Kritik untuk Situs-Situs (yang Katanya) Islami

sumber: sparkminute.com

Oleh: Ardi Wahyudi*

Saat ini, ketika internet sudah bukan menjadi barang mewah lagi, semua informasi bisa tersaji dengan instan dan semudah menatap layar perangkat gawai. Kesempatan inilah yang  dimanfaatkan semua pihak untuk bisa “bersaing” memberikan informasi apapun, sebanyak dan seluas mungkin selama jaringan internetnya masih ada.

Kesempatan ini pula yang dimanfaatkan oleh beberapa pihak yang mengelola situs-situs yang membagikan berita Islami. Dakwah dengan teknologi informasi istilahnya. Namun keberadaan situs-situs tersebut bukan berarti tidak menyisakan celah kekeliruan. Penulis mendapati cukup sering “situs-situs islami” tersebut melakukan kekeliruan yang identik “itu-itu aja”.

Pertama, yang ingin saya garis bawahi bahwa saya tidak menyebut “situs-situs islami” itu sebagai situs berita. Sudah rahasia umum bahwa kantor berita, baik cetak maupun elektronik, memiliki kantor fisik, susunan redaktur, editor, dan wartawan. Pengamatan penulis, TIDAK SEMUA “situs-situs islami” yang kadung disebarkan di medium sosial media seperti Facebook atau Twitter punya informasi yang jelas akan hal ini. Lantas mengapa BEBERAPA “situs-situs islami” tersebut bisa menamakan diri bahkan membuat tagline seperti halnya situs berita “beneran”? Jawabannya adalah karena kemudahan teknologi dan biaya yang terjangkau. Membeli alamat situs (domain) bisa sangat murah, ada yang menjual dengan harga puluhan ribu saja dengan durasi tayang per tahun. Apalagi domain tersebut biasanya hanya “nempel” di mesin blog gratisan milik Google yakni Blogger. Sehingga hanya dengan kemampuan membuat blog dan biaya domain yang relatif murah, siapa saja bisa dengan mudah membuat situs-situs yang terkesan seperti situs berita, termasuk dalam hal ini “situs-situs islami”.

Apakah salah membuat situs tersebut? Tentu saja tidak selama tidak melanggar norma dan hukum positif, setiap orang sangat bebas mengkreasikan hal tersebut. Akan tetapi, seperti yang saya singgung di paragraf kedua, bahwa ada “kekeliruan kolektif” oleh BEBERAPA “situs-situs islami” tersebut.

Kekeliruan itu adalah “penyakit copas” dan “kemalasan kroscek”.

Copas atau copy paste adalah penyakit kronis dalam dunia kepenulisan, khususnya di dunia maya. Setidaknya itu yang saya cermati sejak awal mengenal dunia blog dari tahun 2009. Copas hanyalah semudah Ctrl+C dan Ctrl+V. Tidak semua copy paste itu “haram”. Tapi tentu kita tahu, situs berita “beneran” menulis beritanya sendiri melalui wartawan dan editor-nya. Paling banter ya kutip berita asing atau menerjemahkan dari kantor berita asing tapi tetap disampaikan dengan “warna” sendiri. Hal inilah yang SANGAT LANGKA saya temukan di situs-situs islami yang beredar. Semua berita cenderung copas sana-sini. Walaupun dengan mencantumkan sumber, hal itu bisa menjadi hal yang sah-sah saja tapi tetap mengurangi “kegantengan” dari situs-situs islami tersebut. Oh ya, BEBERAPA situs islami ini kan redaksinya gaib . #ups

Berikutnya, adalah “kemalasan kroscek”. Saya sangat menyayangkan kemampuan si admin dalam membuat situs-situs islami yang bagus (secara tampilan) tidak dibarengi dengan kemampuannya mengkritisi suatu tulisan sebelum disalin. “Situs-situs islami” ini dalam beberapa kesempatan seperti petasan bersumbu pendek. Cepat sekali meledak. Reaktif. Ada broadcast picisan saja langsung naik jadi “headline”. Padahal kemudian hari publik yang kritis kadang menertawakan tulisan yang dibagikan karena bersifat ahox eh HOAX :mrgreen:. Ya, pengamatan penulis lagi, artikel-artikel HOAX sangat cepat “naik ke permukaan” alias populer berkat hadirnya “situs-situs islami” ini. #dor

