Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Munara

Belakangan ini nama Gunung Munara cukup santer diceritakan di kalangan penjelajah luar ruang. Gunung ini konon letaknya tidak begitu jauh dari ibukota DKI Jekardah. Dengan bermodal rasa penasaran dan keinginan untuk jalan-jalan, maka di hari libur 1 Mei kemarin, saya menyempatkan diri untuk mampir ke Gunung Munara.

Rute Menuju Munara

Setelah baca sana-sini dan tanya sana-sini, didapatkan hasil bahwa lokasi Gunung Munara berada di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Kecamatan Rumpin sendiri, dalam peta regional Kabupaten Bogor, berada di regional barat, yakni sekitar Kecamatan Parung, Kecamatan Ciseeng, dan sekitarnya. FYI, di Kabupaten Bogor sendiri terdapat tiga regional walaupun belum resmi secara administratif, yakni regional Barat, regional Tengah, dan regional Timur.

Peta Topografi Kabupaten Bogor. Kecamatan Rumpin ada di sekitar kiri atas – sumber: petatematikindo.wordpress.com

Di perjalanan menuju Gunung Munara kemarin, saya menggunakan sepeda motor dengan komposisi 3 kaum adam dan 2 kaum hawa. Titik kumpul kami adalah di kampus UIN Jakarta dan berangkat sekitar pukul 10.00 WIB. Lucunya, ketika awal perjalanan kami sudah berencana menuju Rumpin via Pasar Parung, namun entah karena terlalu asyik menghayati perjalanan, kami malah tersasar hingga Salabenda dan lalu ke Ciampea.

Sesampai di daerah Ciampea, kami sejenak berhenti di masjid setempat untuk melaksanakan ibadah shalat Jum’at. Selepas shalat Jum’at, kami bertanya-tanya ke warga dan disimpulkan bahwa kami salah jalan. Singkat cerita, rute sebenernya pun didapat dan saya menyalakan aplikasi Navitel GPS untuk membantu perjalanan. Ketika saya menyalakan GPS dan plotting lokasi kami di masjid terhadap daerah Rumpin, ternyata benar kami salah arah dan cenderung memutar. :mrgreen: Tahu demikian, saya mending nyalain GPS dari awal.

Rute dari Ciampea menuju Rumpin sudah didapat dan kami melanjutkan perjalanan siang itu. Kondisi Ciampea siang tidak terlalu panas padahal matahari bersinar terik. Singkat kata,kami pun sampai di daerah Ciseeng. Di Ciseeng ada sebuah pertigaan di daerah Putat Nutug, pertigaan ini adalah pertemuan jalur dari Pasar Parung menuju Rumpin dan dari Ciampea menuju Rumpin. Petunjuk jalan cukup jelas, jadi cukup ikuti saja petunjuk menuju Rumpin.

Disini suasana berubah, berdebu dan panas terik. Truk-truk pengangkut pasir berlalu lalang. Ditambah kondisi jalan yang berlubang, sukses membuat kami harus berhati-hati agar tidak kelilipan. Mengenakan masker? Wajib!.

Ternyata daerah Ciseeng dan Rumpin adalah DAS (Daerah Aliran Sungai) Cisadane. Tahu kan, sungai Cisadane? Ya, dalam perjalanan menuju Gunung Munara, lekuk-lekuk sungai Cisadane terlihat jelas. Sayangnya tidak bisa dikatakan indah karena airnya keruh akibat aktifitas bahan galian tipe C, seperti pengerukan pasir dan batu akik kali.

Jalan semakin berliku dan berdebu. Kami melewati sebuah jembatan yang melintasi sungai Cisadane kemudian jalur menanjak dan tikungan putaran hampir 180 derajat. Disini harus selalu jaga jarak dengan truk karena pengalaman saya kemarin, truk bermuatan penuh batu kali hampir “kedodoran” dan mundur kembali, namun untungnya si supir sigap menurunkan transmisinya (downshifting) sehingga tidak kehilangan daya di tikungan yang menanjak ini ditambah dengan jalan yang rusak ini. Namun jeda antara kedodoran dan downshifting truknya sukses bikin saya deg-degan.

