Main Air di Pantai Ujung Genteng Sukabumi

Halo, apa kabar, lads? Setelah sebelumnya basah-basahan karena Main Air di Curug Leuwi Hejo, keesokan harinya, 19-20 Juli 2015, saya lanjut perjalanan menuju pantai Ujung Genteng, Kabupaten Sukabumi. Apa abis ngetrip lanjut ngetrip lagi? Ya, betul. Mumpung masih suasana liburan dan kocek masih (agak) cukup, maka saya dan rombongan dari Curug Leuwi Hejo kemarin ditambah satu rombongan baru berangkat menuju Pantai Ujung Genteng.

Pantai Ujung Genteng

Pantai Ujung Genteng dari Google Maps

Dilihat diraba diterawang dari peta, Ujung Genteng benar-benar berada di ujung selatan Kabupaten Sukabumi dan selebihnya laut lepas nan aduhai di Samudera Indonesia sana. Meskipun jauh tapi kami tetap berangkat. Toh, esensi berwisata kan berlelah-lelah di jalan, bersenang-senang di tujuan. :mrgreen:

Total rombongan yang ikut sebanyak 13 orang dan semua menggunakan sepeda motor berbagai merk dan jenis. Titik start perjalanan dari rumah saya di Gunung Putri, Bogor.

Trip to Ujung Genteng dari Gunung Putri Bogor

Rute Ujung Genteng Sukabumi dari Gunung Putri Bogor

[19/07/2015, 01.00 – 02.00 WIB] Gunung Putri – Warung Jambu, Kota Bogor

Perjalanan yang nyaris dari utara ke selatan. :mrgreen: Perjalanan kami mulai pukul 01.00 WIB. Dari Gunung Putri kami bablas menuju Cibinong via Jalan Mayor Oking lalu sambung ke Jalan Raya Bogor. Jalanan lancar jaya meskipun tidak kosong. Mungkin ini faktor malam minggu sehingga masih banyak yang gentayangan ataupun nongkrong-nongkrong cantik di pinggir jalan. Entah ngapain.

Ketika di daerah Warung Jambu, Kota Bogor, perjalanan terhenti karena ada salah satu motor yang bannya bocor. Kamipun berhenti untuk menunggu motor ditambal hingga nyaris 30 menit.

[19/07/2015, 02.30 – 03.30 WIB] Kota Bogor – Pertigaan Cibadak-Pelabuhan Ratu, Sukabumi

Jalan raya Sukabumi semenjak dari Ciawi sangat lengang sehingga kami bisa cukup cepat melaju. Perjalanan dari Ciawi – Caringin – Cicurug – Parung Kuda tidak ada hambatan berarti. Hanya saja ketika memasuki Parung Kuda, jalanan dipenuhi kabut sehingga pemandangan jalan sangat eksotis sekaligus dingin. :mrgreen: Hingga menjelang pertigaan Cibadak-Pelabuhan Ratu kabut semakin tebal.

Saya yang saat itu ada pada posisi paling depan mulai berbelok kanan ke arah Pelabuhan Ratu. Baru sekitar 10 menit melaju, ponsel berdering dan ternyata setengah rombongan terpisah. Mereka tidak ikut belok kanan tapi malah lurus ke arah Kota Sukabumi. Setelah coba menelepon dan baru agak lama diangkat, kami putuskan untuk bertemu di daerah Pelabuhan Ratu sehingga menggunakan rombongan yang terpisah tetap melalui Kota Sukabumi sedangkan rombongan saya melanjutkan via Cibadak ke arah Cikembang.