Pertanyaan yang muncul, apakah si admin sebegitu malasnya mengkroscek keaslian suatu berita tulisan? Padahal jelas bertolak belakang salah satu prinsip yang sangat sakral dalam pelajaran fiqh yakni Tabayyun atau kroscek. Kadang penulis ingin sekali bertanya atau mengingatkan admin BEBERAPA “situs-situs islami”. Mengingatkan bukan berarti merasa saya paling benar tapi hanya sekedar bertanya, “Bro, tulisan yang lu share itu sumbernya darimana? Dikritisi gak?”. Dan hal itu seperti akan jadi pekerjaan sia-sia karena BEBERAPA “situs islami” tersebut adminnya gaib. #ups

Kondisi ini diperparah lagi dengan kebiasaan dari “konsumen” “situs-situs islami” tersebut. Konsumen situs-situs ini cenderung mengarah pada suatu entitas masyarakat. Entah karena entitas tersebut salah mengartikan istilah tsiqah atau memang mereka pun setali tiga uang dengan si admin yang malas mengkroscek. Ya, tidak semua memang. Butuh data yang konkret dari sekedar opini tapi penulis bisa menilai ini karena setidaknya itulah yang penulis amati dari beranda Facebook, linimasa Twitter, maupun grup-grup Whatsapp. Celakanya kadang entitas masyarakat inilah yang ikut andil mem-broadcast dan mem-viral-kan tulisan yang belum terverifikasi dari “situs-situs islami” tersebut.

Berikutnya, dunia internet merupakan ladang ekonomi kreatif yang bisa mengalirkan pundi-pundi rupiah asalkan paham tips dan triknya. Oh tidak, tidak. Penulis tidak menuduh bahwa keberadaan “situs-situs islami” tersebut punya fungsi “sampingan” yakni mendulang receh. Hal ini memang berada dalam ranah niat. Ranah yang sangat-sangat dalam yang penulis bahkan harus membelah hati si admin untuk tahu niatnya membuat situs tersebut. Kemudian penulis tersadar itu lagi-lagi adalah hal sia-sia, lha wong si admin kan gaib. #ups

Penutup dari celoteh sayang ini, penulis hanya ingin menyampaikan bahwa umat Islam memang butuh informasi yang berimbang dan mencerdaskan. Untuk menuju hal itu, keberadaan situs-situs alternatif sangatlah dibutuhkan. Oleh karenanya, mbok yo kalo copas artikel diteliti dulu kek. Jangan sampai situs-situs “islami” tercitrakan sebagai database hoax sepanjang sejarah internet . Sekali lagi penulis TIDAK MENILAI seluruh “situs-situs islami” seperti yang dipaparkan di atas tidak berkualitas. Ada beberapa situs yang bagus seperti *sensor*, *sensor*, *sensor*, dll, yang sering penulis baca di waktu senggang atau bagikan di akun sosial media penulis. Namun selebihnya tetap saja ada situs-situs yang kualitasnya tidak seislami alamat situsnya.

*ditulis dengan penuh cinta dan kehangatan serta tidak bermaksud untuk menjatuhkan :mrgreen:

Iklan

11 pemikiran pada “Kritik untuk Situs-Situs (yang Katanya) Islami

  1. Memang harus pandai-pandai memilah apa yang dibaca mas. Gak semua yang ada di dunia online benar hanya karena disebar lewat dunia ini. Mudah2an sih pada menyadari dan menjadikan dunia ini lebih baik.

  2. Intinya kalau mau menulis sesuatu, harus dipastikan betul sumbernya agar tidak menyesatkan pembaca ya Bro. Soalnya informasi yang salah, tapi jadi viral, akibatnya bisa fatal dan sangat menyeramkan. Hiiy. Harus lebih hati-hati lagi nih dalam menulis sesuatu. Secara tidak langsung, tulisan ini mengingatkan saya. Terima kasih!

  3. Setuju, Di! 😀

    Aku pernah baca artikel di situs Islami yang membolehkan pasangan beda agama menikah tanpa dikenai dosa.. Ah, uda ngga bener deh tuh 😦

  4. Buat pembaca juga harus pintar-pintar nyaring mana berita yang bener ama kagak ya.. Soalnya kebanyakan yang ngeshare di medsos itu mereka hanya baca headlinenya aja. Padahal seringnya headline artikel ga nyambung ama isinya.

  5. Sebetulnya tidak bisa digeneralir semua platform Blogger tidak bermutu. Tentu kekurangannya banyak sekali, tetapi terus berupaya melakukan perbaikan baik dari sisi kualitas konten maupun kuantitas postingan. Seperti situs pinopini.com meskipun menggunakan platfom blogger.com tetap berupaya menerapkan konsep kepenulisan yang baik dan tetap verified. Dan masih banyak lagi situs lainnya.

    Siiip. Salam kenal semua.

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s