Selepas tikungan “horor” tersebut, perjalanan tidak hentinya didominasi ladang dan tampak di kejauhan gugusan bukit karst. Jalan masih tetap rusak disana-sini. Kemudian jalan bercabang dan plang penunjuk jalan menunjukkan belok kiri menuju Leuwiliang dan Jasinga, sedangkan kanan menuju Parung Panjang. Di jalan bercabang ini, ambil jalan yang kanan.

Gunung Munara: Kebun yang Meninggi

Tidak lama, di sebelah kiri jalan akan ada plang bertuliskan “Situs Gunung Munara 1,5 km”. Jalan memasuki pemukiman penduduk. Kondisi jalan cukup baik karena sudah dibeton namun lebarnya hanya cukup untuk satu mobil saja. Tidak lama, kami pun sampai di pintu masuk menuju Gunung Munara. Kami parkirkan kendaraan dan membayar tiket masuk. Tertera tarif di tiket masuk sebesar Rp5000. Entah bagaimana perhitungannya, kami berlima dan tiga motor dikenakan total Rp40.000.

tiket masuk gunung munara

tiket masuk situs gunung munara

Waktu menunjukkan sekitar pukul 14.00 WIB dan suasana disana sangat-sangat ramai. Maklum tanggal merah sehingga parkiran tampak penuh dan mengular. Dari pintu masuk, terlihat puncak karst menjulang dari Gunung Munara. Namun buang dulu ekspektasi Anda tentang suasana pegunungan yang sejuk. Di Gunung Munara, suasana benar-benar panas. Di pintu masuk, ketinggian terukur di Navitel GPS hanya sekitar 113 mdpl (dengan koreksi GPS sebesar 10m).

Ketinggian Pintu Masuk Gunung Munara

Ketinggian Pintu Masuk Gunung Munara

Mengikuti petunjuk jalan, kami menyusuri jalur yang sudah jelas. Pertama akan melewati jembatan bambu di atas sungai. Kemudian jalur semakin menanjak namun gradien kemiringan tidak begitu ekstrem (tidak seekstrem jalur Putri di Gunung Gede ataupun jalur Linggarjati di Gunung Ciremai :mrgreen: ). Suasana jalur cukup teduh dengan kanopi pepohonan dan jika lapar atau haus? Tenang, di sepanjang jalur banyak sekali warung. Untuk harga, tentu saja berlaku hukum permintaan. πŸ˜€ Salah satu rekan saya disana membeli minuman, sebut saja Teh Pu*cuk, seharga Rp8000 saja. πŸ˜€

Akar Gantung Munara

Akar Gantung Munara

O ya, suasana yang panas juga semakin dibuat “panas” dengan banyaknya pengunjung yang berpenampilan seperti hendak nonton bareng Avengers: Age of Ultron. Ya, outfit yang kurang pas dipakai di alam terbuka. Tidak etis saya menyebut seperti apa deskripsinya. Tapi saya yakin jika Anda melihatnya, pasti akan menilai sama seperti saya.

Voila, setelah berjalan dari bawah menuju puncak, dibutuhkan total waktu sekitar 30 menit saja. Itupun cukup santai diselingi banyak istirahat. Sampai di puncak, suasana sangat ramai dan pengunjung menyemut di puncak batu. Jadi, ketika sampai di area puncak, kita harus memanjat dinding batu agar bisa melihat pemandangan seantero Rumpin. Kemarin ketika saya mencoba memanjat, agak tidak leluasa karena pengunjung menumpuk di pucuk puncak batu sehingga tidak bisa berlama-lama karena harus gantian.

Puncak Munara sebelum dipanjat

Puncak Munara sebelum dipanjat

Puncak Munara setelah dipanjat

Puncak Munara setelah dipanjat

Sisi lain puncak Munara

Sisi lain puncak Munara

Pemandangan dari Puncak Munara

Pemandangan dari Puncak Munara

Jepret-jepret sebentar ambil gambar saya pun turun kembali. Tak lupa saya pun mengukur ketinggian dengan Navitel GPS, hasilnya berada di kisaran angka 332 mdpl (dengan koreksi GPS sebesar 15m).

Ketinggian Puncak Munara

Ketinggian Puncak Munara diukur dengan GPS

Ketika menuju pucuk puncak batu tersebut, pastikan gunakan alas kaki yang tidak licin karena pijakan terbatas dan batu cukup terjal ditambah lagi faktor pengamanan yang masih sangat kurang, setidaknya itu menurut saya. Di puncak tersebut memang ada seutas tali namun tidak sampai ke dasar puncak batu.