[03.30 – 04.30 WIB] Pertigaan Cibadak – Masjid Daerah Bagbagan, Pelabuhan Ratu

Kabut semakin tebal dan jalur berkelok naik-turun, cukup memberikan sensasi tersendiri. Meskipun sebagian besar jalur belum ada lampu jalan. Jalan yang gelap hanya bisa dibantu dengan penerangan dari rumah atau warung penduduk di pinggir jalan. Jalan aspal yang mulus membuat perjalanan lancar walaupun kantuk sudah mulai menggelayut di kelopak mata. Untung saja sampai tidak ada yang ketiduran. Saya sendiri sebenarnya agak mengantuk tapi “diselamatkan” oleh lengan jaket yang tidak menutup sempurna sehingga rasa dingin yang merasuk ke relung hati tubuh bisa mengusir kantuk.

Jalan cukup membosankan karena terukur hampir 30 km menuju arah Pelabuhan Ratu. Tidak terasa, azan Shubuh sudah berkumandang, kami pun menepi ke sebuah masjid di daerah Bagbagan, Pelabuhan Ratu. Setelah sholat shubuh kami memutuskan untuk tidur.

Sekitar pukul 06.30 WIB, saya terbangun karena sakit perut, πŸ˜€ mungkin faktor diterjang kenangan angin ketika perjalanan. Cukup kaget ternyata rombongan yang terpisah dan melewati Kota Sukabumi, sudah tiba di masjid yang sama padahal kami tidak janjian. Ketika saya bangun, mereka sedang tidur.

[19/07/2015, 07.30 – 08.30 WIB] Bagbagan, Pelabuhan Ratu – Warung Makan di Jalur Surade

Setelah semua terbangun dari masa lalu tidur, kami melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan sudah semakin ramai oleh aktifitas penduduk lokal serta wisatawan yang menuju arah Pelabuhan Ratu. Rombongan kami tidak bisa melaju cepat, tertahan di kecepatan rata-rata 40 km/jam.

Setelah melewati jalur Bagbagan, kami belok kiri ke arah Kiara Dua – Jampang Kulon – Surade. Petunjuk jalan cukup jelas. Tertulis juga jarak menuju Ujung Genteng masih sejauh 77 km lagi. ➑ Jalur semakin menantang karena mulai menanjak ke arah perbukitan yang berkelok-kelok. Semakin “seru” karena jalan berada di pinggir bukit dengan jurang di sebelah kanan yang hanya dibatasi oleh marka jalan tanpa guard rail. Disini harus penuh konsentrasi dan jangan lengah. Beruntung jalur masih didominasi aspal mulus di beberapa kilometer pertama. O ya, disini tidak ada SPBU jadi pastikan bahan bakar sudah mulai diisi sejak pertigaan Bagbagan karena SPBU selanjutnya sangat jauh. Memasuki daerah Kiara Dua, kami disuguhi pemandangan kebun teh. Cukup sejuk dan menyegarkan mata karena pemandangan sebelumnya cukup membosankan hanya aspal rusak dan jurang serta titik-titik jalan yang longsor.

Jalur Jampang Kulon - Surade

Jalur Jampang Kulon – Surade

Karena perut belum terisi, kamipun mampir di warung makan pinggir jalan untuk sarapan. Menu yang tersedia pun tidak begitu menggembirakan. Namun karena lapar, maka tetap saja habis. :mrgreen: O ya, semenjak dari warung makan ini, kondisi jalan sudah mulai dipenui aspal yang rusak dan tidak rata.

Warung Makan di Surade

Warung Makan di Jampang Kulon

[19/07/2015, 09.00 – 12.00 WIB] Warung Makan – Pintu Masuk Ujung Genteng

Perjalanan kembali berlanjut, jalanan semakin rusak. Ketika menjelang masuk daerah Jampang Kulon, dua motor kami dicegat oleh orang di pinggir jalan. Ternyata mereka dipalak sebesar Rp10.000 dengan alasan uang partisipasi acara setempat. Modus “perampokan” ini ternyata sama persis dengan yang saya alami ketika touring ke Pantai Sawarna Agustus 2014 lalu, bedanya saya mengalami di Jalur Cikidang, Sukabumi. Hmmm, sebuah hal buruk yang mesti diperhatikan pihak berwenang di Kabupaten Sukabumi.

