunakan dengan metode pemasangan alat MRI (Magnetic Resonance Imaging) pada sampel riset dan membaca aktifitas gelombang otak pada suatu aspek kehidupan yang spesifik, misal berbicara, mengeluarkan emosi, dsb. Juga dibahas perbedaan aktifitas otak antara laki-laki dan perempuan ketika melakukan hal yang sama.

Saya merangkum beberapa kutipan yang cukup menohok dalam buku ini pada Twitter (bukan promosi ya, mz/mb), berikut kutipannya:

dll… (follow aja Twitternya buat kelanjutannya, siapa tau kita cocok  :mrgreen: )

Kritik saya pada buku ini adalah kosakatanya yang beberapa kadang cukup “asing” dan ilmiah. Kadang ketika malas mencari padanannya di kamus, saya malah menafsirkan kosakata tersebut dari keseluruhan kalimat. Jujur, cara ini lebih hemat waktu ketimbang buka kamus. Mungkin ini karena faktor kelemahan saya sendiri yang masih perlu memperkaya kosakata :mrgreen:.

Terakhir, buku ini cukup recommended untuk rekan-rekan yang ingin mengetahui natural state of women alias tabiat umum wanita. Walaupun secara kasuistik ada beberapa yang bersifat anomali. Saya sendiri bahkan mendapati teman saya yang notabene berjenis kelamin perempuan punya kemampuan spasial yang hebat. Sekali lagi ini kasuistik. O ya, buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca bersama bukunya John Gray yang berjudul Men Are From Mars and Women Are From Venus. Kedua buku tersebut, menurut saya, bersifat komplementer alias saling melengkapi. Ibaratnya jika buku Allan dan Barbara Pease menjelaskan “keadaan” sedangkan bukunya John Gray lebih kepada “cara mensiasati keadaan” agar interaksi antara laki-laki dan perempuan makin langgeng. #eh

Ada aqua komentar dari rekan-rekan? :mrgreen:

Iklan

7 pemikiran pada “[Review] Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps

  1. Belum pernah baca euy. Jadi ndak biasa komen soal isi bukunya.
    Tapi jadi ingat pas kmrn ikutin GPS googmaps. Malah nyasar. Harusnya cuma daerah belakang Karnos Film (kamu pasti tahulah ya) eh malah ke Depok kota. Hahahaha.

    Akhirnya kita tanya deh. Jadi pembelajarannya. Jangan percaya googmap. Mending tanya.

    • Wahahaha…lewat belakang karnos film pasti mau hindari macet di cibujunct :v

      Well, kalo saya sih biasanya ga 100% berpatokan GPS, mesti dikombinasi sama nalar (atau intuisi) di jalan karena pernah pengalaman buruk, ikutin GPS tapi mengabaikan nalar, alhasil mau pulang dari MM Bekasi ke arah Cileungsi malah bablas kr Cibitung 😀

      btw, bukunya asik mas, ringan-ringan saja, baca santai 3 hari juga kelar :mrgreen: jadi recommended lah

    • Hahahaha. Pengalaman sama juga yak.
      Itu jalan dah dr cibujunct kok. Sbnrnya trnyata yang dituju itu di blkg Karnos. Malah ke Depok Kota beneran.

      Coba deh nanti cek

  2. saya perempuan dan saya gak bisa baca peta. seriusan! pria lebih jago dalam hal membaca peta, tapi kenapa yaa..klo lagi berkendara para pria gak mau berhenti dan nanya arah ke orang2 sekitar?

    btw, i always think that men and women complete each other, so it’s interesting to know that our differences are those that makes us compatible. oo…and i enjoy reading those 2 books that you mentioned and book from Deborah Tannen (discuss about the same theme). i think the books are kind of funny in the most simplest ways…

    • Jujur, saya pun kalo nyasar, memilih gak nanya orang dulu, mbak..kalo kata bukunya, “for men it is a sign of weakness”, kalo dielaborasi sama buku mars-venus, sesuai dengan bahasan kalo pria itu sejatinya adalah mr.fix it alias kaum penolong, jadi kesimpulannya, masa kaum penolong malah ditolong, kan jadi gimana gitu.hehe

      buku deborah tannen? Wah saya belum baca, sepertinya bagus untuk wawasan dunia laki-laki vs perempuan

      memang buku-buku ini asik, mba walaupun sebenarnya bahasannya berat secara subtansi 🙂

  3. panggil rina aja laah. hehe. okay deh, Mr. Fix It All..sy ga keberatan para pria memberi label itu ke diri mereka. i get the idea of it.

    btw, buku2nya Deborah Tannen lbh ngebahas komunikasi antara pria-wanita dr arah linguistik. singkatnya seh; men-women communicate differently yet we need to understand each other effectively. or yeah..something like that 😀

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s