Saya pun menuruni pucuk puncak batu tersebut dan berpindah ke pucuk berikutnya. Letaknya di belakang warung dan memanjat melewati akar. Dari sini pemandangan terhalang pohon berbeda dengan pucuk sebelumnya.

#Selshoes biar kekinian :p

#Selshoes biar kekinian :p

Pemandangan dari Puncak Munara

Pemandangan dari Puncak Munara

Waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB. Memang ketika jalan-jalan, waktu cepat berlalu. Di Gunung Munara sebenarnya ada dua puncak. Puncak yang saya panjat sebenarnya adalah puncak pertama. Masih ada puncak kedua yang mesti berjalan lagi ke arah yang sudah ditunjukkan, namun kami memutuskan turun dan pulang. Di puncak kedua, nampaknya ketinggian sedikit lebih tinggi, berbeda dengan di puncak satu yang memiliki ketinggian sekitar 332 mdpl.

Di perjalanan turun, saya memutuskan menggunakan metode speed descending (istilah saya sendiri πŸ˜€ ), yakni metode menuruni gunung dengan setengah berlari. Selain lebih cepat, juga membuat lutut tidak menumpu lebih keras. Metode ini tentu punya resiko terpeleset bahkan terkilir. Namun saya cukup percaya diri karena saya memakai sepatu gunung yang teruji di pendakian-pendakian sebelumnya. :p

Sebelum berangkat pulang, kami sempatkan diri shalat Ashar di mushola yang berada di dekat gerbang masuk. Suasana masih saja ramai bahkan beberapa terdeteksi membawa perlengkapan mendaki “beneran”. Nampaknya mereka akan bermalam di atas sana. Perjalanan pulang kami pun memutuskan melewati jalur Parung dan berkumpul kembali di (mantan) kampus tercinta.

Gunung Munara: Alternatif Wisata Terjangkau

Bisa dibilang, Gunung Munara mendapatkan publikasi luas pasca “sindrom film 5cm”. Film yang sukses “menyihir” orang-orang untuk mampir ke alam terbuka. Walaupun sindrom ini punya efek yang tidak begitu baik yakni menghasilkan orang yang hanya modal nekat saja tanpa perlengkapan memadai dan satu hal yang pelik yakni sampah yang dibuang seenaknya. Duh, jadi melenceng gini.

Di Gunung Munara sendiri, kondisi sudah tertata rapi. Namun masukan dari saya adalah segi pengaman diri di puncak batu. Puncak yang terjal dan licin setiap saat bisa saja membahayakan pengunjung yang memaksakan diri memanjat. Selain itu ada baiknya penegasan agar menjaga lingkungan seperti memberikan kantung plastik kepada setiap pengunjung untuk memungut sampah atau paling tidak membuang sampahnya sendiri secara benar. Terakhir, Gunung Munara cocok untuk Anda yang ingin mencari alternatif jalan-jalan yang terjangkau.

Bonus: Tentang Navitel GPS dan Pengukuran Ketinggian

Salah satu misi saya ketika mengunjungi Gunung Munara kemarin adalah ingin membuktikan berapa ketinggian sebenarnya. Alat ukut yang saya gunakan adalah ponsel Android Samsung Galaxy Young jadul dengan aplikasi Navitel GPS. Apakah akurat? Setidaknya sudah saya buktikan di beberapa lokasi seperti puncak Gunung Gede, puncak Gunung Pangrango, puncak Gunung Cikuray, dan dataran tinggi Bandung Selatan. Sehingga saya pastikan bahwa angka yang ditunjukkan tidak melenceng jauh dari sebenarnya.