Ini Jalan Kami, eh, Ini jJalan Kabupaten, ding :D

Ini Jalan Kami, eh, Ini Jalan Kabupaten, ding πŸ˜€

Memasuki daerah Jampang Kulon, jalan sudah kembali mulus sehingga kecepatan bisa ditambah. Memasuki daerah Surade, jalan sudah macet oleh aktifitas penduduk dan juga wisatawan. Cukup melelahkan karena lokasi pantai masih jauh ditambah cuaca panas dan diperkaya lagi dengan kemacetan-kemacetan yang aneh. Aneh karena penyebabnya sepele, misal angkot yang ngetem atau SPBU yang antri, tapi imbasnya lalu lintas di jalan raya terhambat. Perjalanan semakin malas diceritakan karena cukup membosankan dan ya, itu, panas pol.

Dengan berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan didorong oleh keinginan yang luhur, kami pun sampai di pintu masuk pantai Ujung Genteng. Tiket yang ditagih sebesar Rp8000 namun anehnya ketika kami baru mengeluarkan uang Rp5000 sudah dipersilakan masuk. Entah mana yang benar untuk tarif masuk.[19/07/2015, 12.00 – 13.00 WIB] Pintu Masuk – Lokasi Pantai Ujung Genteng
Ternyata setelah pintu masuk, lokasi pantai masih sangat jauh. Meringis bener dah. Cuaca panas membuat kami semakin cepat memacu motor. Hingga hampir 10 km ke depan baru kami temukan garis pantai Ujung Genteng. Disini ada pertigaan jika ke kiri ke arah pelelangan ikan sedangkan kanan ke arah Pantai Pangumbahan yang disana terdapat banyak homestay dan juga ada lokasi konservasi penyu dan tiap sore hari ada acara pelepasan tukik (anak penyu) ke laut.

Tempat Pelelangan Ikan Ujung Genteng

Tempat Pelelangan Ikan Ujung Genteng

Kami langsung menuju arah pantai Pangumbahan, ternyata disini kami kembali dipalak. Setelah berdebat, tiketpun didiskon. Lagi-lagi catatan minus tempat wisata yang sering terjadi.

Setelah berputar-putar mencari homestay dengan harga yang cocok, akhirnya kami dapat di pinggir jalan ke arah menuju lokasi penangkaran penyu. Sebuah rumah yang mirip type 48. Cukup luas dengan 2 kamar tidur, ruang, tengah, dan ruang tamu.

Kami pun langsung memarkirkan motor. Setelah shalat dzuhur dan ashar yang dijamak, kami beristirahat. Sekitar pukul 15.00 WIB ketika cuaca mulai mendingan, sebagian dari kami memilih tidur dan sebagian lain, termasuk saya, menuju ke arah pantai untuk main air.

Pantai Ujung Genteng

Pantai Ujung Genteng

Cukup mengecewakan karena pantainya cenderung dipenuhi karang dan sangat sedikit lokasi yang renang-able. Akhirnya kami berjalan menyusuri bibir pantai ke arah pantai Pangumbahan dimana terdapat lokasi konservasi penyu. Ketika memasuki pantai Pangumbahan, ada tembok besar yang menjorok ke laut untuk membatasi pantai berpasir dengan pantai yang didominasi karang. Kami pun menyeberangi tembok tersebut dengan mudahnya karena laut sedang surut.

Ketika asyik bermain air, kamipun dihampiri petugas dan menyatakan bahwa kami harus bayar ketika memasuki pantai Pangumbahan. Jujur, ini adalah lokasi wisata yang sangat menyebalkan karena loketnya berlapis-lapis. Namun kami tidak begitu menggubris permintaannya dan lanjut bermain air (jangan ditiru ya, gaes). Ketika hari mulai gelap kami menyurusi kerumunan dan ternyata sedang ada acara pelepasan sekitar 150 tukik yang baru menetas satu malam sebelumnya. Tukik ini dilepas untuk memulai kehidupannya dan mencari jalan ninja sendiri. Cukup bisa dimaklumi jika penyu harus dijaga populasinya karena wilayah pantai tempat penyu bertelur sudah mulai ramai oleh aktifitas manusia. Ditambah lagi tukik sangat rentan dengan predator akuatik macam ikan besar maupun predator terestrial seperti elang ataupun biawak.