***

Aku bukanlah pendaki gunung ataulah pecinta alam, aku hanya seseorang yang ingin bersujud dari tempat yang sedikit lebih tinggi dari orang kebanyakan”

Iklan

30 pemikiran pada “Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Munara

  1. Daerah Bogor sebelah ini, masih jarang diekspos ya
    kami baru nymape sebatas Ciampea aja
    jadi gunung Munara ini cocok buat yang mau jajal panjat tebing ya

    • sepertinya iya mbak karena daerah ini lebih populer dengan pasirnya saja dan sedikit kalah saing dengan ciseeng yg terkenal dengan pemandian air panasnya

      kalo untuk panjat tebing nggak juga sih mbak karena belum ada trek climbing vertikalnya… kalo di penjelasan saya di atas, itu hanya sedikit merayap tebing yang untuk mencapainya bisa dengan jalan kaki/hiking pada umumnya πŸ™‚

  2. Tebingnya tinggi banget.. Agak membahayakan yah, Di.. Dan aku setuju banget kalok ke alam terbuka harus pakek pakaian yang semestinya, bukan pakaian buat ngemol πŸ˜€

  3. Motornya dihitung tiga orang juga Mas :haha.
    Wew, medannya agak susah… untuk saya yang suka trip sendirian begini kayaknya susah Mas :hehe, padahal penasaran dengan keindahan di atas sana, pasti bisa 360 derajat ya panoramanya :)).
    Keren sekali! Kayaknya saya juga harus pelan-pelan menyiapkan gear nih supaya tidak salah kostum :hihi.

    • buat jalan-jalan sendirian ok kok, di atas bisa merenung liat-liat panorama πŸ˜€

      kostum sih ya menyesuaikan, asal jangan kayak rombongan orang yg mau nonton bareng age of ultron :mrgreen:

    • Kurang yakin dengan kegiatan merayapnya karena kelebihan berat badan *itu mah derita gw yak* *kemudian didorong dari puncak* :haha.
      Nah, yang rombongan orang mau nonton AoU itu yang bagaimana? Pakai kostum Iron Man? :hihi.

    • haha… optimistis saja bonusnya kalo turunnya bisa ngglinding πŸ˜€

      yaaa, pakaian nge-mall gitu deh… salah kostum hitungannya

  4. Bang saya mau tanya waktu itu sih saya dengan rombongan baru aja naik kesana janjian pagi cuman pada ngaret jadinya sian zzz. Lalu saya melihat tebing dan puncak yang tinggi di sebelah kanan tuh bang.Karena orang” disana juga rame kesana maka kami rombongan newbie pun ikut kesana heheheh. Ada 2 jalur 1 jalur kanan yang susah harus manjat satunya lagi jalur kiri mudah .Kami lewat jalur kanan lalu naik lagi pake tangga kecil dari bambu dan terakhir manjat tebing ke puncak atas. Nah ini nih yang ingin saya tanyakan pas turun kan lewat sisi kanan tuh yang gampang,nah itu ada lagi ternyata jalan ke kiri ke atas nah cuman gara” mendung ga jadi ke atas. Nah itu apa jalan itu menuju ke puncak aslinya apa kitanya emang udah di puncak munara ya?

  5. Mantabs bnget nih.. rute yg dilaluinya masuk daerah sya itu. Kami pernah sepedahan dgn jalur yg disebutkan hngga sampai Rumpin, cma tdk sampai ke Munaranya.. udah letoy soalnya. πŸ˜€

  6. Mohon advice. Tahun 2012 Kaki kiri saya pernah patah Dan ankle nya lepas. Tapi sekarang sudah kembali bisa beraktivitas. Nah apakah kondisi kaki yg pernah cidera seperti saya ini direkomendasikan buat bisa naik gunung. Please advice. Thank

    • saran terbaik saya, agan mesti konsultasi ke dokter apalagi punya riwayat cedera berat apalagi naik gunung butuh kaki yang “solid” πŸ™‚

  7. Untuk Situs Petilasan Gunung Munara memang banyak lokasi yang bagus karena di sana bukan hanya Puncak pertama yaitu Puncak Pengamatan ( menurut saya hehehe ) karena disana ada juga yang nama nya Batu azan, Goa Tapa Bung Karno, juga Batu Bangkong ( batu yang mirip Kodok besar kalo di liat dari kejauhan ), nah batu Bangkong itulah puncak kedua dari Gunung Munara

  8. Ping balik: Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Papandayan | ardiologi

  9. Ini mirip Gunung Lawe di Banjarnegara. Ooh baru tau kalau cara turun dengan sedikit berlari, kemarin lututku sakit banget mungkin karena beban yang tertumpu pada lutut kali ya?

  10. Ping balik: Main Air di Curug Kembar Bogor | ardiologi

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s