Matahari mulai tenggelam, kami memutuskan kembali ke homestay dengan jalur yang berbeda.

Ketika setelah membersihkan diri, kami kembali ke penginapan dan malam harinya memesan ikan salem bakar seharga Rp25.000/kg dengan nasi seharga Rp20.000/liter.

Setelah puas makan, kami lanjut beristirahat namun menurut penuturan pemilik homestay, kami harus menjaga motor yang terparkir. Alhasil, kami harus siaga bergantian menjaga motor tiap 1 jam.

[20/19/2015, Masih di Ujung Genteng]

Pagi menjelang, sebagian dari kami ada yang main air, terutama yang kemarin belum sempat main air karena tidur. Saya pun memilih bermain uno sambil menunggu giliran mandi. Kami putuskan untuk pulang pukul 09.00 WIB. Suasana masih ramai. Kami bahkan mendapati sebuah bus kecil yang bannya amblas di pasir. Para pedagang ikan pun mulai ramai menjajakan hasil tangkapan. Paling mencolok adalah tangkapan cumi-cumi yang berukuran cukup besar dan rasanya kalo dimasak jadi Cumi Asam Manis bakal mantap. #ngiler

Gerbang Pantai Pangumbahan

Gerbang Pantai Pangumbahan

Piknik harus berakhir karena kami tidak mau sampai Bogor terlalu malam. Di perjalanan kami menemui kecelakaan yang sangat miris. Sayapun merasa ngilu dan mual ketika melihatnya, dimana ada dua motor yang bersemperetan. Satu motor adalah ibu dengan anak perempuan dan satu lagi disinyalir adalah salah satu motor yang sedang touring. Si anak tidak sadarkan diri, semoga tidak apa-apa 😦 dan si ibu mendapatkan luka fatal di kaki kanannya. Saya tidak tega menceritakannya disini. Pesan untuk semua, berkendaralah dengan pola pikir yang dewasa dan mengutamakan keamanan bersama. 😦

Perjalanan pulang pun sama menyebalkan dengan berangkat. Perjalanan pulang pun kami putuskan tidak melewati Bagbagan tapi melalui Jalur Cikidang yang artinya kami harus melewati alun-alun Pelabuhan Ratu. Lagi-lagi, semakin menyebalkan karena sedang ada rekayasa lalulintas dan jalur dibuat satu arah. Bahkan di satu titik jalur ditutup.

Akhirnya kami masuk Cikidang setelah berputar. Jalur Cikidang ternyata sangat ramai oleh wisatawan yang menuju arah Pelabuhan Ratu baik dengan mobil maupun motor. Bahkan di daerah perkebunan sawit, banyak masyarakat lokal yang sekedar piknik di rimbunnya rumput dan pepohonan pinggir jalan.

Singkat cerita, kami berhasil keluar jalur Cikidang dan kembali masuk Jalan Raya Sukabumi arah Ciawi. Lalu lintas sangat macet dan di Cicurug kami memutuskan berpisah menjadi dua rombongan. Saya termasuk rombongan yang memilih berpisah dan pulang duluan. Jalur pulang kami pilih melewati jalur alternatif Cigombong menuju Batu Tulis, Kota Bogor lalu tembus hingga Kebun Raya Bogor. Ternyata tetap saja macet. Skip, skip, skip, kami pun sampai di Gunung Putri sekitar pukul 20.00 WIB.

Dibuang Sayang

Seperti posting sebelumnya, ada beberapa hal yang amat sangat disayangkan, antara lain:

  • Adanya “rampok” yang meminta paksa uang Rp10.000/motor di jalur Surade, Sukabumi. Ini tentu sangat meresahkan. Baiklah jika itu adalah sumbangan, kenapa bersifat memaksa dan harus Rp10.000? Semoga ada perhatian dari pihak terkait.
  • Isi bensin sebelum memasuki jalur Jampang Kulon-Surade. SPBU terakhir berada di dekat pertigaan Bagbagan-Jampang Kulon. SPBU baru ada lagi di daerah Surade.
  • Pintar-pintar bernegosiasi dan siapkan energi lebih untuk berdebat jika diperlukan.
  • Pantai disini tidak “seindah” pantai Sawarna karena banyak sekali karang sehingga tidak leluasa untuk main air ditambah banyak perahu nelayan.
  • Pantai ini berada di laut selatan yang notabene menghadap Samudera Indonesia yang terkenal akan ombak dan arus yang kuat. Jika angin dan ombak sedang kencang, jangan paksakan untuk berenang.
  • Jika memungkinkan, bawa makanan atau minuman, terutama air putih karena harganya relatif kurang bersahabat.
  • Utamakan safety riding.

Demikian catatan panjang ini, semoga berguna. Jika ada pertanyaan, silakan ngariung di kolom komentar. :mrgreen:

Selamat berlibur dan jangan lupa bahagia. πŸ™‚

Iklan

14 pemikiran pada “Main Air di Pantai Ujung Genteng Sukabumi

  1. Loket-loket dengan pungutan siluman itu tentunya harus jadi perhatian khusus bagi pemerintah setempat, Bro. Mengherankan bisa banyak sekali pungutan untuk berkunjung ke satu tempat wisata saja. Tapi kalian keren sekali! Touring memang sesuatu yang seru banget, saya banyak mendengar cerita teman yang touring ke Ujung Genteng serta Sawarna dan di sana memang bagus dan asyik banget kegiatannya :hehe. Kayaknya suatu hari saya mesti ngikut nih :mrgreen:.

  2. Gak usah didebat om,berdasarkan pengalaman…kalo ketemu retribusi liar macem itu tinggal ngaku aja orang plabuhan ratu,pake logat sundanya jangan lupa (contoh “anjing” di ucapkan “anying”).
    Kalo di plabuhan ratu nya tinggal senyumin petugasnya bilang aja mau pulang kampung,jangan lupa sebutin daerahnya misal :badak putih,ranca bungur,patuburan,dsb

    Di plabuhan ratu,Kalo lu berpenampilan putih dan ganteng kayak gue πŸ˜€ tinggal ngaku keluarganya mantan gue,jangan kan retribusi,masuk ke SBH atau pun cipanas yg arah cisolok itu gratis…hahaha

  3. mas ardi fotoin temennya yang lagi ngegas motor keren ya, motoin sambil bawa motor, multitask banget. kalo dihitung-hitung berapa jam perjalanan tuh? gak tepos bokongnya? ditambah panas lagi, kayaknya kalo aku suruh bawa motor sejauh itu lebih banyak ngeluhnya dibanding duitnya *emang*

    • Oh, itu mah yang dibonceng yang ambil gambar

      Berangkat rata-rata 9 jam, tepos? Aduh tepos berat ini, apalagi ditambah saya bawa motor Sa*tria FU yang notabene bukan motor touring, alhasil udah kaya hulk ini tangan πŸ˜€

      kalo niatnya turing sih sepegel apapun dijabanin, apalagi kalo niatnya mau ngelamar pujaan hati, mungkin mau panas-badai, dorong motor, bablas terus πŸ˜€

    • “kalo niatnya turing sih sepegel apapun dijabanin, apalagi kalo niatnya mau ngelamar pujaan hati, mungkin mau panas-badai, dorong motor, bablas terus :D”
      amin, semoga dikabulkan! πŸ˜€

  4. Jadi pingin ikutan touring, kayak nya seru kalo rombongan rame2 gitu. Selama ini selalu berpapasan ama rombongan touring kalo lagi jalan tapi blm ada niat nyobain hehehe

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s